Isu Minyak Goreng KM Permata Biru Dijual di Pasar, KSOP Muntok Belum Dapat Kabar dari PT. SAP

  • Whatsapp
Petugas Keselamatan Berlayar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan ( KSOP ) Muntok, Bambang Sugito di kantornya, Jalan Tanjung Kalian, Muntok, Kamis ( 9/1/2020 ) siang.

BANGKA BARAT — Tenggelamnya Kapal KM Permata Biru di perairan Muntok pada Senin ( 6/1/2020 ) lalu menyisakan cerita baru. Dikabarkan, minyak goreng yang dibawa kapal tersebut telah dijual di Pasar Muntok.

Namun Petugas Keselamatan Berlayar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan ( KSOP ) Muntok, Bambang Sugito mengaku tidak mengetahui hal itu.

Muat Lebih

Menurutnya, pemilik kapal KM Permata Biru telah menyatakan tidak mempermasalahkan perihal minyak goreng tersebut, namun PT. SAP sebagai pemilik kargo berisi minyak goreng hingga saat ini belum ada konfirmasi apapun ke pihak KSOP.

” Itu saya kurang paham, pemiliknya minyak goreng itu kan milik PT. SAP, itu kita kurang konfirmasi. Tapi pemilik kapal mengatakan kami tidak keberatan, kalau barangnya sudah hanyut ya sudah, jadi bagi mereka musibah lah, sudah hanyut gitu kan, jadi si pemilik ( kapal ) tidak keberatan, tapi nggak tahu lah kalau pemilik kargo, gitu kan. Pemilik kargo belum ada konfirmasi,” jelas Bambang Sugito kepada awak media saat ditemui di Kantor KSOP di Jalan Tanjung Kalian, Muntok, Kamis ( 9/1/2020 ) siang.

Lebih jauh dia menerangkan, saat ini KM Permata Biru belum dievakuasi. Lokasi tenggelam kapal tersebut di perairan Banyuasin.

” Kapalnya masih disana, kayaknya dari pemiliknya kemarin dia minta bantuan dari Palembang untuk menjaga kapal itu, katanya wujud kapalnya sudah keliatan. Lokasinya hanyut di Banyuasin, masuk di Banyuasin, ada koordinatnya,” katanya.

Lanjut Bambang, penyebab karamnya KM Permata Biru murni kecelakaan karena cuaca buruk.

Di lain pihak, pemilik salah satu toko kelontong di Pasar Muntok, Hj. Nana mengakui, belum lama ini ada orang datang ke tokonya menawarkan minyak goreng di bawah harga normal, namun ditolaknya.

” Memang ada orang menawarkan minyak goreng kepada saya, harganya kisaran 8000 atau 9000-an. Harga normalnya kan Rp. 12. 000. Tapi saya tolak,” kata Hj. Nana kepada awak media saat ditemui di tokonya di Pasar Muntok, Kamis ( 9/1/2020 ) siang.

Saat datang ke tokonya, kata Hj. Nana, orang yang menawarkan itu tidak langsung membawa barangnya, tapi menanyakan dulu. Alasan dia menolak, karena asal muasal barangnya tidak jelas.

” Ya karena kita nggak tahu barangnya dari mana, mungkin itu hak orang atau bagaimana kita kan nggak tahu, jadi saya nggak mau beli,” ujarnya. ( SK )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *