Rabu , 24 Juli 2019
Breaking News
Home » FEATURE » Mak Kulsum, Pemijat Berusia Senja Di Pantai Anyer

Mak Kulsum, Pemijat Berusia Senja Di Pantai Anyer

Oleh : Romlan

“Pak, pijit pak!”, suara wanita itu terdengar bergetar halus.

Ku tolehkan kepala, nampak seorang wanita yang usianya sudah senja. Namanya Kulsum, warga Kelurahan Anyer, Kecamatan Anyer, Kota Cilegon, Propinsi Banten.

“Pijit pak, sepuluh ribu saja,” ujarnya memelas, setengah berbisik.

Di usianya yang sudah senja, selayaknya Emak Kulsum (65), demikian warga setempat memanggilnya, sudah istirahat di rumah, menikmati sisa hidup dan mengasuh cucu, tentunya sambil beribadah.

Emak Kulsum kini sudah menjanda. Suaminya meninggal dunia enam tahun lalu.

Kepada penulis, nenek dari tujuh cucu itu mengulas sedikit tentang perjalanan hidupnya.

Emak Kulsum, punya empat orang anak. Namun masih dua yang hidup, dan dua lagi sudah meninggal dunia.

Mak Kulsum bukan orang yang berada dan serba berkecukupan. Untuk memenuhi kehutuhan hidupnya, Dia harus berjalan dan berpindah-pindah dari pondok ke pondok di kawasan Mercu Suar Pantai Anyer, Cilegon, untuk mencari orang yang membutuhkan jasanya.

Emak Kulsum memang pandai memijat. Di usianya yang sudah tak muda lagi, tenaganya yang sudah tak kuat lagi, namun semangatnya untuk bertahan hidup ditengah era modern nan canggih ini patut diacungi jempol.

Dia lebih memilih menjadi tukang pijat, ketimbang harus hidup dari belas kasihan anak-anaknya atau orang lain, dengan meminta-minta kesana-kemari.

“Biar dapatnya sedikit, yang penting halal, cukup buat makan saja jadilah. Yang penting gak minta makan sama anak-anak, gak minta makan sama orang,” ungkap Emak Kulsum sembari terus memijat badan penulis, pada Rabu (26/06/2019) siang.

Sepoinya angin di Pantai Anyer kian menambah syahdunya kisah Emak Kulsum. Meski kesulitan ekonomi menghimpitnya, namun Dia tidak ingin menyusahkan orang lain.

“Kalau tidak kerja, siapa lagi mau perhatikan? Emak ini bukan orang kaya, anak-anak Emak juga bukan orang mampu. Jadi, ya, Emak masih harus kerja terus, biar bisa dapat rejeki, biar gak nyusahin anak cucu,” imbuhnya dengan suara bergetar. Nampak sekali Dia berusaha untuk tegar.

Masih kata Emak Kulsum, kalau pengunjung di kawasan wisata Mercu Suar Pantai Anyer sedang ramai, Dia bisa dapat pasien tiga orang atau lebih.

“Alhamdulillah, kalau lagi ramai, sehari bisa dapat tiga (pasien). Tapi kalau lagi sepi, kadang gak ada sama sekali. Kadang cuma cukup buat makan sekali, kalau gak ada yang mau pijit, ya, gak bisa makan,” urai Emak Kulsum seraya menundukkan mukanya dalam-dalam, seakan hendak mengeluarkan seluruh jeritan hatinya.

Satu kali pijat Emak Kalsum hanya minta dibayar Rp 10.000. Namun kata Dia, kadang ada juga yang memberinya Rp 40.000 hingga Rp 50.000.

“Sekali pijat cuma Rp 10.000. Tapi kadang ada yang ngasih Rp 40.000, ada juga yang ngasih Rp 50.000. Emak mah gak pernah minta tambah. Emak do’akan orang-orang yang sudah baik sama Emak sehat terus, mudah rejekinya,” sambung Emak Kulsum.

“Anak Emak ada empat, tinggal dua yang masih hidup, yang dua lagi sudah meninggal. Semua anak Emak sudah berumahtangga. Si Bungsu tinggal di kampung. Cuma si Tetehnya yang tinggal sama Emak. Si Tetehnya punya anak tiga, kalau yang bungsu anaknya sudah empat. Kalau yang bungsu, kadang kalau mau nginep, dia nginep, tapi kadang-kadang saja,” kisah Mak Kalsum.

Seperti kata Dia tadi, usai memijat, Emak Kulsum juga mendo’akan penulis.

“Terima kasih Nak, moga sehat terus Nak, ya? Emak do’akan lancar-lancar rejekinya, aamiinn,” tukas Mak Kalsum seraya mulai beranjak. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

error: Content is protected !!