Jumat , 24 Maret 2017
Breaking News
Home » HEADLINE » Indonesia Targetkan 6.229 Publikasi Ilmiah Internasional Terindeks Scopus

Indonesia Targetkan 6.229 Publikasi Ilmiah Internasional Terindeks Scopus

2

PANGKALANBARU (UBB) — Publikasi ilmiah dari peneliti Indonesia di jurnal internasional bereputasi dan terindeks di Scopus ‘kalah’ banyak dibanding Malaysia, Singapura dan Thailand.

Tapi Indonesia optimistis mampu mengejar. Sebab negara ini punya 4.264 perguruan tinggi (PT), 232.413 dosen, sekitar 15.000 peneliti di luar PT, dan 5.100 profesor.

Belum lagi Kemenristekdikti telah mencadangkan dana sekitar Rp 1,5 triliun, serta sejumlah insentif bagi peneliti yang karya ilmiahnya dimuat di jurnal internasional terindeks Scopus.

Demikian antara lain tersimpul dari Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti Prof Ocky Karna Rajasa PhD yang tampil sebagai pembicara tunggal di ‘workshop’ Penulisan Proporsal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di Ruang Tanjung Kelayang, Hotel Santika Bangka, Rabu (07/09/2016).

“Tahun ini, Kemenristekdikti telah menargetkan 6.229 publikasi internasional di jurnal yang bereputasi dan terindeks di Scopus,” tukas Ocky, yang meraih gelar PhD dari Universitas Tokyo, Jepang, tahun 2001 ini.

Diakuinya, target 6.229 publikasi ilmiah yang terbit di jurnal internasional itu memang bukan perkara mudah untuk mencapainya.
“Tapi kita ‘kan punya 5.100 profesor. Kalaulah tiap profesor menghasilkan satu publikasi ilmiah saja di jurnal yang terindeks Scopus, menjadi ringan lah tugas saya. Artinya ada 5.100 publikasi,” ujar Ocky, yang memiliki delapan jurnal ilmiah internasional.

Sisanya, sekitar 1.200 artikel ilmiah lagi, akan ia peroleh dari 15.717 penelitian yang saat ini didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat.

“Bila semua itu berjalan baik, beres sudah tugas saya mencapai target itu,” ujar Ocky, yang masih tercatat sebagai dosen Undip, Semarang .
Disebutkannya, mengacu kepada kebijaksanaan makro riset dan pengembangan (Risbang) 2016, ada empat indikator pencapaian.

“Yaitu, publikasi internasional 6.229 artikel ilmiah, 1.735 paten terdaftar, 632 prototipe dan tingkat ketersediaan teknologi (TRL), dan 15 prototipe industri TRL,” ulas Ocky, dalam ‘workhop’ yang dibuka Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi.

Diakui Ocky, Indonesia terus berjuang untuk meraih posisi di peringkat Asean. Sebab, saat ini selain kalah banyak dalam publikasi internasional, jumlah hak paten pun Indonesia di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

“Demikian pula peringkat paten. Paling merajai adalah Korea. Disusul Malaysia, Singapura, dan Thailand. Tapi Indonesia masih di atas Vietnam dan Filipina,” ujar Ocky dalam ‘slide’ berjudul ‘Kebijakan Riset dalam Mendukung Daya Saing Bangsa’.

Saat ini peneliti Malaysia telah mempublikasikan 25.000 penelitiannya di jurnal ilmiah internasional terindeks Scopus. Sedangkan dari Indonesia, menurut Ocky, ada 5.200 publikasi ilmiah di jurnal internasional terindeks Scopus.

Dari 25.000 publikasi ilmiah Malaysia, lanjut Ocky, di antaranya karya peneliti atau dosen Indonesia yang ‘pindah’ ke Malaysia.

“Brain drainer kita namakan begitu, di Malaysia mereka melakukan penelitian dan memublikasikannya. Seorang ibu, yang adalah ‘brain drainer’, kepada saya mengatakan: ‘Pak Ocky tahu ‘nggak, dari 12 artikel (ilmiah) terbaik di Malaysia itu, delapan di antaranya merupakan karya peneliti kita (Indonesia),” ujar Ocky.

Ada sejumlah faktor yang ‘mendorong’ peneliti dan dosen Indosia berkarir ke Malaysia. Saat ini lanjut Ocky, ada sekitar 5.000 ‘brain drainer’ Indonesia berkarir di luar negeri. Ia telah merencanakan 10 orang di antaranya untuk membangun ekosistem penelitian di sini.

“Kita berikan ‘lah dana penelitian cukup besar. Tapi itu semua belum bisa dilaksanakan karena ada kebijakan pengurangan dana kemenristekdikti,” ujar Ocky.

Meski begitu ada kabar gembira bagi peneliti Indonesia. Menyusul keluarnya Permen No 42 tahun 2016 dan Permenkeu No 106 tahun 2016, maka terhitung tahun 2017 peneliti tidak disibukkan lagi membuat laporan keuangan penelitiannya.

“Sejak 2017, tidak ada lagi pelaporan keuangan riset. Tahun depan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) berbasiskan ‘output’. Tapi ‘output’ akan saya kejar sampai ke ujung dunia. Janji-janji membuat publikasi, buku ajar, bahan ajar itu, akan saya kejar. Bila perlu itu diwarisi,” tegas Ocky.

Banyak perubahan dalam tatalaksana penelitian. Bila dulu kegiatan penelitian masuk ke dalam materi Keppres No 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa (B/J), terhitung 2017 tidak masuk dalam pengadaan B/J.

“Kita telah merevisi Keppres No 54 tahun 2010 dengan menambah satu bab, yaitu bab 11. Di situ disebutkan penelitian tidak dalam pengadaan barang dan jasa,” ujar Ocky.

Menurut Ocky, dengan terbitnya UU Paten pada tanggal 26 Agusutus 2016 banyak keuntungan diperoleh peneliti dan pengurusan hak patennya.

Waktu mengurus hak paten lebih mudah dan kalau dapat hak paten: biaya pemeliharaannya selama lima tahun. Peneliti empunya paten sudah bisa menikmati royalti sebesar 40 persen. Sebesar 60 persen lainnya milik lembaga.

“Sudah ada buktinya. Royalti sebesar Rp 800 juta per bulan belum lama ini diterima peneliti sebesar 40 persen, dan 60 persen diserahkan ke lembaga tempat ia bekerja,” tegas Ocky.

Dalam workshop yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UBB, Ocky pun memaparkan kertas kerja bertajuk ‘Publikasi Ilmiah dan Scientific Misconduct’. Workshop dihadiri semua pimpinan di lingkungan UBB dan dosen ini diawali laporan dari Ketua LPPM Budi Afriyansyah SSi MSi (eddy jajang jaya atmaja).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*