MASYARAKAT JERIJI TOLAK PROYEK CETAK SAWAH BARU

  • Whatsapp

Kami selaku masyarakat Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten bangka Selatan, menolak Proyek Cetak Sawah Baru. Berdasarkan fakta dilapangan puluhan ribu hektar sawah yang dicetak yang menggunakan uang rakyat, habis disia-siakan. Program cetak sawah yang dianggap tidak jelas letak maupun azaz manfaat bagi warga.

Bacaan Lainnya

Lihat contoh sawah di Desa Bencah, Desa Jeriji, Pulau Besar, Irat, semuanya tidak dimanfaatkan. Khususnya di Desa Jeriji, sawah yang sudah dicetak ratusan hektare sejak tahun 80-an, sawah Jeriji belum ada total beras yang didapat 1 ton, dan saat ini kondisi lahan sawah tersebut seperti laut.

Berdasarkan karakteristik dan ilmu budaya dasar, sejak dulu masyarakat Bangka Selatan pekerjaannya berladang, yang notabenenya berkebun dan bukan pekerja sawah. Masyarakat rumput melayu tidak terbiasa, dan jangan dipaksa bermain kubangan lumpur disawah. Masyarakat Bangka Selatan terkhusus Desa Jeriji adalah pekebun sahang (lada) dan karet, sudah banyak warga kami naik haji sampai 3 kali ketanah suci darihasil kebun sahang, bukan hasil sawah.

Jadi jangan terlalu dipaksakanlah, program yang tidak sesuai dengan pekerjaan dasar masyarakat. Lahan sawah Jeriji yang sudah dicetak saja sudah puluhan milyar biaya yang digunakan, hal ini cenderung sebagia objek bagi-bagi kegiatan Proyek Irigasi, Embung, yang sudah tentu tak berguna dalam programnya, karena masyarakat tidak mau menggarapnya. Lagian habitat hutan sebagai penyangga banjir di Desa Jeriji terancam apabila dicetak sawah baru lagi. Karena Desa Jeriji sebelah timur sungai aluran ke Kepoh, sebelah barat rawa sungai seluas lebar daratan jeriji sekitar 500 Meter.

Hal itu akan mengancam Desa Jeriji dari angin kencang puting beliung, dan banjir. Jadi kami menolak atas pencetakan sawah baru, didaerah pada dihentikan pencetakan sawahnya. Kami sangat berterima kasih pada pemerintah, tapi kami akan menerima program yang sesuai dengan kebiasan kami mencari rizki. Kami terbiasa menggunakan parang untuk bekerja, bukan pancul disawah.

Fakta dilapangan, sawah khusus di Bangka Belitung hanya seremonial para pejabat atas keberhasilan swasembada pangan. Tapi dilapangan sawah yang digarap hanya sepuluh persen, dan itupun digarap oleh perantau dari Jawa. Biarkan kami menanam lada, biarkan dipulau Jawa menanam padi, biar ada saling membutuhkan dan memerlukan, biar ada roda kehidupan.

 

Penulis: Toni Kodri Masaha, SE

Aktivis Pemuda Desa Jeriji

Pos terkait

Tinggalkan Balasan