CUAL SE ABAD ADA DI BELINYU

  • Whatsapp

 

Bacaan Lainnya

KABARBANGKA.COM— Suatu kebanggaan tersendiri menjadi bagian dari budaya turun temurun asli Bangka. Apalagi ikut dalam menyimpan dan melestarikan budaya dan peninggalan bersejarah nenek moyang.

Martina(56), wanita asal Belinyu ini menyimpan harta karun yang tak ternilai harganya. ‘Cual’ kain tenun khas Bangka Belitung yang berusia seabad berada di tangan Martina.

Yah, pengrajin wanita asal Kelurahan Air Jukung Belinyu Kabupaten Bangka ini menyimpan salah satu benda bersejarah dan bernilai budaya tinggi yang didapat dari peninggalan sang kakek.

Cual se- abad ini pun dalam kondisi yang cukup rapuh mengingat usianya yang sudah dipelihara beberapa generasi.

Karena peninggalan keluarga, cual ini tidak diperjualbelikan.Namun, dipajang dan biasa diperlihatkan ke pelancong yang sengaja mengunjunginya untuk wisata sejarah dan berbelanja. “Dulunya, sering digunakan kakek untuk back ground pelaminan,”kata Martina di kediamannya Rabu siang (22/3) yang juga membuka gerai cual hasil tenunan keluarganya

Perawatan cual lawas bermotif burung hong khas Bangka yang juga tak asing disebut Limar Muntok ini sangat tidak mudah. Dia beserta adik – adiknya merawat kain ini dengan menaburkan bubuk merica agar motif kain tidak luntur dan menghilang. Tanpa menggunakan bubuk pengawet.

Cual ini menandakan betapa tingginya cita rasa nenek moyang suku Bangka dengan lekukan dan warna yang tak usang dimakan waktu. Betapa indahnya, dengan teknik sederhana, seni budaya dahulu sudah bercita rasa.

Kini, Martina sangat berhati hati merawat dan menjaga pusaka turun temurun tersebut.

Dia pun saat ini bertekad membawa cual ke ranah internasional dan terbukti. Cual khas Bangka Belitung saat ini sudah diproduksi dengan berbagai corak dan ragam dari gerai yang dimiliki Martina dan keluarga. Demikian pula dengan pengrajin cual yang tersebat di Babel saat ini. Sehingga, cual sejajar dengan kain lain di Indonesia yang mendunia. “Ini juga pinggirnya sudah ada yang bolong, jadi extra hati-hati merawatnya, kita pakai lada, sehingga awet motifnya,” jelasnya.
Sekarang ini lanjut Martina, kain cual ini dijadikan koleksi baginya, dan terus disimpannya sehingga tetap awet dan terjaga.
“Ini salah satu khazanah budaya kita, jadi terus dijaga, saya simpan ditempat yang khusus, supaya tidak rusak, sayang, apalagi ada nilai sejarahnya,” tutur Martina. (Pemkab Bangka)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan