Pluralisme Cermin Keharmonisan Babel

  • Whatsapp
ERI LESMANA, ST. Praktisi Pariwisata Babel

Beberapa hari ini media sosial dihebohkan pernyataan seorang wakil rakyat yang menghimbau untuk membongkar ornamen-ornamen Cina di wilayah Bangka Belitung dengan dalih telah terjadi pencaplokan kultural di Bangka Belitung. Ornamen-ornamen tersebut merupakan “kamuflase pariwisata” (katanya) yang sedang giat di Bumi Negeri Serumpun Sebalai.

Beliau juga menghimbau kepada Pemerintah Daerah untuk segera membongkar ornamen-ornamen tersebut karena ditenggarai diduga merupakan sumbangan / bantuan dari Negeri Cina, kecuali untuk rumah ibadah. Seperti di Kepulauan Natuna, Cina sedang berusaha mengakui ZEE Indonesia merupakan bagian dari wilayah kedaulatan mereka.

Muat Lebih

Pendapat yang disampaikan oleh Wakil Rakyat yang merupakan salah satu pejabat negara sangat tidak elok dimana tidak lama lagi Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa akan berlangsung. Pernyataan di media online, membuat kegaduhan di masyarakat Bangka Belitung yang notabene selama ini hidup rukun sesama tanpa memandang etnis manapun termasuk Tionghoa (Cina).

Dikutip dari tulisan Budayawan Bangka, Drs. Akhmad Elvian, menjelaskan, masyarakat Tionghoa mulai hadir di Pulau Bangka selama periode 1757-1776 atas kehendak Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo, putra Sultan Mahmud Badaruddin II, yang saat itu memimpin Kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama mendatangkan mereka adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan timah sebab warga Tionghoa dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan timah. Gelombang berikutnya didatangkan lagi para petani, tukang jahit, dan tukang kayu. Kehadiran beragam profesi itu dimaksudkan agar terjalin hubungan yang lebih luas antara warga asal China dan masyarakat setempat.

Secara langsung maupun tidak langsung, hubungan antara masyarakat tempatan dengan masyarakat Tionghoa telah terjadi asimilasi sekian lama dan rata-rata telah terjadi perkawinan antara kedua masyarakat tersebut. Tidak bisa dipungkiri saat ini bila diambil sampel DNA masyarakat Babel pasti mempunyai DNA mongoloid dari dataran Cina atau masyarakat Tionghoa.

Asimilasi budaya juga terjadi antara Melayu dan Tionghoa namun bukan berarti pencaplokan kultural seperti dimaksud oleh Wakil Rakyat tersebut. Adat Melayu Bangka juga telah berasimilasi dengan Suku-Suku yang telah bermukim terlebih dahulu di Pulau Bangka Belitung seperti Suku Lom dan Suku Sekak. Nilai-nilai budaya Suku Lom dan Suku Sekak juga berasimilasi dengan Suku Melayu dan etnis Tionghoa.

Menurut Eri Lesmana, salah satu tokok praktisi pariwisata Babel, hari kecil dalam setiap perayaan budaya dapat mengambil peran sebagai icon pariwisata.

“Contoh kecil dalam penetapan hari Ritual Nujuh Jerami Suku Lom menggunakan penanggalan Tionghoa. Belum lagi ornamen dalam pakaian pengantin Adat Melayu Bangka unsur etnis Tionghoa juga mengambil peran. Banyak contoh yang bisa diambil bahwa adat melayu dan tionghoa telah berasimilasi sejak lama” demikian kata Praktisi Pariwisata Babel ini.

Bila dilihat dari kacamata pariwisata, ornamen Tionghoa merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan dari nusantara dan mancanegara. Begitu juga dalam atraksi-atraksi menyambut wisatawan ataupun pejabat dengan tarian melayu seperti Tari Sambut, Tari Campak, Tari Bedincak, Barongsai dan lain-lain, ini membuktikan bahwa keragaman budaya bisa dikolaborasikan dalam kegiatan pariwisata. Begitu juga dalam hal hari keagamaan, masyarakat melayu dan masyarakat tionghoa saling membantu dan berkunjung sehingga silaturahmi dan kerukunan masyarakat harmonis. Keharmonisan kerukunan masyarakat di Bangka Belitung menciptakan keamanan yang kondusif dan tingkat kriminalitas dapat diminimalisir.

Masyarakat yang telah hidup rukun, harmonis dan kondusif ini jangan dibuat terpecah belah oleh oknum wakil rakyat ataupun pejabat negara lainnya. Bangka Belitung merupakan salah satu wilayah NKRI yg berasaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Semoga keharmonisan ini dapat menjadi tauladan di Negeri Serumpun Sebalai. (Rilis)

Oleh: ERI LESMANA, ST.
Praktisi Pariwisata Babel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *