DINAS PERTANIAN BANGKA BUAT PUPUK ORGANIK HAYATI

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Membantu petani meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang optimal, Pemerintah Kabupaten (PEMKAB) Bangka melalui Dinas Pertanian melakukan terobosan dengan menambah atau mensubtitusi Pupuk Organik Hayati (POH). POH ini merupakan kandungan bakteri yang bisa mengurai bahan organik dan kimia serta logam berat yang ada di dalam tanah.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pertanian, Kemas Arfani Rahman, Jumat (17/3) di Kantor Bupati Bangka. Jika bahan organik, kimia yang berupa pupuk cepat mengurai, dan tanaman cepat menyerapnya untuk kebutuhan pertumbuhannya. Sedangkan jika ada logam berat, tidak akan berpengaruh pada tanaman itu sendiri dan tubuh manusia. “Kita bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI,red) terkait pupuk organik hayati ini, untuk melakukan kegiatan pertanian secara optimal,” ungkapnya

Diuraikannya, kerjasama dengan pihak LIPI merupakan salah satu program Dinas Pertanian dengan tujuan untuk membangun spirit dalam konservasi dan membangun pertanian berkelanjutan berbasis mikroba unggul terseleksi dari berbagai ekosistem. “Tujuannya, untuk memandirikan petani, mengurangi terhadap pupuk kimia dan menyehatkan serta menyuburkan tanah,” jelas Kemas.

POH, ditemukan LIPI¬† Cibinong dan merupakan salah satu tindak lanjut kerjasama antara Pemkab Bangka dengan LIPI tahun kemarin. “Kita mendapat izin atau amanah dari LIPI untuk memperbanyak bakteri tersebut, dengan metode yang telah LIPI kembangkan, jadi kita ada alat yang telah dihibahkan pihak LIPI kepada Pemkab Bangka,” terangnya.

Saat¬† ini, POH telah memasuki produksi yang ke empat, dan setiap bulan bisa menghasilkan 450 liter. “Sekarang ini yang telah dimanfaatkan, karena tanah-tanah di Bangka ini banyak jenuh Hara, yang dicirikan kandungan kimia terlalu banyak yang diberikan petani pada tanaman,” jelasnya.

Fungsi dari POH adalah untuk menguraikan tanah sehingga menjadi dingin, memperbaiki struktur tanah sehingga tanaman menjadi subur. “Kita telah memanfaatkannya di perkarangan kantor kita. Dulu, banyak pasir dan kita gunakan POH, dan subur tanahnya karena banyak mengandung mikroba, jasad renik dan cacing juga sehingga tanah menjadi subur, ini untuk tanah bukan untuk tanaman,” tutup Kemas. (Pemkab Bangka)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan