Bersama Kasat Intelkam, Kasat Polair Mediasikan Nelayan Dengan PT. Timah

  • Whatsapp

BANGKA — Di dampingi Kepala Desa Rebo, setidaknya belasan orang nelayan dari Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, mengadukan aktivitas penambangan timah mengunakan TI Apung atau Ponton Isap Produksi ke Polres Bangka, pada Senin (14/10/2019) pagi.

Perwakilan nelayan Desa Rebo itu diterima Kasat Polair Polres Bangka, AKP Elpiadi, bersama Kasat Intelkam AKP David Charlie.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Rebo, Fendi, diawal pertemuan mengatakan, dirinya mendampingi warga desanya untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada Kasat Polair Polair Polres Bangka.

Dikatakan Fendi, nelayan Desa Rebo merasa terganggu oleh aktivitas penambangan timah di laut Rebo, yang merupakan alur keluar masuk perahu nelayan.

“Begini Pak Kasat, saya mendampingi nelayan kami, yang mengeluh terganggu dengan ada TI Apung di jalur keluar masuk perahu nelayan. Tadi pagi nelayan mau melapor ke Polda Babel, tetapi diarahkan ke Polres Bangka dulu,” ungkap Fendi.

Masih kata Fendi, penambang yang dipimpin oleh Min Kho selaku penanggungjawab lapangan, sudah memiliki Surat Perintah Kerja (SPK) dari PT. Timah Tbk.

Hanya saja, masih kata Fendi, dalam SPK itu tidak dilengkapi dengan titik koordinat lokasinya, juga tidak ada jumlah ponton TI Apung yang bernaung dibawah bendera CV. Lama, perusahaan mitra PT. Timah Tbk.

“Kami dari pihak pemerintah desa tidak pernah dilibatkan, tahu-tahu sudah keluar SPK-nya. Seharusnya, kan ada survey dulu, baru dikeluarkan SPK yang jelas titik koordinatnya, yang jelas rencana kerjanya, jelas berapa jumlah pontonnya. Ada masalah¬† nelayan ngeluhnya ke kami,” beber Fendi.

Fendi menambahkan, pihaknya meminta bukti tertulis dari PT. Timah, jika benar CV. Lama bekerja diluar blok atau lokasi rencana kerja yang ditunjuk oleh PT. Timah Tbk.

“Kami meminta bukti tertulis dari PT. Timah sesuai perkataan Rusmito, kalau benar Pihak CV. lama ( Min Kho ) bekerja di luar Blok Rencana Kerja dari PT. Timah. Dan CV. Lama sudah salah, karena bekerja di luar blok RK pada SPK PT. Timah,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, perwakilan nelayan Desa Rebo, A Shiaw mengatakan, pada dasarnya nelayan tidak mempermasalahkan dengan adanya penambangan timah tersebut, selagi tidak mengganggu aktifitas dan jalur keluar masuk perahu nelayan.

“Tapi yang terjadi sekarang, TI itu sudah mengganggu kami pak. Mereka bekerja ditengah-tengah alur keluar masuk perahu nelayan. Sekarang sudah ada gundukan pasir ditengah alur perahu nelayan, itu sangat berbahaya. Sudah ada perahu nelayan yang jadi korban,” ungkap A Shiaw.

Senada dengan rekan-rekan nelayan yang hadir, A. Shiaw menyatakan, pihaknya hanya meminta agar penambang menyingkir dari alur keluar masuk perahu nelayan.

“Intinya, jangan ganggu kami (nelayan-red). Kami hanya minta para penambang TI Apung yang bekerja di jalur nelayan itu menyingkir. Silahkan mereka mau menambang, tapi agak jauh lah, jangan ganggu jalur nelayan,” tukas A Shiaw.

A Shiaw juga mempertanyakan SPK yang dikeluarkan PT. Timah Tbk kepada penambang, lantaran SPK itu tidak mencantumkan titik koordinat lokasi dan tidak jelas berapa ponton yang diakomodir oleh CV. Lama dalam SPK itu.

AKP Elpiadi, pada musyawarah bersama nelayan Desa Rebo dan perwakilan PT. Timah itu mengatakan, bahwa aspirasi dari nelayan Desa Rebo sudah diterima, dan sudah disampaikan langsung kepada pihak PT. Timah Tbk, juga akan dilaporkan kepada atasan. Dia juga meminta dukungan dari nelayan dan PT. Timah, jika suatu saat nanti melakukan tindakan penegakan hukum terhadap aktivitas penambangan yang diduga melanggar aturan tersebut.

“Nah, aspirasi kawan-kawan sudah kami terima, dan di sini sudah ada perwakilan dari PT Timah. Dan dari PT. Timah sudah memastikan, bahwa TI Apung yang dikelola Min Kho bekerja di luar titik koordinat RK yang sudah ditentukan. Sebagai penegak hukum, kami juga minta dukungan dari nelayan dan PT. Timah, untuk mendukung kami jika nantinya kami melakukan tindakan refresif, tindakan penegakan hukum,” terang AKP Elpiadi.

AKP Elpiadi juga meminta ketegasan dan kepastian dari pihak PT. Timah Tbk, menyikapi persoalan antara nelayan Desa Rebo dengan TI Apung atau PIP di laut Rebo tersebut.

“Tolong dipastikan, jika benar TI Apung itu ada SPK dari PT Timah, titik koordinat lokasinya di mana? Berapa luasnya? Berapa ponton yang diakomodir? Dan jika ternyata, bahwa aktivitas TI Apung itu bekerja di luar RK, apakah ada konsekuensinya?” kata AKP Elpiadi.

Mantan Kasat Reskrim dan Kasat Polair Polres Bangka Barat itu menegaskan, jika benar TI Apung atau PIP yang dikelola Min Kho melalui CV. Lama itu menyalahi aturan, dia meminta agar PT. Timah segera bertindak.

“Kalau benar lokasi CV. Lama itu bukan di situ, kami minta PT. Timah juga bertindak tegas. Pada dasarnya nelayan Desa Rebo ini sudah cukup toleransi, selagi TI Apung itu tidak mengganggu jalur nelayan, tidak akan ada masalah. Tapi ini nelayan sudah terganggu. Jadi tolong, PT Timah agar TI Apung dibawah koordinasi Min Kho dan kawan-kawan, supaya menyingkir dari lokasi yang di komplain oleh nelayan ini,” tegasnya.

AKP Elpiadi juga mengucapkan terimakasih kepada perwakilan nelayan Desa Rebo, yang sudah menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif, dengan tidak bertindak anarkis atau tindakan lain yang dapat mengganggu Kamtibmas.

Sementara Rusmito, selaku perwakilan dari PT. Timah Tbk, memastikan bahwa Surat Perintah Kerja atau SPK yang dikeluarkan oleh PT. Timah Tbk kepada CV. Lama itu sah. Hanya saja, TI Apung atau Ponton Isap Produksi yang dikelola Min Kho dan kawan-kawan itu bekerja di luar titik koordinat lokasi yang ditunjuk oleh PT. Timah sesuai SPK.

“SPK ini sah. Tapi mereka (Min Kho dkk) memang salah, mereka bekerja di luar titik koordinat, di luar RK (Rencana Kerja). RK CV. Lama itu agak jauh dari situ, dan tidak mengganggu jalur nelayan,” jelas Rusmito.

Ketika di desak nelayan, apa sikap PT. Timah terkait hal tersebut? Rusminto memastikan sudah melaporkan hal itu kepada atasannya. Dia juga memastikan, hari ini juga kawasan yang dipersoalkan oleh nelayan Desa Rebo itu akan steril dari aktivitas TI Apung atau PIP.

“Sebenarnya masalah ini juga sudah saya laporkan ke atasan. Min Kho juga sudah kami peringatkan, bahwa lokasi mereka bukan di situ. Dan kami juga sudah ingatkan Min Kho, agar bergeser dari lokasi itu, karena ada komplin dari nelayan. Tapi hari ini, sekitar jam 2 (14:00) WIB, kami bersama tim keamanan dari perusahaan (PT. Timah Tbk), dan Polair akan turun ke lokasi. Hari ini juga kami pastikan lokasi itu steril, tidak ada lagi aktivitas penambangan di situ,” tegasnya.

Menanggapi banyaknya jumlah ponton TI Apung atau PIP yang beroperasi di lokasi itu, Rusminto mengatakan hahya 5 unit PIP yang bernaung dibawah bendera CV. Lama.

“Sebenarnya, CV. Lama itu dalam SPK-nya hanya 5 ponton,” kata dia.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Kasat Polair dan pihak PT. Timah, perwakilan nelayan Desa Rebo membubarkan diri. (Red)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan