KARENA MISKIN,AKU MENJADI KUPU – KUPU

  • Whatsapp

Benci, kecewa, lelah akan hidup dan seribu rasa tercampur aduk tersirat jelas dalam wajah wanita paruh baya yang ada di hadapan KABARBANGKA.COM tadi sore (22/3)

Bacaan Lainnya

Wanita paruh baya yang sudah seharusnya bahagia menikmati masa menuju kedewasaan. Namun, bagi Dahlia (39) sebut saja begitu, tidak ada waktu untuk beristirahat dan berkeluh kesah. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri jelang masa tua.Yang ada hanya berjuang keras demi sesuap nasi. Demi masa depan anak – anak. Demi masa depan yang mungkin ada ruang untuknya kelak.

“Esok, mungkin ada secercah harapan dan ruang untuk ku dan anak-anak,demi buah hatiku,aku rela meski harus menempuh badai, meski bergelut dengan peluh hidung belang yang sudah tak terhitung,”sebersit kata yang menyiratkan ketidak berdayaan Dahlia akan nasibnya yang sudah lusuh di dunia malam

“Aku harus menjalani dan terjun ke dunia yang penuh dengan dosa ini, meski aku terpaksa, aku tidak bisa menolak,meski menjerit dalam tangisan yang hening tetap saja aku tempuh dunia penuh duri,”keluhnya tercekat.

Dahlia berasal dari satu kecamatan di kota P,  Meski orang tuanya bukan  penduduk asli pulau Bangka. Tapi Dahlia dilahirkan dan di besarkan di pulau ini.

Tutut awal, Dahlia mulai meniti masa lalu kala ia kecil yang tidak berbeda dengan anak lain di desanya. Namun, karena dilahirkan di keluarga kurang mampu,akhirnya Dahlia tidak mengenyam pendidikan hingga SMU.

Selepas SMP, Dahlia sudah memulai membantu meringankan beban orang tua. “Aku pun bekerja di sebuah rumah makan yang berada tak jauh dari rumahku (kebetulan rumahku tak jauh dari pelabuhan. Rumah makan tempatku bekerja bisa dibilang cukup ramai pada saat itu,karena banyak sopir yang berhenti untuk beristirhat makan atau sembari menunggu muatan mobil mereka dipindah ke kapal. Disana perlahan-lahan aku banyak mengenal mereka yang biasa singgah di tempatku bekerja,”ceritanya lagi.
Anak muda saling bercanda dan berkelakar pun sudah biasa dilakukan.Demikian pula yang dialami Dahlia muda, meski terkadang gurauan dari pengunjung diluar batas.Namun, dianggap Dahlia bagian dari pekerjaannya yang harus ramah ke setiap pengunjunh.

Tak disangka, keramahan ku dianggap lain salah satu pengunjung resto yang rata – rata sopir. Ada sopir yang jatuh hati padaku. Bahkan, dengan beraninya menyampaikan kekagumannya lewat kernetnya. (Bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan