Sabtu , 17 November 2018
Breaking News
Home » HEADLINE » Pekerjaan Rumah Penyidik KLHK

Pekerjaan Rumah Penyidik KLHK

Selain patut diapresiasi, penindakan tambang timah ilegal di Desa Cit, Kecamatan Riau Silip, Rabu (11/07’2018) pekan lalu, masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi tim penyidik Direktorat Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. Pasalnya, petugas gabungan yang terdiri dari Gakkum KLHK Regional III Sumatera, DENPOM KODAM II SRIWIJAYA, dan kepolisian setempat, gagal membawa barang bukti berupa tiga unit alat berat dan peralatan tambang, yang digunakan pelaku untuk menambang timah secara ilegal dilokasi yang masuk dalam kawasan hutan produksi Sungailiat Mapur.

Pekerjaan Rumah penyidik semakin panjang, ketika barang bukti berupa tiga unit alat berat dikabarkan sudah “raib”. Koq bisa? Ketika di tempat kejadian perkara, petugas yang hendak membawa pelaku dan barang bukti dihadang massa dari warga setempat, Kades Cit, dan oknum Lembaga Swadaya Masyarakat. Lantaran menghindari bentrok dengan warga, petugas akhirnya memilih mengalah. Petugas hanya membawa dua orang, yaitu seorang terduga pemilik tambang dan seorang operator alat berat. Pemilik tambang dikabarkan sudah ditetapkan tersangka, sementara operator alat berat kabarnya ditetapkan sebagai saksi.

Meski sudah mengetahui barang bukti tiga unit alat berat hilang, namun penyidik mengaku masih mengantongi berita acara serah terima barang bukti, yang sudah ditandatangani para pihak termasuk diketahui oleh Kades Cit. Dengan adanya berita acara itu, penyidik akan meminta pertanggungjawaban dari para pihak yang menyerahkan barang bukti, sesuai isi dalam berita acara tersebut.

Para pihak yang diduga terlibat raibnya barang bukti alat berat itu bisa ditetapkan tersangka atas dugaan menghilangkan barang bukti, jika nantinya barang bukti tidak bisa dihadirkan saat pelimpahan berkas perkara dari penyidik kepada jaksa penuntut umum.

Penyidik Gakkum KLHK sebaiknya segera memanggil para pihak yang diduga terkait dengan aktivitas penambangan timah ilegal di Desa Cit tersebut. Dengan demikian, akan mudah diketahui keberadaan barang bukti alat berat yang dikabarkan sudah tidak ada lagi di Tempat Kejadian Perkara. Dan jika barang bukti sudah ditemukan, segera diamankan di Rupbasan sesuai prosedur yang berlaku.

Selain itu, jika sudah ditemukan cukup bukti, sebaiknya para pihak yang diduga terlibat di tambang ilegal itu segera ditetapkan tersangka. Itu juga salah satu cara untuk melacak keberadaan barang bukti alat berat yang dikabarkan sudah raib.

Penindakan tambang timah ilegal di Bangka Belitung memang harus dilakukan secara terintegrasi lintas instansi dan lembaga penegak hukum, juga harus terus berkelanjutan. Hal itu karena masih banyaknya penambangan timah ilegal yang diduga dibekingi oknum tertentu. Jika terus dibiarkan, penambangan timah ilegal tersebut akan semakin memperparah kerusakan lingkungan dan eko sistem.

Proses hukum terhadap perkara tambang timah ilegal sebaiknya dilakukan secara tegas dan transparan. Termasuk proses hukum terhadap oknum yang diduga menjadi backing. Supaya kedepan menjadi contoh bagi oknum yang lainnya. (*)

 

Oleh : Romlan

Pimpinan Redaksi KABARBANGKA.COM

Kompetensi Wartawan Utama

Sungailiat, 18 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*