Mantra Semar Mesem, Modus Lain Pelaku Pencabulan Anak Dibawah Umur

  • Whatsapp
Mantra Semar Mesem yang digunakan ST untuk mengelabui korban yang ia setubuhi menjadi salah satu barang bukti dalam Konferensi Pers di Mako Polres Bangka Barat, Jum'at ( 14/2/2020 ) pagi.

BANGKA BARAT — Modus baru yang digunakan ST alias TM ( 56 ) agar dapat menyetubuhi korbannya yang masih dibawah umur, terungkap. Pria yang berprofesi sebagai buruh tani ini, ternyata mengelabui korbannya dengan mantra Semar Mesem.

Korban meminta dibacakan mantra Semar Mesem, agar pemuda yang ia sukai tertarik padanya. ST menyanggupi permintaan korban.

Muat Lebih

” Motifnya suka aja. Dia minta doa Semar Mesem, saya bilang bisa, karena saya punya tulisannya,” ungkap ST alias TM saat Konferensi Pers di Mako Polres Bangka Barat, Jum’at ( 14/2/2020 ) pagi.

ST pun menjalankan akal bulusnya dengan mengelabui korban. Dia mengatakan, mantra Semar Mesem itu baru bisa berfungsi dan mujarab jika korban mau ia setubuhi. Korban yang mempunyai keterbatasan itu pun percaya dengan akal – akalan ST.

” Iya, dia kan mintanya hanya itu, sedangkan saya hanya bisa menulis aja, bisa membaca. Tapi sudah itu harus digagahi dulu baru mujarab. Anak itu tetangga saya, dia memang nggak normal,” tutur ST.

Diberitakan sebelumnya, ST alias TM ( 56 ) ditangkap Tim Garuda bersama anggota Unit Idik IV Polres Bangka Barat di sebuah rumah di depan RSUD Sejiran Setason Bangka Barat,  Rabu ( 5/2/2020 ) silam.

Pria ini diringkus karena diduga melakukan pencabulan terhadap korban yang masih berusia 13 tahun, pada Selasa ( 12/11/2019 ) silam.

Modusnya, ST minta korban mengantarnya ke Kebun Singkong, di area perusahaan perkebunan sawit di Kecamatan Muntok. ST berhasil diamankan setelah dua bulan diburu Polisi.

Kapolres Bangka Barat, AKBP Muhammad Adenan, mengaku sangat prihatin dengan adanya beberapa kasus persetubuhan anak di bawah umur belakangan ini. Dia menghimbau kepada Kepala Desa dan Camat agar lebih memperhatikan warganya.

Menurut Adenan, pemicu terjadinya kasus ini diantaranya karena pengaruh buruk internet, handphone dan kurangnya pendidikan.

” Kalau kita lihat memang korbannya nggak sekolah, nganggur, trus nggak memikirkan dampak, resiko, kurang perhatian orang tuanya. Kita menghimbau kepada Kades, Camat, coba lah anak – anak itu sekolah lah, karena ini menyangkut masa depan Bangka Barat juga,” tukas Adenan. ( SK )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *