Silo Sandro tidak Menyangka Film ” Ketangen ” Raih Best Picture

  • Whatsapp
Produser dan penulis, Angga Dwimas Sasongko menyerahkan trophy kepada Ketua Komite Cinematografi Dewan Kesenian Kabupaten Bangka Barat, Silo Sandro di Gedung MBloc, Oeang, Jakarta Selatan, Sabtu ( 18/1/2020 ) malam.

BANGKA BARAT — Dewan Kesenian Bangka Barat boleh berbangga hati setelah film pendek berjudul ” Ketangen ” berhasil mendapat penghargaan ” Best Picture ” kategori Short Movie pada perhelatan Panasonic Young Film Maker ( PYFM ) tahun 2019.

Ketangen merupakan bahasa daerah melayu Muntok yang berarti sepeda. Film tersebut digarap oleh Komite Cinematrografi Dewan Kesenian Bangka Barat.

Muat Lebih

Trophy dan hadiah diserahkan produser dan penulis, Angga Dwimas Sasongko kepada Ketua Komite Cinematografi Dewan Kesenian Kabupaten Bangka Barat, Silo Sandro di Gedung MBloc, Oeang, Jakarta Selatan, Sabtu ( 18/1/2020 ) malam.

Silo Sandro mengaku tidak menyangka film yang mereka kerjakan selama empat bulan itu berhasil menyabet penghargaan, mengingat jumlah peserta pada ajang ini begitu banyak, apalagi karya mereka juga bagus – bagus.

Namun meskipun tidak berharap menang, ternyata film ” Ketangen ” mampu mengalahkan hampir 600-an pesaingnya.

” Terus terang, di festival film ini tidak ada ekspektasi masuk nominasi apalagi menang, karena peserta yang mengirim banyak dan karyanya bagus – bagus,” ujar Silo Sandro, Minggu ( 19/1/2020 ) via WhatsApp.

Menurut Silo, film “Ketangen”, menceritakan tekad dan keteguhan hati seorang ibu dalam menepati janji dan manifestasi kerinduan seorang ibu akan sebuah kenangan.

Pada alur kisah diceritakan keinginan tak selalu selaras dengan kenyataan, mengambil hikmah dari sebuah kejadian tentu akan berbeda-beda kepada setiap orang.

” Kami ingin menyampaikan pesan bahwa kekuatan diri seseorang akan teruji saat cobaan datang, apakah kita akan tenggelam, atau tetap berdiri tegak, terus melangkah maju karena hidup terus berjalan,” tutur Silo.

Lokasi pengambilan gambar kata dia, seluruhnya di take di Bangka Barat dengan melibatkan pemeran lokal.

” Waktu produksi sekitar empat bulan, mulai dari praproduksi hingga selesai editing,” sebutnya.

Silo berharap, dengan diraihnya penghargaan ini, para seniman dan pegiat film di daerah lebih bersemangat dan serius dalam berkarya, penuh totalitas serta rela berkorban demi sebuah karya yang maksimal sesuai harapan.

” Proses tidak akan mengkhianati hasil, kami berharap ke depan akan para pegiat film semakin percaya diri dalam berkarya dan bisa ikut serta dalam ajang tingkat nasional dan internasional,” tutupnya.

PYFM 2019 dilaksanakan selama tiga bulan, mulai 9 Oktober – 29 Desember 2019. Pengumuman pemenang digelar pada 18 Januari 2020 di Jakarta Selatan.

Melibatkan sejumlah sineas sebagai juri, mulai dari Angga Dwimas Sasongko hingga Goenrock. Total hadiah sebesar Rp.300 juta. ( SK )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *