CUACA TAK MENENTU, HASIL TANGKAPAN NELAYAN BERKURANG

  • Whatsapp

IMG_20160822_060327 IMG_20160822_060359

KABARBANGKA.COM – Sungailiat

Bacaan Lainnya

Masyarakat Kota Sungailiat, terdiri dari berbagai suku, etnis, juga adat dan budaya. Ada yang berprofesi sebagai PNS, pegawai perusahaan, petani, dan juga nelayan.

Bagi yang berprofesi sebagaimana nelayan, hampir tidak ada waktu untuk istirahat dan tidur. Bagaimana bisa? Ya, jika sedang berada dilaut, mereka harus bertaruh nyawa dengan cuaca alam, yang jarang mau bersahabat.

Tiba di darat (pelabuhan), harus menjaga perahu dan muatannya sebelum hasil tangkapan mereka dibongkar.

Pantauan kabarbangka.com di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, Senin (22/08/2016) sekira pukul 02.00 WIB – 04.00 WIB (shubuh), nampak sejumlah perahu milik Elly (33), warga Jalan Yos Sudarso, Pelabuhan Sungailiat, sedang bongkar muatan berupa beberapa jenis ikan dan cumi-cumi (sotong). Perahu yang dikelola oleh sejumlah ABK itu baru tiba dari laut, petang kemarin.

Beda jenis ikan, beda ukuran (besar/kecil), beda pula harganya. Ikan Tenggiri dijual dengan harga Rp 60.000/Kg, cumi-cumi dijual seharga Rp 46.000/Kg. Sedangkan ikan lainnnya yang kurang berkelas, atau biasa dikenal dengan sebutan Ikan Ruca (campuran), dijual rata-rata Rp 5.000/Jg – Rp 8.000/Kg.

Elly bersyukur, hasilnya tangkapan nelayan yang mengelola perahunya, cukup lumayan.

“Inipun sudah bersyukur, hasil perahu lumayan. Karena dilaut luar sana, cuaca tidak menentu juga. Banyak perahu orang lain yang kurang hasilnya, jadi kasian juga. Kalo hasil perahu punya Ku, masih lumayan lah”, ujar Elly, saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) PPN Sungailiat, Senin (22/08/2016) sekira pukul 04.00 WIB shubuh.

Biaya Operasional atau biasa disebut Ransum, setiap perahunya perlu biaya sekitar Rp 1,5 juta s/d Rp 2 juta. Ransum itu hanya cukup untuk 3 orang, selama 4-5 hari dilaut.

Mahalnya harga kebutuhan melaut seperti Solar, peralatan suku cadang mesin, dan Sembako, membuat biaya operasional nelayan semakin besar. Bila hasil tangkapannya sedikit, tentu tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Menyikapi mahalnya harga barang kebutuhan tersebut, Elly berharap agar harga barang kebutuhan pokok bisa stabil, dan kalau bisa harganya bisa lebih murah.

“Harapan aku sih, harga barang kebutuhan bisa stabil, kalau bisa lebih murah lagi”, kata Elly berharap.

Elly juga berharap harga jual ikan dan cumi-cumi hasil tangkapan nelayan bisa lebih mahal. Mengingat tidak semua nelayan Pancing bisa mendapatkan hasil yang banyak.

“Kalau bisa, harga ikan lebih mahal, dan ada pembeli bisa menampung hasil tangkapan nelayan dengan harga yang bagus dan stabil. Karena kasian juga, yang namanya nelayan Pancing itu kan, tidak semuanya bisa banyak hasilnya. Ini aja banyak nelayan yang mengeluh, hasil tangkapan sedikit, terus harga jualnya juga murah. Jadi tidak imbang begitu”, paparnya.

BEDA MUSIM, BEDA ALAT TANGKAP YANG DIBUTUHKAN

Ternyata, masih banyak nelayan butuh bantuan peralatan tangkap. Karena beda musim, beda pula peralatan yang dibutuhkan.

Hal itu disampaikan Elly (33), warga Jalan Yos Sudarso, Pelabuhan Sungailiat, Senin (22/08/2016) pagi. Elly adalah pemilik sejumlah perahu, yang dikelola oleh anak buahnya, yang berprofesi sebagai Nelayan Pancing.

“Beda musim, beda juga peralatan yang dibutuhkan. Kalau saat ini, yang paling menghasilkan itu nelayan Bubu. Sementara banyak nelayan yang tidak punya modal untuk membuat atau membeli Bubu, karena harganya lumayan mahal”, terang Elly.

Dia berharap, pemerintah memberikan bantuan modal untuk membuat atau membeli alat tangkap seperti Bubu tersebut.

“Kalau bisa, pemerintah kasih bantuan modal untuk membuat atau membeli Bubu. Atau kasih Bubu aja langsung, supaya nelayan bisa menyesuaikan alat tangkap dengan musin saat ini”, harapnya. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan