Smelter Untuk Timah Kadar Rendah Akan Dibangun Di Muntok

  • Whatsapp

JAKARTA — Dengan mengembangkan teknologi baru dalam pengolahan dan pemurnian mineral, agar mampu mengolah mineral logam timah kadar rendah. PT Timah Tbk akan membangun tanur dengan menggunakan teknologi EPCC TSL Furnace Ausmelt 40.000 Crude Tin. PT Wijaya Karya (Wika) dalam waktu dekat akan membangun tanur dengan kapasitas 40 ton ini di Muntok Bangka Barat

Langkah pembangunan tanur baru dengan teknologi terbaru ini, dilakukan PT Timah sebagai upaya untuk mengolah cadangan tambang perusahaan di masa mendatang. Sebagaimana diketahui cadangan timah terus berkurang setelah ditambang sejak ratusan tahun lalu.

Muat Lebih

“Hari ini kita sudah kick off meeting dengan Wika untuk pengerjaan proyek EPCC TSL Furnace Ausmelt 40.000 Crude Tin yang nantinya akan dilanjutkan dengan Ground Breaking pada 30 Januari ini,” ungkap Direktur Operasi dan Produksi PT Timah Tbk, Alwin Albar di Kantor Wika Jakarta, Selasa (21/1/2020) kemarin.

Menurut Alwin jika hanya mengandalkan teknologi saat ini dengan kondisi cadangan timah aluvial sudah berkurang dikhawatirkan kedepan menjadi tidak ekonomis. Dengan teknologi terbaru ini nantinya, bisa beroperasi untuk deposit ore timah batuan inti (primary rock) namun dengan kadar timah yang lebih rendah.

“Kita bangun ini karena masa depan mineral lebih sulit, kalau dulu Indonesia kaya sekali ini di permukaan saja ada timah. Tapi sekarang kondisi depositenya tidak sebanyak dulu. PT Timah mempersiapkan ini untuk mengolah mineral yang dari batuan,” terang Alwin.

Pengerjaan tanur dengan teknologi baru ini dibangun oleh Wika sebagai bentuk sinergi BUMN. Ditambahkan Alwin, pembangunan smelter ini merupakan salah satu proyek strategis dari MIND ID.

“Dalam pelaksanaannya ini, kami sangat menekankan sekali soal safety dan kami percaya Wika. Dengan kerjasama kita semua dapat menyelesaikan ini,” katanya.

Direktur Operasional Wika, Bambang Pramojo menyampaikan apresiasi kepada PT Timah, telah mempercayakan pengerjaan proyek ini kepada pihaknya. Rencananya proyek ini akan diselesaikan dalam waktu 19 bulan sehingga tahun 2021 nanti sudah bisa dioperasionalkan. Ia pun berharap pembangunan proyek ini harus didukung oleh semua pihak.

“Teknologi kita akan menggunakan ausmelt australia autotech sudah cukup dikenal, kunci utama di teknologi. Teknologi kita konsepkan dengan detail engineering karena ini udah edisi dan ini harus urut dan ini yang sering menghambat. Waktu penyelarasan engineering ini penting kerjasama dari dua belah pihak dan memerlukan waktu yang panjang,” papar Bambang.

Ia menambahkan dalam proyek tersebut, menjadi tantangan bagi Wika, terlebih waktu pengerjaan harus selesai dalam 19 bulan dengan standar kualitas yang bagus dan standar safety.

“Kami bangga menjadi bagian dari mewujudkan mimpi besarnya PT Timah menjadi produsen timah nomor 1 di dunia. Kami yakin dengan kerjasama semua pihak ini dapat diselesaikan,” kata Dia. (Red/Net)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *