Bandar Narkoba Desa Ketap Jebus Manjakan Pelanggan dengan Tiga Tenda Khusus

  • Whatsapp
NEL, salah seorang tersangka kasus narkoba Desa Ketap di tahanan Mako Polres Bangka Barat. ( Foto: SK/kabarbangka )

BANGKA BARAT – Para pengedar narkoba, terutama jenis sabu melakukan berbagai inovasi guna memuaskan pelanggannya. Salah satu inovasinya, Sang Bandar menyiapkan tempat khusus berupa tenda bagi pelanggan untuk menkonsumsi narkoba, lengkap dengan peralatannya.

Sat Narkoba Polres Bangka Barat menemukan hal tersebut saat melakukan penangkapan di Tambang Besar ( TB ) di Desa Ketap, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Kamis ( 26/9/2019 ).

Fakta mengejutkan itu diungkapkan Kasat Narkoba Polres Bangka Barat, IPTU Umar Dani saat konferensi pers ungkap kasus triwulan III di Gedung Catur Prasetya, Mako Polres Bangka Barat, Jum’at ( 27/9/2019 ) sore kemarin.

Menurut Umar Dani, di TKP tersebut, penjual menyiapkan tiga buah tenda. Tenda pertama digunakan sebagai tempat transaksi, tenda kedua berfungsi sebagai tempat memakai sabu dan tenda ketiga digunakan sebagai sarana hiburan musik dan tempat transaksi juga.

” Tempat tersebut di kelola oleh suami istri, suaminya bersama El dan istrinya bernama RNA. Bandar besarnya bernama BB dan satu orang lagi, HDR, itu masih buron,” jelas Umar Dani.

Dengan adanya tempat sedemikian rupa, Kasat Narkoba menduga, pelanggannya tidak jauh – jauh, yakni para pekerja tambang di sekitar lokasi TB itu.

Bahkan ditempat tersebut disinyalir ada beberapa orang yang memiliki senjata api rakitan, namun kata Umar hal itu masih dalam penyelidikan. Saat penangkapan, pihaknya belum menemukan senpi.

” Barang bukti yang kita amankan saat penangkapan yaitu, 7 gram sabu yang dikemas dalam 26 paket. Barang itu sering dikirim ke Gunug Mayang juga,” kata Kasat Narkoba.

Sedangkan tersangka yang berhasil diamankan yakni, JN, Nel dan pasangan suami istri EL dan RNA. Keempatnya berasal dari luar Pulau Bangka.

NEL, salah seorang tersangka pengelola tenda membantah dirinya sebagai ” pemain lama “. Dia mengaku baru satu bulan berada di Desa Ketap dan baru sekali menjaga tenda karena rekannya pulang kampung.

” Aku ini kebetulan nganggur berhenti kerja TI disitu, jadi megang barang ini. Baru sekali itulah jaga itu langsung tertangkap. Aku nggak jual sebenarnya,” jelasnya saat ditemui di tahanan Polres Bangka Barat.

Mengenai BB, sang boss yang masih DPO, NEL mengaku pernah melihat orangnya, namun daerah asal BB dia tidak tahu persis karena tidak pernah dikasih tahu.

” Pernah liat orangnya. Sekarang ini dia nggak ada ke lokasi, nggak pernah. Tapi saya kenal sama orangnya. Pemakai ( sabu ) rata – rata orang TI lah, orang luar mereka rata – rata makai,” jelasnya.

Senada dengan NEL, tersangka lain berinisial RNA, saat ditemui di tahanan, mengaku tidak mengetahui jika suaminya, EL, yang menikah dengannya baru satu bulan, menjual sabu.

Dia hanya membenarkan dirinya mengkonsumsi sabu, namun membantah sebagai pengelola tenda milik BB.

” Masalah tenda itu saya juga nggak tahu, cuma tahunya rame – rame aja. Saya memang makai, tapi baru. Tapi saya nggak jual, makanya disini saya sedih nggak keluarga, nggak ada yang besuk. Keluarga nggak punya orang tua udah meninggal semua,” tutur dia. ( SK )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *