Minggu , 21 Oktober 2018
Breaking News
Home » HEADLINE » “MENEPUK AIR DIDULANG, KEPERCIK MUKA SENDIRI”

“MENEPUK AIR DIDULANG, KEPERCIK MUKA SENDIRI”

ROMLAN
PIMPINAN REDAKSI KABARBANGKA.COM

Belum lama ini publik dan masyarakat Bangka Belitung sempat dihebohkan, dengan terbongkarnya peredaran pupuk yang diduga palsu dan pupuk kedaluwarsa, oleh Tim Satgas Pangan Provinsi Bangka Belitung. Buntutnya, the big boss tiga perusahaan distributor pupuk palsu dan/atau pupuk kedaluwarsa itu harus berurusan dengan aparat dan proses hukum.

Ketiga terdakwa kasus pupuk palsu itu adalah Edi Wem alias Akon (CV Elizabeth), Handrianto Tjong alias Ahan (PT Setiajaya Makmurindo), dan Suk Liang alias Aleng (PT Ligita Jaya). Ketiganya dijerat dengan Pasal 60 ayat 1 huruf f dan i UU RI No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang ancaman pidananya 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta. Selain itu, dijerat juga Pasal 62 ayat 1 jo Pasal 8 ayat 1 huruf a dan e UU RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman kurungan penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 2 miliar.

Perkara pupuk tidak layak edar itupun terus bergulir hingga ke persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang. Tiba di persidangan, ketiga terdakwa yang terbukti bersalah telah merugikan para petani di Babel ini, dituntut dengan hukuman 5 bulan penjara dan denda Rp 5 juta, Subsidair 3 bulan penjara. Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Babel itu dibacakan dimuka persidangan yang digelar hari Selasa (10/10/2017) lalu.

Menurut informasi dari sejumlah sumber, tidak lama berselang atau dua hari berikutnya, Kamis, (12/10/2017), perkara pupuk palsu dan tidak layak edar itu dikabarkan sudah vonis. Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut diketuai Surono, menjatuhkan vonis terhadap ketiga terdakwa dengan hukum penjara selama 2 bulan 20 hari, dikurangi selama masa tahanan yang sudah dijalani terdakwa, dan pidana denda Rp 5 juta Subsidair 3 bulan penjara.

Ringannya tuntutan jaksa dan vonis majelis hakim atas perkara itu, langsung membuat heboh masyarakat Bangka Belitung. Berbagai dugaan dan asumsipun mengemuka. Terlebih dalam pemberitaan sebuah media lokal, secara terang-terangan menyatakan adanya dugaan permainan oleh oknum jaksa dan hakim, agar mengatur tuntutan dan vonis terhadap para terdakwa seringan mungkin.

Bahkan, dinyatakannya ada peredaran ‘uang panas’ senilai ratusan juta yang dibagi-bagikan oknum wartawan tertentu kepada puluhan wartawan lainnya, yang diduga untuk meredam berita ringannya tuntutan dan putusan perkara tersebut. Menurut pengakuan redaksi media tersebut, oknum wartawan medianya turut pula menerima bagian dari ‘uang panas’ itu.

“Menepuk air didulang, kepercik muka sendiri”. Mungkin itulah pepatah yang tepat bagi redaksi media tersebut. Jika oknum wartawan media mereka tidak ikut menerima bagian dari ‘uang panas’ itu, mereka patut diacungi jempol karena sudah berani mengungkapkan kebenaran, meskipun belum tentu didukung dengan bukti fakta.

Dari pemberitaan media lokal itu penulis menyimpulkan, dugaan oknum jaksa dan hakim terima suap belum tentu bisa dibuktikan. Tapi redaksi media tersebut sudah mengakui, jika medianya turut kebagian ‘uang panas’ tersebut. Redaksinya menjelaskan ada menerima titipan uang sebesar Rp 2 juta dari oknum wartawan media lain, dan masih ada disimpan redaksi. Justru itu bukti fakta yang tidak terbantahkan!

Redaksi media yang membuat berita dugaan aliran ‘uang panas’¬† tersebut sebaiknya punya cukup bukti, jika memang benar ada oknum jaksa, oknum hakim, oknum wartawan dan media yang diduga turut menerima bagian ‘uang panas’ dari perkara pupuk palsu dan pupuk tidak layak edar itu! Karena jika tidak punya cukup bukti, bukan tidak mungkin pemberitaan itu akan berbalik jadi ‘senjata makan tuan’.

 

Sungailiat, 16 Oktober 2017

3 comments

  1. ya ampun pupuk aja dipalsuin, gak kasin sama petani apa ya. pake pupuk yang asli aja terkadang hasilnya gak seberapa apalagi kalo pake pupuk yang tidak layak digunkan. dihukum seberat” ny aja karena telah merugikan para petani yang telah membeli pupuk mereka.

  2. Anton rahardja januarto

    Setuju 100%.
    Sebaiknya sebuah tulisan harus dilandaskan pada bukti bukti dan fakta yang valid.
    Jika sebuah tulisan hanya dilandaskan pada dugaan dan isu maka akan berdampak buruk bagi masyarakat/pembaca dan tidak mendidik.
    Profesi wartawan dan dunia pers adalah salah satu ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat, bukannya membuat rumour yang meresahkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*