Didit : Tolong Jangan Ada Larangan Ekspor Lada

  • Whatsapp

PANGKALPINANG — Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, Didit Sri Gusjaya, meminta agar jangan ada larangan ekspor untuk lada. Hal tersebut disampaikannya usai diskusi bersama BP3L, pengusaha eksportir lada, Pemerintah Daerah, pihak Bea Cukai, serta pihak Kemenkumham.

Diskusi digelar Senin (02/12/2019), di ruang rapat DPRD Provinsi Babel, Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di Air Itam, Pangkalpinang.

Muat Lebih

“Tadi ada statement dari pengusaha, akan menghentikan untuk membeli lada. Jangan donk, kasihan dengan rakyat. Kalau andai kata mereka mau menghentikan lada, nanrpti yang mau beli lada siapa? Apakah BMUD sanggup? Apakah pemerintah sanggup? Kalau tidak sanggup, lada mau dibuang kemana? Jadi, saya minta tolong mereka, menjamin untuk membeli. Tolong jangan ada larangan ekspor lada,” ungkap Didit kepada awak media usai diskusi.

Lanjutnya, berbicara tentang kekuatan hukum terkait BP3L tersebut milik siapa? Yang berdasarkan penyampaian dari Kemenkumham, ini milik BP3L yang diusulkan tahun 2009. Sedangkan AIGI-nya, milik BP3L tahun 2009. Ia berencana akan mengutus Komisi 1 dan Komisi 2 untuk mencari kebenaran masalah tersebut seperti apa?

“Tetapi satu sisi, ada pihak mengatakan itu tidak sah. Maka jalan keluarnya, kita akan mengutus Komisi 1 DPRD Bangka Belitung untuk langsung ke Kemenkumham. Bukan karena kita tidak percaya dengan yang ada disini, tetapi agar ada sebuah kepastian hukum. Sedangkan Komisi 2, kita minta agar ke Kementerian Perdagangan untuk masalah ekspor,” jelas Didit.

Dikatakannya, terkait soal eksport 1 pintu, DPRD akan mengkaji kembali itu seperti apa? Karena ini untuk kepentingan bersama. Yang dibutuhkan rakyat itu, bagaimana strategi untuk menaikkan harga lada? Bukan rebutan soal status.

Ketua DPRD Provinsi Babel ini berharap, Pemerintah Daerah dapat merangkul para eksportir lada untuk duduk satu meja, membahas tentang bagaimana caranya menaikkan harga lada.

“Pemerintah Daerah, harus rangkul mereka dan duduk satu meja. Sehingga mereka benar – benar tidak ada masalah lagi. Jadi yang dibutuhkan itu, bagaimana caranya menaikkan harga lada tersebut,” imbuhnya. (Mg/1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *