DIREKTUR PDAM TIRTA BANGKA, WELLINDRA BASHIR, S.Sos

  • Whatsapp

Wellindra Bashir, S.Sos, atau biasa disapa Welly Wiba, saat ini menjabat Direktur PDAM Tirta Bangka. Pria kelahiran Pagaralam (Sumsel), putra dari pasangan Bapak Barlian Bashir (alm) dan Ibu Laisya ini, telah berhasil membawa Perusahaan Daerah Air Minum tersebut bangkit dari keterpurukan. Baik itu system pelayanan dan manajemen, juga krisis keuangan perusahaan.

Bacaan Lainnya

Welly mengawali karirnya bekerja di Perusahaan Air Minum, mulai dari tukang cangkul galian pipa di Proyek Peningkatan Sarana Air Bersih (PPSAB) Kota Pangkalpinang. Kemudian, dia diterima bekerja di PDAM Tirta Bangka, dan bertugas sebagai Penjaga Malam dilokasi Intake PDAM Tirta Bangka di Belinyu.

Selanjutnya, dia ditempatkan di Bidang Distribusi Air Bersih di PDAM Toboali. Setelah itu, Welly bertugas sebagai Kasubag Produksi dan Driver Mobil Tangki di PDAM Tirta Bangka. Kemudian pada tahun 2013, Welly melamar jadi Direktur PDAM Tirta Bangka. Dia berhasil lolos dalam berbagai tahapan seleksi, hingga kini dirinya dipercaya menjabat Direktur PDAM Tirta Bangka.

Berikut ini kutipan wawancara dengan Wellindra Bashir, S.Sos belum lama ini:

Bisa diceritakan, bagaimana kehidupan masa kecil dan masa sekolah anda ? Apa yang paling berkesan?

“Saya sekolah di SD Muhammadiyah Pagaralam, jarak dari rumah 5 KM setiap hari jalan kaki. Kemudian saya melanjutkan di SMPN 1 Pagaralam, jaraknya sekitar 10 KM dari rumah, juga ke sekolah dengan berjalan kaki. Yang paling berkesan adalah, saya paling tidak suka melihat teman yang lemah dan tidak mampu dikeroyok, jadi sering bantu teman yang tidak mampu, ketika ditindas oleh teman lain yang lebih besar dan lebih kuat. Saya akan selalu membela teman yang lemah itu, akhirnya berantem juga, karena bela teman yang lemah tadi”.

Bagaimana didikan orang tua anda dulu?

“Orang tua mendidik saya dengan cara warga dusun kami, jadi cukup keras dan disiplin, ya? Jadi, selalu hal-hal yang bersifat prinsif kehidupan itu memang ditekankan. Disiplinnya tinggi, karena hidup keras dan miskin, jadi kami tidak ada istilahnya yang duduk santai. Kalau kami banyak santai, tidak bisa makan. Jadi mulai dari pekerjaan mengambil upah, itu sudah biasa. Tetapi kami juga, diberikan sedikit demokrasi oleh orang tua, ketika dalam hal kita mau berolahraga seperti main bola dan lain sebagainya, juga ada dukungan dari orang tua”.

Perjalanan panjang karier yang sudah anda ukir selama ini, akhirnya menempatkan anda sebagai Direktur PDAM Tirta Bangka. Ketika pertama kali menduduki jabatan tersebut, prioritas kerja apa yang anda agendakan?

“Kalau tentang karir, saya adalah salah satu karyawan PDAM yang memulai karir dari yang paling bawah. Karena basic saya diterima di PDAM Tirta Bangka ini diterima selaku Penjaga Malam, karena saya melamar dengan Ijazah SMP. Jadi, kan bisa dimaklum, ya? Tetapi, setelah jaga malam, siangnya saya sekolah. Bahkan, sampai sekarang saya masih menempun pendidikan Pasca Sarjana di Fakultas Hukum PERTIBA, saya ambil jurusan Hukum Tata Negara. Dan seluruh pekerjaan di PDAM ini yang berkaitan dengan teknis, hampir saya kerjakan. Bisa dibayangkan, mulai dari jaga malam, pembaca meteran, bagian produksi dan distribusi, juga pernah dibagian laboratorium”.

Sudahkah anda memetakan dan memilah persoalan yang ada di jajaran PDAM, baik itu persoalan pelayanan publik maupun persoalan adminitrasi lainnya?

“Pasti! Baik itu dalam arti pelayanan teknis dan administrasi di manajemen kami. Pertama yang saya lakukan pemilahan adalah penempatan sumber daya manusia yang ada di PDAM, kita sesuaikan dengan kemampuan personil. Jadi, kalau kemampuannya di teknis, ya, tidak bisa kita paksakan mereka kerja di manajemen administrasi. Sebaliknya, yang dibagian manajemen tidak bisa dipaksakan harus kerja dibagian teknis. Semuanya harus berimbang, sesuai dengan kemampuan personil. Namun dalam hal ini, kami tetap berfikirnya rasional dan professional”.

Menurut anda, sudah cukupkah perangkat yang anda miliki di jajaran PDAM Tirta Bangka dengan berbagai macam persoalan yang harus ditangani dan diselesaikan?

“Menurut saya sudah cukup, karena PDAM Tirta Bangka sudah cukup dewasa diusia 24 tahun. Jadi, kemampuan personil itu terbukti ketika mereka kita berikan kesempatan berkarir, berkarya dan berinnovasi, hasilnya mereka bisa bekerja dengan kemampuan yang ada, untuk melakukan hal-hal yang mendukung operasonal PDAM, supaya lebih kepada kiprah yang lebih bagus”.

Bagaimana pula anda melihat kualitas SDM yang bekerja di lingkungan PDAM Kabupaten Bangka?

“Kalau persoalan kwalitas, yang pasti ini sebuah tantangan bagi saya untuk melakukan pembenahan-pembenahan. Apalagi disaat sekarang, disaat saya baru memimpin PDAM, semuanya masih bersifat manual, belum mengarah ke IT. Nah, untuk mengarah ke IT ini, dengan berat hati dan dengan segala resiko, saya harus melakukan restorisasi besar-besaran di PDAM Tirta Bangka. Terkhusus kepada karyawan-karyawan PDAM Tirta Bangka yang sudah senior. Mereka yang hanya tinggal menunggu waktu pensiun, tapi kemampuan IT-nya boleh dibilang tidak ada kemampuan sama sekali. Oleh karena itu, saya merekrut orang-orang yang punya kemampuan dibidang Akuntansi, bidang IT, bidang Tehnik Sipil, bidang Lingkungan Hidup, semuanya saya rekrut ada anak-anak muda yang masih dinamis untuk mendukug kemajuan PDAM. Sementara SDM personil PDAM yang tidak memiliki kemampuan tersebut, saya pekerjakan diposisi yang memang tidak semua harus memiliki kemampuan khusus seperti IT. Seperti di operator, dilapangan, dilogistik, diperencanaan, dengan pola yang terpaksa saya rubah dengan pola transformasi. Karena saya akan merubah dari pola 70:30, yaitu 30 % SDM-nya di tempatkan di manajemen dan 70 % diteknis. Jadi, kalau dulu karyawan kebanyakan dikantor, sekarang saya rubah supaya ada keseimbangan pelayanan dan manajemennya, dalam kontek beberapa aplikasi-aplikasi yang sudah kita terapkan, termasuk pembacaan meteran pelanggan”.

Manajemen kepemimpinan yang seperti apa, yang anda terapkan dalam mengendalikan PDAM?

“Yang saya terapkan adalah Manajemen Keterbukaan terhadap seluruh karyawan PDAM Tirta Bangka, melakukan sentuhan-sentuhan yang selama ini tidak ada mereka lakukan, ini saya rubah polanya. Kembali kepada pengalaman saya sebagai seorang penjaga malam, ya? Kalau dulu jarak antara penjaga malam dengan Kepala Bagaian dan Direktur itu, sangat jauh. Nah, ketika saya menjabat sebagai Direktur, ketika saya ada masalah, saya kadang minta pandangan dan pendapat, saya mulai dari bawah. Karena tidak serta merta saya langsung eksekusi pendapat-pendapat itu. Kepala Bagian juga belum tentu mendapatkan sebuah informasi, tetapi kadang-kadang informasi dan usulan pemecahan masalah itu datangnya ada yang dari bawah. Kami pastikan PDAM Tirta Bangka milik bersama”.

Bagaimana anda beradaptasi dengan lingkungan, dan budaya birokrasi disini?

“Bagi saya tidak sulit berkomunkasi di birokrasi, baik dengan DPRD Bangka maupun dengan Pemkab Bangka. Karena, system yang membuat saya harus berkomunikasi dengan beliau. Dan saya harus banyak belajar, dan gimana saya menempatkan diri saya dengan senior-senior saya, baik di pemerintahan maupun di DPRD Bangka. Apapun bentuk dan alasannya, bagi saya koreksi mereka bukanlah sebuah permasalah, tetapi koreksi dan masukan adalah sesuatu yang berharga. Tanpa masukan dan koreksi dari mereka, saya akan mengalami kesulitan. Bahkan, kadang saya minta saran dan masukan dari mereka untuk kemajuan dan kebaikan PDAM. Karena saya belajar dengan orang yang saya anggap mampu, orang yang sukses, itu yang menjadi pembelajaran bagi saya.

Apa saja keberhasilan yang sudah diraih, sejak memimpin PDAM Tirta Bangka?

“Keberhasilan kami diantaranya adalah, kami berhasil meraih Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Auditor Eksternal. Dan seluruh pegawai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bangka, mendapat Reward (Bonus) berupa tambahan penghasilan sebesar Rp 525.000/bulan, diluar gaji pokok. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur PDAM Nomor: 900/II/PDAM-TB/2016 Tertanggal 10 Mei 2016. Ketika saya dilantik menjadi Direktur PDAM Tirta Bangka pada tanggal 7 Maret 2014, Perusahaan Air Minum (PAM) itu hanya memilik Uang Tunai (Cash Flow) sebanyak Rp 86 juta. Sedangkan hutang PDAM kepada pihak Ketiga (Penyedia Jasa) mencapai Rp 220 juta, dan Tunggakan Pelanggan mencapai Rp 1,8 milyar. Tepat pada tanggal 7 Maret 2016, PDAM Tirta Bangka punya Uang Tunai (Cash Flow) sebanyak Rp 1,5 Milyar, hutang Rp 0, dan Tunggakan Pelanggan relatif sedikit, yaitu hanya tunggakan pelanggan reguler 2-3 bulan saja. Dulu PDAM Tirta Bangka ini terpuruk sangat dalam. Setelah saya dilantik, perlahan saya benahi semuanya. Jadi, keberhasilan itu dapat kami capai, dengan kerja keras dan kebersamaan seluruh Staf dan Pegawai PDAM. Makanya, saya usulkan kepada Dewan Pengawas, untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai, dengan cara memberikan Reward berupa tambahan gaji sebesar Rp 525.000/bulan dari gaji pokok mereka. Karena menurut saya, mereka (Pegawai) semua sudah layak mendapatkan itu (Kesejahteraan). Selain pegawai, keberhasilan yang dapat dicapai oleh PDAM saat ini, tidak terlepas juga dari perannya Dewan Pengawas, yang selalu mengingatkan kami, bahwa semua hitungan-hitungan dari semua program dan kebijakan yang dibuat itu harus jelas. Reward yang diberikan tersebut nilainya disamakan. Baik itu staf, maupun pegawai biasa, semuanya disamakan. Saat ini Gaji Pokok Tertinggi Staf/Pegawai PDAM ini sekitar Rp 7 juta/bulan, dan ditambah Reward sebesar Rp 525.000/bulan. Nah, itu disamakan semua bonusnya, tidak ada perbedaan. Jadi, setelah 2 tahun lebih saya menjabat, saya ajukan Surat Permohonan kepada Bupati Bangka, supaya dilakukan audit terhadap Keuangan PDAM. Dan belum lama ini, Keuangan PDAM sudah dilakukan audit oleh Auditor Independen. Hasil audit kemarin, (PDAM) berhasil meraih predikat WTP. Sebelumnya, kinerja pegawai dan pengelolaan keuangan PDAM Tirta Bangka mendapat Raport Merah (The Red Report) dan mendapat banyak sorotan miring”.

Apakah cita-cita anda saat masih kanak-kanak ? Apakah pekerjaan di bidang PDAM memang anda gemari?

“Tidak ada, tidak sama sekali. Cuma karena faktor nasib pada saat itu, yang bisa menerima saya bekerja hanya PDAM mungkin, ya? Karena saya waktu itu hanya Ijazah SMP, kalau mau melamar jadi pegawai negeri, gak mungkin! Karena faktor kehidupan kedua orang tua saya yang serba ketiadaan, dan ketika saya masih muda juga udah yatim, Mamak sudah janda, dan adik-adik banyak. Jadi gak mungkin saya akan jadi seorang pegawai ataupun sekolah tinggi. Karena saya sadar itu! Namun nasib berkata lain, saya bisa diterima bekerja dengan Ijazah SMP sebagai jaga malam saja, meski gajinya relatif kecil, ytapi itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Jadi tidak pernah terpikirkan , bahwa saya akan dititipin amanah sebagai Direktur. Kalau istilah dari kampung halaman saya dulu, ‘Jauh Panggang Dari Api’. Tetapi, yakinlah ketika kita kerja keras, cerdas dan ikhlas, tuhan tidak akan menutup mata dan telinga untuk hambanya yang layak mendapatkannya. Siapapun itu!”

11. Bisa diceritakan, bagaimana awalnya anda mengawali karir di Perusahaan Air Minum ini?

“Cukup panjang, sih! Karena saya sudah beberapa kali pindah tugas dari PDAM di wilayah kabupaten Bangkai. Awalnya, saya bekerja sebagai honorer di Proyek Peningkatan Sarana Air Bersih (PPSAB) Pangkalpinang, Penjaga Malam di Intake di Belinyu, ke Toboali di Bidang Distribusi, Sungailiat di Bagian Produksi sebagai Kasubag Produksi dan Driver Mobil, baru kemudian tahun 2013, saya melamar jadi Direktur PDAM Tirta Bangka. Ada hal yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin. Karena awalnya saya agak ragu untuk ikut uji kompetensi direktur ini. Karena saya sadar, bahwa saya siapa? Saya tidak ada hubungan dengan pemerintah daerah, khususnya dengan Bupati Bangka, juga dengan DPRD Bangka. Jadi, boleh dibilang cukup berkecil hati. Ini rasanya tidak mungkin, saya akan dapat memegang amanah ini. Namun, kemungkinan itu bisa terjadi, sehingga saya dipercaya oleh Bupati Bangka, melalui rekomendasi dari DPRD Bangka, pada saat itu melalui proses yang panjang. Mulai dari bulan November 2013, sampai saya dilantik pada tanggal 07 Maret 2014. Bagi saya, ini adalah sebuah amanah dan titipan yang harus saya jaga. Jadi, saya harus menjaga jangan sampai Bupati Bangka, ada keraguan memilih saya sebagai Direktur PDAM Tirta Bangka. Dengan kepercayaan itu, yang saya lakukan adalah kerja, kerja, dan kerja. DPRD dan Bupati Bangka, tidak boleh salah memilih orang untuk memimpin PDAM. Kalaupun salah urusan PDAM, itu adalah tanggung jawab manajeman PDAM sepenuhnya. Karena baiknya PDAM Tirta Bangka, adalah untuk menopang kinerja Bupati Bangka juga. Sekali lagi saya tegaskan, Bupati Bangka tidak boleh disalahkan dalam urusan PDAM. Yang boleh disalahkan adalah saya, sebagai perpanjangan tangan beliau”.

Adakah pengalaman yang paling berkesan yang anda alami, selama memimpin PDAM Tirta Bangka?

“Banyak, tetapi yang paling berkesan adalah ketika membongkar kasus korupsi, pungli dan mark up di PDAM Tirta Bangka. Karena itu adalah tindakan yang beresiko, dan ini betul-betul hampir semua karyawan PDAM ini tidak suka dengan saya, dengan gaya dan cara saya pada saat itu. ini yang paling berkesan bagi saya. Tapi pada saat itu, saya mendapat dukungan penuh dari Dewan Pengawas, juga dari pimpinan dan anggota DPRD Bangka, Bupati dan Wakil Bupati Bangka, juga dari Sekda Bangka. Jadi pada saat itu, saya betul-betul dituntun untuk melakukan suatu perombakan besar-besaran di PDAM Tirta Bangka. Karena tanpa dukungan mereka, saya tidak mungkin kerja denga speed tinggi. Sehigga kurang lebih sekitar 8 bulan, saya kerja tak ubahnya bagikan seorang diktator, untuk merubah imaje dan pola pikir seluruh steakholder yang ada, bahkan sampai klimaks pemecatan beberapa karyawan”.

Pernahkah anda mengalami teror dan ancaman selama menjalankan tugas? Dan bagaimana menyikapinya?

“Ada, yang pastinya ada beberapa kali teror dari SMS Gelap. Tapi ketika saya respon, itu biasanya hanya di SMS langsung hilang”.

Bagaimana hubungan anda dengan Pemkab Bangka dan DPRD ? Mulus atau ada ganjalan ?

“Alhamdulillah, hubungan dengan Pemkab Bangka dan DPRD bagus, kami selalu komunikasi dan koordinasi, dan itu wajib. Kita sadar, bahwa PDAM Tirta Bangka ini adalah sebuah perusahaan daerah, sebuah BUMD. Dan satu hal lagi, termasuk kepada seluruh jurnalistik media cetak maupun elektronik, bagi saya ini wajib, karena PDAM sebuah BUMD yang bersifat pelayanan”.

Bagaimana sikap dan dukungan keluarga, terutama anak dan isteri?

“Dukungan dari keluarga, khususnya dari Mamak, bahwa Jabatan Direktur itu adalah amanah dan anugrah kepada saya. Istri saya juga selalu mengingatkan, agar saya selalu bijak dalam membuat keputusan. Anak-anak saya juga selalu mendukung”.

Direktur sebagai ujung tombak dalam penyelesaian persoalan sekaligus nahkoda perusahaan harus memiliki hati yang bersih, apa sih yang menjadi pegangan anda agar bisa menjalankan amanat tersebut?

“Saya selalu memgang teguh pesan dari Mamak saya, agar menjalankan amanah ini dengan baik. Selain itu, saya juga selalu berpegang kepada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Itu saja!”

Kini, adakah harapan yang belum dapat anda wujudkan ? Apakah itu ? Apa yang menjadi kendalanya?

“Ada, saya mau hajikan Mamak saya. Tapi kendalanya, saya belum punya cukup uang untuk beliau berangkat haji ke Tanah Suci Mekkah”.

Penulis: ROMLAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan