DEPATI AMIR LAYAK JADI PAHLAWAN NASIONAL

  • Whatsapp

depati-amir_20151110_093925

PANGKALPINANG, UBB — Gelora untuk menjadikan Depati Amir sebagai pahlawan nasional dari Bangka Belitung (Babel) hingga kini tetap ‘murup’ (menyala) di kalangan warga masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Bacaan Lainnya

Terbukti, Sabtu (29/10/2016), seharian penuh digelar seminar nasional Depati Amir bertajuk ‘Pahlawan Nasional Kepulauan Bangka Belitung Maruah Negeri dan Simpul Pengikat Kebangsaan’ di Griya Timah Convention, PT Timah, Pangkalpinang.

Seminar yang digelar bersama antara Tim Pengusul Pahlawan Nasional Provinsi Kepulauan Babel dengan PT Timah ini menghadirkan sejumlah pakar sejarah dari perguruan tinggi, pengamat sejarah lokal dan pihak dari Kementerian Sosial RI.

Sekretaris Penyelenggara Seminar Nasional Pahlawan Depati Amir, Eddy Jajang Jaya Atmaja, Jumat (28/10/2016) pagi, menjelaskan pihaknya mengundang kalangan mahasiswa, pelajar, pemerhati sosial-budaya, dosen dan guru serta sejumlah pengurus paguyuban yang ada di Babel.
Seminar ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya sepersepun alias gratis, menghadirkan sejumlah narasumber: Prof Dr M Dien Majid (Guru Besar Sejarah UIN Syarifhidayatullah Jakarta), Prof Dr Susanto Zuhdi (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Dr Saidun Derani MA, Johan Wahyudi M.Hum (UIN Syarifhidayatullah Jakarta), Drs Akhmad Elviah (pengamat sejarah Babel) dan Dra Siti Aisyah Basjarijah (Kasubdit K2KS Kemensos).

“Kajian ilmiah dan pemikiran yang muncul dari seminar akan melengkapi argumen bahwa Depati Amir layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Itu semua akan dimasukkan ke dalam naskah usulan yang nanti akan dibawa ke kementerian yang berwenang di Jakarta,” ujar Eddy Jajang J Atmaja.

Seminar seharian penuh ini sendiri menurut Eddy Jajang memang dilatarbelakangi oleh keinginan kuat dari masyarakat Babel untuk menjadikan Depati Amir sebagai pahlawan nasional. Meski diakui bahwa usulan itu telah dua kali diajukan ke Jakarta, namun belum membuahkan hasil.

Tim pengusul optimistis usulan kali ini akan berhasil, mengingat perjuangan melawan penjajah yang dilakukan Depati Amir, Depati Hamzah dan warga masyarakat Bangka pada waktu itu, selama tiga tahun terus-menerus (1848-1851) benar-benar heroik.

“Saking hebatnya strategi perang Depati Amir, menyebabkan pihak penjajah Belanda sengaja mendatangkan pasukan khusus ke Bangka,” ucap Eddy Jajang.

Pendapat senada juga dikemukakan Johan Murod, Ketua Penyelenggara Seminar Nasional Depati Amir. Menurut Johan, perlawanan dan strategi perang Depati Amir sangat dasyat. Pasukan Belanda kerap dibuat kewalahan ketika hendak menangkap Depati Amir.

“Depati Amir dinilai Belanda sangat bahaya. Untuk menangkap Beliau kala itu, Belanda mendatangkan Kompi Afrika, yaitu satu pasukan khusus yang saat itu bertugas di Afrika, ke Bangka,” ujar Johan.

Berdasarkan catatan sejarah, Depati Amir, Hamzah dan pengikutnya mempraktikkan perang gerilya. Mereka dikenal licin dan menggunakan senjata tradisional seperti pidung dan sumpit.

Dalam sejumlah penyergapan yang dipimpin Lettu Dekker di Cepurak dalam bulan Nopember dan Desember 1850, Depati Amir, Hamzah dan pengikutnya, berhasil meloloskan diri.

Namun akibat pengepungan yang cukup lama, kondisi fisik lemah dan menderita sakit, Depati Amir dan Hamzah berhasil ditangkap 7 Januari 1851. Mereka dibawa ke markas militer Belanda di Bakam, kemudian keduanya dibawa ke Belinyu pada 16 Pebruari 1851.

Pada tanggal 28 Pebruari 1851, Depati Amir dan Hamzah diberangkatkan dari Pelabuhan Mentok ke tempat pengasingan di Desa Air Mata Kupang, NTT, menggunakan Kapal Uap Unrust selama enam bulan pelayaran di laut.
Dalam pengasingan, Depati Amir dan Hamzah membantu warga setempat melawan penjajah. Mereka juga memberikan pengetahuan cara pengobatan tradisional dan mengajarkan Agama Islam bagi warga sekitarnya, serta mendirikan mesjid (Eddy Jajang Jaya Atmaja)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan