Gasing Dan Kerito Surong, Budaya Tradisional Yang Harus Dilestarikan

  • Whatsapp
Bupati Bangka Tengah H. Ibnu Saleh menaiki Kerito Surong

Oleh : Romlan

Bupati Bangka Tengah H. Ibnu Saleh menaiki Kerito Surong

Gasing dan Kerito Surong, adalah mainan dan alat angkut tradisional masyarakat Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Pada masanya, Gasing dan Kerito Surong sangat mudah dijumpai.

Muat Lebih

Di era tahun 1988-1994, penulis yang kala itu masih berusia anak-anak yang beranjak remaja, kerap kali bermain Gasing bersama teman sebaya, bahkan kadang bermain Gasing bersama orang dewasa.

Gasing adalah mainan tradisional suku melayu. Gasing kebanyakan terbuat dari kayu Pelawan Merah. Bentuknya lonjong atau agak lancip.

Cara memainkannya menggunakan seutas tali, yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. Namun belakangan, tali dari kulit kayu itu sudah diganti dengan tali plastik, mungkin karena sudah kesulitan mencari bahannya.

Tali Gasing biasanya terbuat dari kulit kayu Semilang atau Kenameng. Kedua jenis kayu itu hanya tumbuh dikawasan Hutang Padang, atau Hutan Reget dalam bahasa Bangka. Hutan Reget biasanya bertanah tandus, dan didominasi pohan kayu Pelawan Merah.

Main Gasing biasanya ramai pada musim nebas lahan untuk berladang padi. Saat musim nebas itu, biasanya kaum pria dewasa mengambil batang kayu Pelawan untuk dibuat Gasing.

Saat istirahat siang, atau sepulang dari nebas lahan pada sore harinya, para pria remaja dan dewasa berkumpul untuk mengadu Gasing buatannya. Ada yang adu lama gasingnya berputar, ada juga yang adu keras, yaitu dengan menimpa atau membenturkan gasing miliknya ke gasing lawan mainnya. Jika main Gasing pada sore hari, biasanya menjelang waktu Maghrib baru bubar.

Sementara Kerito Surong, lebih mirip kereta dorong yang digunakan buruh angkut di pasar tradisional atau pelabuhan.

Orang tua penulis yang berprofesi sebagai petani lada dan berladang padi, juga punya Kerito Surong. Puluhan tahun sudah, waktu berlalu tanpa terasa. Pada usia 2-8 tahun, penulis sering kali naik Kerito Surong, yang kala itu didorong oleh bapak atau ibu.

Seperti Gasing, Kerito Surong juga terbuat dari bahan kayu. Alat angkut tradisional ini terdiri dari dua batang kayu yang dibentuk mirip casis pada kendaraan bermotor, biasanya disebut Pukang.

Pada bagian depannya dipasang roda, yang juga dibuat dari Baner kayu. Selain berfungsi untuk menjalankan Kerito Surong, roda depan ini juga jadi tumpuan beban.

Baner adalah bagian lebar pada akar pohon besar, biasanya yang diambil adalah Baner pohon kayu Manggeris, atau kayu Tengeris dalam sebutan bahasa Bangka.

Lantaran sulitnya mencari Baner kayu yang lebar, zaman now roda Kerito Surong bukan lagi terbuat dari Baner kayu Tengeris, tapi sudah menggunakan ban motor atau sejenisnya.

Dibagian atas depan Pukang Kerito Surong, tepatnya sebelum roda, itu dipasang dua batang tiang kayu yang agak kecil, fungsinya untuk menahan agar barang yang diangkut tidak merosot dan jatuh. Bisa juga jadi pegangan, jika yang naik Kerito Surong itu adalah orang. Dulu, penulis selalu berpegangan pada dua tiang kayu di depan itu.

Lalu dibagian bawah belakang Pukang tadi, juga dipasang dua batang tiang kayu ukuran agak kecil, yang berfungsi sebagai penyangga. Bagian ini disebut kaki. Ketika berhenti, tumpuan beban berada pada roda depan dan kaki belakang ini.

Oleh para petani di zaman dahulu, adanya Kerito Surong sangat membantu, terutama ketika akan mengangkut beban berat.

Bagi petani lada, Kerito Surong biasa dipakai untuk mengangkut pupuk ke kebun. Pada musim panen, petani mengakut ladanya pakai Kerito Surong, untuk dibawa pulang ke pondok atau langsung direndam di air yang mengalir. Ketika lada selesai dicuci, biji lada yang basah dan berat itu juga diangkut menggunakan Kerito Surong.

Pada musim panen padi, petani di Bangka juga menggunakan Kerito Surong untuk mengangkut hasil panen padi ke rumah atau pondok miliknya.

Sesekali, Kerito Surong juga dipakai untuk mengangkut kayu bakar. Bahkan untuk membawa barang belanjaan yang banyak dari kampung, masyarakat Bangka pada masa itu juga menggunakan Kerito Surong sebagai sarana angkut.

Sayangnya, kedua mainan dan alat tradisional itu mulai terlupakan, bahkan mulai ditinggalkan masyarakat. Generasi muda zaman now, belum tentu bisa main membuat dan bermain Gasing. Dan belum tentu bisa membuat dan menggunakan Kerito Surong.

Perlu program dan upaya serius dari semua pihak terkait, agar budaya tradisional peninggalan nenek moyang suku melayu itu tidak punah, tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi modern.

Belum lama ini, Pemerintah Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, menggelar perlombaan permainan tradisional, Gasing dan Kerito Surong.

Bupati Bangka Tengah, H. Ibnu Saleh mengatakan, para orang tua harus lebih aktif mengenalkan kepada anak-anak dan generasi muda, tentang budaya tradisional seperti Gasing dan Kerito Surong tersebut.

“Gasing maupun Kerito Surong merupakan permainan tradisional khas masyarakat Bangka, yang perlu dilestarikan dan dikembangkan, serta dijaga agar tidak dilupakan. Gasing dan Kerito Surong peningalan nenek moyang, wajib bagi kita sebagai orang Bangka menjaga budaya Bangka. Mengingat saat ini teknologi semakin maju pesat, bahkan anak-anak sekarang sudah banyak yang kecanduan game online, bahkan mereka mungkin banyak yang tidak tahu, apa itu Gasing maupun Kerito Surong? Kita sebagai orang tua yang harus lebih aktif memperkenalkan kepada mereka tentang budaya tradisional ini,” kata Dia.

Ibnu Saleh berharap permainan tradisional ini tetap dilestarikan dan terus dikembangkan, sehingga generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai budaya daerahnya.

“Saya berharap masyarakat Bangka Tengah dapat mencintai adat budaya, terutama permainan tradisional. Salah satunya Gasing dan Kerito Surong, karena ini merupakan permainan warisan nenek moyang kita dulu, selain itu juga untuk memupuk kebersamaan antar sesama,” pungkasnya. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *