Kapal Trawl yang Beroperasi di Babar Resahkan Nelayan Tanjung Ular

  • Whatsapp

BANGKA BARAT – Keberadaan kapal trawl di perairan Bangka Barat meresahkan nelayan tradisional.

Salah seorang nelayan Tanjung Ular, Akiun, mengungkapkan hal tersebut. Menurut dia, alat tangkap trawl mengancam kelestarian habitat ikan dan ekosistem serta pendapatan nelayan.

Bacaan Lainnya

” Tentunya resah, karena pendapatan kami turun drastis, apalagi pukat harimau mereka itu bukanya sampai 50 meter, jadi mau ikan kecil, besar, karang, cumi, semuanya habis kalau terkena pukat trawl itu,” keluh Akiun, Jumat (4/10/2019) di Tanjung Ular.

Akiun menuturkan, selain berdampak pada hasil tangkapan mereka, pukat trawl juga membuat bubu nelayan setempat rusak dan hilang, padahal hasil tangkapan bubu termasuk lumayan, karena ikan yang didapat biasanya ikan karang seperti kerapu yang harganya cukup tinggi.

” Sejak ada trawl ini sering kali bubu yang kami pasang hilang. Misalnya pasang hari ini, besok pas mau diangkat tahu – tahu sudah hilang. Satu bubu itu modalnya sampai dua ratus ribu lebih, belum tali, dan kayunya,” katanya.

Kegiatan kapal trawl itu menurut Akiun telah dilaporkan ke aparat penegak hukum, namun belum mendapat tanggapan yang berarti sehingga semakin membuat resah kelompok nelayan Tanjung Ular.

” Sudah bosan kami ngelapor masalah trawl ini, cuma tidak pernah ditanggapi. Kemarin kami lapor ke Bhabinsa karena mereka punya wilayah, Polair cuma tidak ditanggapi. Alasannya, mereka bilang cuma saya sendiri yang mengeluhkan aktivitas trawl ini. Takutnya kalau tidak ada tanggapan, nelayan ini bersatu dan nindak sendiri,” pungkas Akiun. ( Red )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan