MASALAH TI RAJUK RANGKUI, ANTAR INSTANSI JANGAN SALING MENYALAHKAN

  • Whatsapp

dsc_0026

KABARBANGKA.COM — Kejadian pembakaran TI Rajuk oleh warga Kelurahan Ampui, Selasa (13/09/2016) kemarin, membuat respon Anggota DPRD Kota Pangkalpinang, Achmad Subari. Kepada wartawan media ini, Achmad Subari menyayangkan kejadian tersebut.

Bacaan Lainnya

“Kejadian seperti ini seharusnya tidak boleh terulang untuk kesekian kalinya, instansi satu sama lain tidak boleh berdiam diri. Secepatnya masalah ini harus diselesaikan, jangan sampai aturan yang sudah ada itu dikangkangi. Semua unsur dan stakholder yang ada harus bergerak, mengingat tidak adanya aturan ataupun Perda yang mengatur Tentang Pertambangan diwilayah Kota Pangkalpinang ini”, terang Achmad Subari, Rabu (14/09/2016) siang.

Dijelaskannya, bahwa aktifitas pertambangan dalam jenis apapun yang ada di wilayah Kota Pangkalpinang adalah ilegal dan itu adalah perbuatan yang melanggar hukum.

Perbuatan yang mulai mengarah ke tindak pidana harus di tindak tegas! Siapa lagi kalau bukan instansi terkait yang berwenang? Aparat penegah hukumlah yang berhak untuk menindaklanjutinya. Selain dari Pemkot Pangkalpinang, siapa lagi yang berhak? Yaitu pihak kepolisian yang sebagai ranah penegakan hukumnya.

“Jadi, jangan salahkan aksi masyarakat yang bertindak anarkis, yang sudah mulai merasa risih akibat pertambangan ini, karna tidak adanya tindakan yang tegas dari aparat penegak hukum. Permasalahan ini bisa diselesaikan secara bersama – sama. Semua instansi yang terkait silahkan duduk bersama, mencari solusi yang terbaik. Karna permasalah ini adalah masalah perut, jangan sampai juga masalah perut ini dijadikan alasan agar bisa menambang timah secara legal”, paparnya.

Diwartakan sebelumnya, 1 unit Ponton TI Rajuk yang beroperasi secara ilegal di DAS Rangkui, tepatnya di Kelurahan Ampui, Kecamatan Pangkal Balam, Kota Pangkalpinang, dikabarkan dibakar warga setempat, Selasa (13/09/2016) sekira pukul 18.30 WIB. Ponton TI Rajuk itu dibakar warga, lantaran diduga sudah menambang timah dilahan milik warga setempat, yang merupakan tanah warisan keluarga. ( TOP )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan