Bongkar Muat Batu Split Terus Berjalan di Dermaga Ilegal

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM, BASEL — Meskipun Dermaga Dusun Gusung Desa Rias, Kecamatan Toboali, dinyatakan ilegal dan berstatus quo oleh pihak berwenang. Namun aktivitas bongkar muatan batu split milik salah satu perusahaan (PT SMA) yang bergerak dibidang pengaspalan dan pembangunan jalan, hingga kini masih tetap melakukan aktivitas dengan memindahkan batu split tersebut ke pabrik aspal yang berada di Desa Keposang, Toboali.

Bacaan Lainnya

Pantauan wartawan dilapangan pada Rabu (27/6/2018) sore, belasan unit mobil dump truck keluar masuk ke pesisir pantai Gusung Desa Rias, dan dilokasi terdapat 1 unit excavator jenis builloader yang memindahkan tumpukan batu split itu ke mobil dump truck, dan kemudian dibawa ke pabrik aspal PT SMA yang terletak di Jalan Raya Sadai, tepatnya di Desa Keposang Toboali. Belasan unit mobil dump truck yang berisikan barang muatan batu split itu ditutup dengan terpal berwarna hitam dan coklat saat menuju ke pabrik aspal PT SMA.

“Kami hanya bekerja mengangkut batu ini untuk dibawa ke pabrik PT SMA di Desa Keposang. Pabrik aspal, pengurusnya Aliong,” jelas salah satu pekerja dan sopir mobil dump truck.

Menurut Idrus warga Dusun Gusung, aktivitas pengangkutan batu split baru saja dimulai pada Rabu siang hingga sore. Batu split ini sebelumnya dibawa oleh tongkang, dan kemudian diturunkan di Dermaga Gusung.

“Nggak tahu juga batu ini berasal dari mana dan mau dibawa kemana, karena saya datang kesini hanya cuma mau melihat saja. Nggak tahu siapa pemilik batu ini, ada 1 unit tongkang sebelumnya yang membawa batu ini, dan tongkang itu berlabuh di Dermaga Gusung,” kata Idrus.

Terpisah, Ketua Gerakan Masyarakat Lingkungan (Gempa) Bangka Selatan, Yudhi Andrianto meminta Bupati Basel, Justiar Noer dan dinas terkait untuk responsif menyikapi polemik aktivitas bongkar muat batu split di dermaga Gusung Toboali. Pasalnya, dermaga tersebut masih berstatus quo atau ilegal.

“Kami meminta Bupati untuk responsif menyikapi aktivitas bongkar muat batu split di dermaga Gusung. Tidak boleh ada aktivitas bongkar muat, adanya tumpukan (stockpile) batu split karena dermaga tersebut masih berstatus quo, ilegal,” kata Yudhi.

Aktivis lingkungan tersebut menjelaskan, bahwa sebelumnya di kawasan dermaga Gusung juga pernah ada aktivitas pasir kuarsa yang dilakukan perusahaan yang berbeda. Namun, aktivitas tersebut tidak berlangsung lama lantaran ditolak warga setempat dan akhirnya dihentikan oleh pemerintah daerah (Pemda). Bahkan, kata Oday sapaan akrab Yudhi di kawasan dermaga tersebut masih terpasang papan plang yang disegel oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Lingkungan Hidup (DPKPLH) Pemkab Bangka Selatan.

“Aktivitas di kawasan dermaga Gusung tersebut dalam pengawasan pihak Gakum (Penegakan Hukum). Dermaga tersebut bukanlah tempat singgah, karena belum memiliki legalitas pemiliknya, dan tentunya bongkar muat batu split di kawasan itu sudah mengabaikan konsistensi penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan. Itu jelas pelanggaran dan harus dihentikan dulu,” jelas Oday.

Ia menambahkan, Gempa Basel tentunya tetap konsisten mendukung segala program yang dilaksanakan dan akan dilaksanakan oleh pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi maupun pemerintah daerah.

“Tentu, kita konsisten mendukung segala program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mempercepat pembangunan di daerah. Tetapi dalam pelaksanaannya itu harus sesuai prosedural dan tidak menabrak aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sendiri,” ujar Oday, seraya mengajak masyarakat untuk terus melakukan pengawasan dan kontrol sosial terlebih lagi peka terhadap lingkungan.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas bongkar muatan batu split di dermaga atau pelabuhan Dusun Gusung Desa Rias, Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan diduga ilegal. Pasalnya, status atas kepemilikan dermaga tersebut juga masih belum jelas dan bahkan bukan milik aset Pemerintah Daerah (Pemda).

Menurut informasi yang beredar, aktivitas ilegal bongkar muatan batu split dari tongkang itu milik dua perusahaan yang berbeda di Bangka Belitung. Batu tersebut didatangkan dari luar daerah, untuk proyek pembangunan jalan di Kecamatan Pulau Besar. (Red1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan