APARAT PENEGAK HUKUM, DIMINTA TELISIK PROYEK IRIGASI PERSAWAHAN DESA BUYAN

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Proyek pekerjaan irigasi persawahan di Desa Buyan Kelumbi, Kecamatan Tempilang, Tahun Anggaran 2015 dan 2016 yang menelan dana hingga milyaran rupiah yang sempat diberitakan dimedia ini, hingga kini terus tuai sorotan dari berbagai elemen masyarakat, terutama dari kalangan Pegiat Anti Korupsi.

Bacaan Lainnya

Salah satunya dari Lembaga Swadaya Masyarakat Generasi Tanpa Korupsi (LSM GTK) Babel, melalui ketuanya Bambang Susilo, meminta pihak aparat penegak hukum untuk turun kelokasi guna menelisik proyek tersebut.

“Menyimak pemberitaan di media ini (kabarbangka.com,red) terkait proyek irigasi persawahan tahun 2015 dan 2016, dimana disebutkan proyek tersebut diduga bermasalah, maka hal ini perlu ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum,” kata Bambang kepada wartawan, Jum’at (03/02/2017), ketika dimintai tanggapan terkait keluhan warga terhadap proyek pengerjaan irigasi persawahan di Desa Buyan Kelumbi tersebut.

Menurutnya, segala informasi terkait dugaan penyimpangan anggaran yang bersumber dari uang rakyat yang disampaikan dimedia massa, maka pihak berwenang dalam hal ini kejaksaan ataupun kepolisian sebaiknya segera menindak lanjuti informasi tersebut, guna mengetahui sejauh mana kebenaran dugaan penyimpangan anggaran itu terjadi.

“Hal ini perlu ditelisik, guna mengetahui benar apa tidaknya informasi dari warga setempat, yang disampaikan ke wartawan. Memang kalau berdasarkan statemen Kadis PU dan Tata Ruang Kabupaten Bangka Barat, proyek itu sudah diperiksa Inspektorat, BPK dan BPKP. Namun hal itu tidak menutup celah terjadinya dugaan penyimpangan dalam penggunaan anggaran. Banyak kasus yang bergulir ke meja hijau karena berdasarkan laporan masyarakat, yang pada mulanya tidak masuk dalam temuan BPK atau BPKP,” ungkap Bambang.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bangka Barat, Samsir, kepada wartawan media ini berjanji untuk segera memeriksa proyek pekerjaan irigasi persawahan tersebut.

“Terima kasih atas informasinya, kami dari Komisi C DPRD Babar dalam waktu dekat ini akan sidak ke lokasi, guna melihat langsung pekerjaan proyek tersebut. Bila nantinya ada temuan, kami pastinya akan meminta pihak dinas terkait untuk memberikan penjelasan. Dan kalau terjadi indikasi penyimpangan anggaran, maka kita serahkan ke pihak yang berwenang untuk menanganinya,” jelas Samsir panjang lebar via telephon selulernya, Jum’at (03/02/2017).

Sementara itu, Kadis PU Babar Suharli yang di dampingi beberapa stapnya saat di temui wartawan dikantornya baru-baru ini, mengakui memang ada proyek pekerjaan jaringan irigasi yang di kerjakan CV Maharani dengan nilai kontrak Rp 1.095.240.040,94 di tahun 2015.

“Memang ada pekerjaan irigasi di Desa Buyan tahun 2015, dan itu sudah selesai dan tidak ada masalah, termasuk talud yang katanya ambruk juga tidak benar. Sebab kalau pun itu ada yang dibongkar dan dibangun kembali atas kebijakan kontraktor, itu tidak masalah. Dan untuk pekerjaan tanah puru pada tahun 2016 tersebut masih satu paket dan semua sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak kerja,” terang Suharli panjang lebar.

Lebih lanjut diterangkan dia, kegiatan pekerjaan proyek tahun 2016 tersebut sudah di periksa oleh BPK dan tidak ada masalah, bahkan pekerjaan tersebut dikerjakan lebih dari volume pekerjaan semula.

“Adapun keretakan yang terjadi pada proyek pekerjaan tersebut, hal yang wajar. Sebab kondisi tanahnya gambut, namun itu masih dalam masa pemeliharaan,” pungkasnya.

Terpisah, pihak kontraktor PT Bangun Cipta Artha yang berlamat di Pantai Pasir Padi Kav 6 RT 19 Kelurahan Bukit Intan, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkal Pinang, yang diwakili seseorang yang dikenal dengan panggilan Akin saat ditemui dikantornya membantah kalau ada pekerjaan irigasi di Desa Buyan tahun 2016 yang dikerjakan itu tumpang tindih.

” Semua pekerjaan yang kami bangun itu saat itu semuanya dari nol dan tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih dengan pekerjaan tahun 2015. Tidak ada juga pembongkaran pada talud yang ambruk yang di maksud, hanya saja kami ada pekerjaan penyambungan dari pelat deker yang lama,” papar Akin, seraya menambahkan bahwa proyek dimaksud masih dalam masa pemeliharaan.

“Kami siap memperbaiki dan bertanggung jawab atas pekerjaan itu. Sedangkan pekerjaan tanah puru pada jalan itu bukan satu paket, tetapi karena kendaraan kami yang melewati jalan tersebut untuk mengangkut material. Nah, ketika ada jalan yang rusak, maka kami tembok pake tanah puru,” tukas Akin yang didampingi stapnya, Kamis (26/01/2017) lalu.

Sayangnya upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan media ini melalui telephon maupun pesan singkat, kepada pihak CV Maharani Citra Persada, hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan jawaban. (Rml/Tami)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan