Rabu , 24 Juli 2019
Breaking News
Home » HEADLINE » BBM Yang Susah Dicari, Mahal Dibeli

BBM Yang Susah Dicari, Mahal Dibeli

OLEH : ROMLAN

PEMIMPIN REDAKSI KABARBANGKA.COM

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium (bensin) bersubsidi belakangan ini, banyak dikeluhkan dan dipertanyakan oleh masyarakat. Kemana solar dan bensin menghilang? Jika kita pergi ke SPBU pada pagi hari, petugas selalu menyatakan “Premium dan solar habis pak, mungkin siang atau sore kelak baru datang”.

Kembali maraknya aktivitas penambangan timah secara liar dan ilegal belakangan ini, disinyalir menjadi salah satu penyebab kelangkaan BBM jenis solar dan premium tersebut. Contohnya, ketika aktivitas penambang timah sedang sepi, stok BBM jenis solar dan premium selalu ready di SPBU.

Perhatikan saja di setiap SPBU! Jika banyak pengerit, berarti penambangan timah kembali marak. Itu cara mudah untuk mendeteksi maraknya penambangan timah secara liar dan ilegal. Puluhan mobil yang menggunakan BBM jenis solar dan premium, setiap hari terlihat berbaris panjang menunggu giliran untuk mengisi kedua jenis BBM utama tersebut. Mobil yang sudah tak layak pakai pun kembali merayap keluar dari “kandang” untuk mengantri.

Solar dan premium hasil ngerit itu diduga dijual kepada penambang, dengan harga yang lebih mahal, namun masih dibawah harga BBM Industri. Buntutnya, masyarakat umum yang bukan pengerit, akan kesulitan membeli solar dan premium di SPBU.

Pihak terkait harus selalu memantau pendistribusian solar dan premium bersubsidi di setiap SPBU. Jika ditemukan dugaan adanya pelanggaran dalam pendistribusiannya, segera tindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika tidak, kejadian seperti disalah satu SPBU di Bangka Selatan belum lama ini, pasti akan terulang lagi di SPBU – SPBU lainnya. Masyarakat yang sudah resah dengan kelangkaan BBM jenis solar dan premium, akan bertindak dengan cara mereka sendiri, guna membongkar kedok para pelaku penyelewengan BBM bersubsidi tersebut.

Dugaan penyelewengan BBM bersubsidi jenis solar dan premium, tidak hanya terjadi di SPBU, tapi juga terjadi di SPBN dan APMS. Baru – baru ini, Satreskrim Polres Bangka mengamankan 24 jerigen atau 440 liter solar di Jalan Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Kepada penyidik Satreskrim, tersangka mengaku membeli BBM jenis solar bersubsidi tersebut dari SPBN yang ada di Desa Rebo. Padahal notebenenya, BBM yang ada di SPBN di Desa Rebo itu disediakan untuk nelayan setempat, sesuai dengan proposal pengajuan berdirinya SPBN tersebut.

Jika bukan kepada penambang, lalu kemana solar dan premium bersubsidi dari SPBU, SPBN, dan APMS itu dijual? Siapakah penampung dan penggunanya?

Kasus dugaan penyelewengan BBM Bersubsidi jenis solar dan premium di Bangka Belitung ini, sudah sangat parah. Akankah hal seperti ini terus dibiarkan oleh pejabat dan aparat berwenang? Bukankah kasus penyelewengan dan penyalahgunaan BBM Bersubsidi, adalah salah satu faktor yang menyebabkan kerugian perekonomian negara? ( * )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

error: Content is protected !!