BANDARA LETUNG, LAYANAN TRANSPORTASI PERBATASAN

  • Whatsapp


KABARBANGKA. COM — Keberadaan Bandara Letung (Pulau Jemaja) di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau Indonesia (KEPRI),  yang hampir selesai dibangun, membikin wilayah perbatasan mendapat perhatian pemerintah.

Bandara ini nantinya tidak hanya dapat meningkatkan perekonomian wilayah perbatasan, namun dapat berfungsi sebagai basis pertahanan dan keamanan negara.

Bacaan Lainnya

Bandara Letung yang ada di Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan daerah kepulauan, lebih kurang terdapat 255 pulau di kabupaten Anambas dengan ibukota kabupaten berada di Tarempa,  Pulau Siantan.

Kawasan ini disukai pelancong mancanegara, karena dekat menuju Pulau Bawah yang cukup dikenal keindahan alamnya.

Sektor Pariwisata menjadi salah satu tujuan pengembangan ekonomi.
Bandara dengan ukuran landas pacu 1.200 x 30 meter, landas hubung 125 x 15 meter.

Juga landas parkir untuk 3 pesawat 125 x 70 meter. Pada 22 November 2016 telah dilakukan terbang perdana. Sekarang sudah ada penerbangan komersial tiap hari Rabu, dengan menggunakan Susi Air.

Dan istimewanya, menggunakan tarif subsidi, yakni Rp 350 ribu rupiah, untuk rute Tanjungpinang (Pulau Bintan) – Letung (Kab. Anambas).

Ada juga penerbangan sewa bagi turis yang berkunjung ke Pulau Bawah.
Atau menuju pusat pemerintahan (Kota Tarempa di Pulau Siantan), dimana memerlukan layanan konektivitas transportasi yang berkelanjutan.

Jalur darat dan air masih harus disiapkan dengan benar. Kapal penyeberangan diupayakan maksimal satu jam perjalanan. Sementara jarak Pulau Jemaja dan Pulau Siantan adalah sejauh 45 mil.

Menjadi kerja cerdas bagi pihak Pemda setempat, untuk lebih mengenalkan Kepulauan Anambas ke mancanegara lbh gencar lagi dari sekarang.

Kelak, jika sudah selesai dibangun akhir tahun ini, dapat dilakukan skenario rute penerbangan Batam-Anambas-Natuna, atau Tanjungpinang-Anambas-Natuna.

Pesawat yang digunakan bisa jenis ATR yang berkapastas 70 seat. Bisa tidak perlu disubsidi, jika sudah banyak penggunanya.

Nampaknya, Pembangunan Infrastruktur Transportasi di wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) kini mulai menampakkan wujudnya.

 

Prof.Soegijapranata
Peneliti Lab. Transportasi dan Akademisi jur. Teknik Sipil Unika

 

editor : LH

Pos terkait

Tinggalkan Balasan