Lia Shine Membangunkan Dunia Satra Bangka Barat Dari Tidur Panjang

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Dunia sastra Bangka Barat yang sudah lama tertidur, dikejutkan dengan munculnya novel dengan judul “Terpaksa Menikah”, karya penulis wanita Lia Shine. Secara tiba – tiba novel tersebut menjadi viral di media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Siapa sangka, novel yang diterbitkan secara indie dan banyak diminati pembaca, dan penyebarannya pun selain Pulau Bangka sudah menyeberangi Pulau Jawa dan Kalimantan itu, ditulis oleh seorang gadis cantik pemalu dari Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat.

Bacaan Lainnya

Penulis dengan nama Komelia Sari, anak kelima dari tujuh bersaudara ini, lahir di Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, 29 tahun silam, mengaku sejak duduk di Sekolah Dasar memang suka menulis.

“ Dulu waktu masih di SD saya suka ngarang walaupun susah dapat ide . Waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia saya nulis tentang krisis moneter, entah dapat ide dari mana tapi masih terus ingat sampai sekarang,” kata Lia, Selasa ( 11/07/17 ) saat ditemui di Kompleks Perkantoran Terpadu Pemda Bangka Barat Daya Baru Muntok.

Kesukaan Lia menulis terus terbawa sampai dia menempuh pendidikan di SMA AL Amien, Prenduan Madura. Pihak sekolah sering mengadakan seminar dengan mengundang penulis terkenal sekelas Asma Nadia, menarik minat Lia untuk selalu ambil bagian menjadi peserta.

“ Sekolah sering mengadakan seminar – seminar, yang diundang kayak Asma Nadia, jadi saya sering ikut,” tutur gadis yang mengaku masih jomblo ini.

Lia pun terlibat menjadi penulis di majalah sekolahnya. Dari pengalamannya itu minat Lia untuk menulis semakin kuat.

Setelah menyelesaikan sekolahnya dan pulang ke Bangka, Lia merasa harapannya untuk menjadi seorang penulis sirna sudah. Kesulitan untuk menulis di desanya sudah terbayang dimata Lia.

Ketakutannya ternyata tidak terbukti setelah guru PAUD AR Rahim Desa Pusuk ini dapat menyelesaikan novel Terpaksa Menikah hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.

Lia menuturkan, novel tersebut ia tulis di sela –sela kesibukannya mengajar dengan menggunakan laptop sekolah.

“ Pas nggak ada pekerjaan, buka laptop ada ide nulis, nyambung – nyambung kadang nggak tidur, makanya cepat selesai,” ungkap Lia.

Banyak naskah yang telah Lia Shine tulis namun gadis pemalu ini mengaku kerap malu mempublikasikannya. Keberanian itu muncul setelah karyanya sebelum novel Terpaksa Menikah lolos seleksi Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Penerbit Bentang Pustaka Yogyakarta. Dari 250 naskah yang diseleksi, karya Lia yang berjudul Shana masuk 50 besar naskah yang akan diterbitkan oleh Penerbit novel laris karya Andrea Hirata Laskar Pelangi itu.

“ Dari 250 itu, Shana masuk 50 naskah yang akan diterbitkan, jadi yang 200 itu nggak masuk. Itu yang membuat saya punya keberanian menerbitkan buku walaupun dengan jalur Indie di penerbit Hanami,” ujar Lia.

Keberanian itu ternyata berbuah manis dengan larisnya novel Terpaksa Menikah yang sudah empat kali cetak. Lia tidak banyak berharap dari novel tersebut selain kepuasan batin dan menjadi inspirasi semua orang yang punya minat yang sama dengan dirinya.

“ Saya hanya ingin punya karya, kepuasan batin dan bisa memotivasi orang lain untuk ikut menulis, itu saja,” pungkas Lia Shine. (SK)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan