KETIKA HUKUM BUKAN LAGI PANGLIMA!

  • Whatsapp
ROMLAN PIMPINAN REDAKSI KABARBANGKA.COM
ROMLAN
PIMPINAN REDAKSI KABARBANGKA.COM

Hukum, seyogyanya menjadi Panglima dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan adanya hukum, tata kelola dan tata krama berkehidupan diatur sebaik mungkin. Aparat penegak hukum pun akan dihargai dan dihormati, layaknya sebagai panglima penegakan hukum.

Namun, apa jadinya ketika hukum bukan lagi sebagai Panglima? Masih layakkah para penegak hukum untuk dipercaya, sebagai barisan terdepan dalam penegakan hukum?

Bacaan Lainnya

Putusan (Vonis) yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sungaliat, kepada terdakwa perkara penambangan ilegal dilokasi kawasan Hutan Lindung (HL), Marjadi alias Aten (43) belum lama ini, cukup menarik perhatian.

Marjadi alias Aten menjadi terdakwa, setelah pekerja tambangnya, Ahoi (38), tewas tertimbun longsoran tanah dilubang camui tambang timah miliknya, di Dusun Bedukang, Desa Deniang, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Sabtu (01/10/2016) lalu.

Dari hasil penyelidikan dan penyidikan polisi, terungkap fakta bahwa tambang milikMarjadi alias Aten tersebut tanpa mengantongi izin dari pejabat yang berwenang, dan berlokasi di dalam Kawasan Hutan Lindung.

Penyidik Satreskrim Polres Bangka, kemudian menetapkan Marjadi alias Aten selaku pemilik tambang sebagai tersangka. Dia dijerat Pasal 359 KUHP, Pasal 158 Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, dan Pasal 89 Ayat 1 Juncto Pasal 17 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pemberantasan Dan Pencegahan Perusakan Hutan.

Pada persidangan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yoga Pamungkas SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka, menuntut terdakwa Marjadi alias Aten dengan hukuman penjara selama 5 (lima) bulan, denda Rp 20 juta Subsidair 3 bulan penjara.

Tapi oleh majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut, terdakwa Marjadi alias Aten hanya divonis hukuman penjara selama 2 bulan 15 hari, denda Rp 20 juta Subsidair 2 bulan penjara.

Menurut pertimbangan majelis hakim, bahwa terdakwa Marjadi alias Aten hanya terbukti menambang timah secara ilegal. Namun terdakwa tidak terbukti merusak atau merambah kawasan hutan. Karena lokasi tambang milik terdakwa, berada dilokasi Eks Tambang dan memang sudah rusak sebelum terdakwa menambang timah dilokasi dimaksud. Sungguh ironis sekali!

Bagaimana jika barang berharga seperti mobil mewah milik majelis hakim yang memang sudah rusak, lalu diambil pemulung barang bekas? Apakah si pemulung tetap dikenakan pasal Pencurian Biasa? atau pasal Pencurian Dengan Pemberatan (Curat)?

Ringannya tuntutan JPU dan vonis majelis hakim yang dikenakan kepada para terdakwa pelaku penambangan timah ilegal, khususnya bagi mereka yang menambang timah dilokasi kawasan hutan, menjadi salah satu faktor maraknya penambang timah yang merambah dan merusak kawasan hutan yang ada di Bangka Belitung.

Sangat wajar, jika kawasan hutan di Babel banyak yang dijarah dan dirusak oleh penambang timah ilegal. Karena hukumannya relatif ringan, dan patut diduga bisa di…….?????? (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan