Mahasiswa Demo Tolak RUU Tewas, Polda: Anggota Tidak Dibekali Peluru

  • Whatsapp

KENDARI — Aksi penolakan terhadap sejumlah Rancangan Undang-Undang yang dibahas DPR-RI, terus meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mahasiswa dari berbagai elemen dan kampus, turun ke jalan melakukan unjuk rasa di gedung wakil rakyat, baik di pusat maupun daerah.

Mengutif media siber gatenews.id, aksi demonstrasi mahasiswa di Kendari pada Kamis (26/9/2019), berlangsung hampir seharian. Mulai pukul 10.00 WITA, hingga menjelang Maghrib. Gedung Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara nampak rusak di beberapa sisi. Bahkan, sisi sebelah timur terbakar bersama empat unit sepeda motor. Pagar tembok yang bersebelahan dengan Kantor Bulog, roboh diratakan massa aksi.

Menjelang waktu Ashar, seorang peserta aksi bernama Randi (21), mahasiswa smester tujuh Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo, tiba-tiba terkapar di jalan depan Gedung DPRD Sultra. Dada kanannya luka dan tampak berlubang seperti terkena benda tajam.

Sekitar pukul 15.30 Wita, korban dilarikan ke Rumah Sakit Korem Kendari. Naas, nyawa Randi tidak tertolong. Dia tewas di tengah huru hara bentrok mahasiswa, dengan aparat keamanan yang mengawal demonstrasi.

Dari RS Korem, jasad lelaki asal Desa Lakarinta, Kabupaten Muna itu, kemudian dibawa ke RSUD Kota Kendari untuk dilakukan autopsi. Banyak yang menduga, almarhum Randi terkena tembakan tepat di jantungnya. Namun kabar itu masih simpang siur dan belum dapat dipastikan, sebab otopsi masih dilakukan oleh dokter ahli.

Kepala Kepolisian Daerah Sultra, melalui Kepala Bidang Humas, AKBP Harry Goldenhardt, menggelar konferensi pers di lokasi unjuk rasa, usai massa aksi membubarkan diri sekitar pukul 18.00 WITA.

Menurut AKBP Harry Goldenhardt, penyebab Randi meninggal belum dapat dipastikan. Masih menunggu hasil autopsi dan penyelidikan.

“Yang jelas begini, sebelum berangkat, anggota dilakukan apel, cek satu persatu. Dan kami pastikan aggota tidak dibekali peluru karet, ataupun peluru tajam. Hanya tameng dan gas air mata,” ungkapnya.

AKBP Harry Goldenhardt juga mengaku sudah berkoordinasi dengan keluarga korban, dan semua masih menanti hasil penyelidikan.

Sebelum terjadi bentrok massa, Ketua DPRD Provinsi Sultra, Abdurrahman Saleh, bersama beberapa anggota dewan, sempat menemui mahasiswa di gerbang Sekretariat DPRD Sultra.

Massa terbagi dua kelompok, yakni kelompok mahasiswa Universitas Halu Oleo, dan kelompok gabungan beberapa kampus seperti IAIN, STIKES, STMIK, dan lain-lain

Kelompok massa Universitas Halu Oleo tidak dapat mengendalikan diri, sehingga tidak dapat berdiskusi dengan anggota DPRD Sultra yang menerimanya.

Sementara kelompok gabungan yang berbeda lokasi konsetrasinya dengan tenang dipersilahkan masuk ke gedung dewan. Bahkan perwakilannya sempat berdiskusi dan bernyanyi bersama anggota dewan. Tuntutan mereka pun dipenuhi, ketua DPRD menandatangani pernyataan sikap.

Sementara kelompok lain yang tidak masuk gedung DPRD, terlibat bentrok dan melempar polisi dengan berbagai benda, yang dibalas tembakan gas air mata serta Water Cannon.

Hingga berita ini diturunkan, situasi masih di Kota Kendari masih mencekam, Mall tutup, lantaran peserta aksi memblokade perempatan jalan.

“Situasi masih mencekam, Mall tutup, karena mahasiswa blokade perempatan,” ungkap Gus Suryaman, wartawan gatenews pada Kamis malam. (Red/Net)

Sumber : gatenews.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *