Maulid Nabi dan Momentum Melahirkan Kesadaran Spritual Rohani

  • Whatsapp

Oleh: Junaidah, S.Ag
Guru PAI SMK N 4 Pangkalpinang

Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi muhammad SAW adalah suatu peringatan atas kelahiran Baginda Nabi muhammad SAW yang sangat spesial bagi umat islam di indonesia, bahkan di beberapa daerah ,perayaan maulid nabi muhammad SAW dilaksanakan dengan sangat meriah dan hampir menyamai meriahnya perayaan hari raya idul fitri dan idul adha. Nabi Muhammad SAW dilahirkan di mekah lahir sesaat sebelum fajar hari senin tanggal 12 rabiul awal tahun gajah (50 hari setelah peristiwa penyerangan pasukan gajah )yang bertepatan pada tanggal 20 april tahun 571 M tepat nya di lembah abu tholib, yaitu kawasan tempat bani Hasyim bertempat tinggal.Baginda Nabi muhammad SAW dilahirkan dari keluarga yang sederhana dan dalam keadaan yatim karena meninggalnya sang ayah yang bernama Abdulah bin abdul muthalib ketika Baginda Nabi masih dalam kandungan sang Ibu yang bernama Siti Aminah lebih kurang 2 bulan.

Baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan atau diutus kedunia adalah sebagai penutup para nabi(khatamul anbiya) sebagai penyempurna daripada ajaran-ajaran para nabi dan Rasul yang terdahulu sekaligus sebagai penyebar kasih sayang bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin). Baginda Nabi muhammad hadir di tengah-tengah masyarakat mekah yang pada saat itu berada di titik kegelapan hati dan kehilangan pegangan terhadap ajaran – ajaran yang telah disampaikan oleh nabi Rasul yang terdahulu.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial yang dilakukan secara meriah merupakan sesuatu hal yang sah – sah saja jika dilakukan sebagai wujud kecintaan umat Islam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW,dan pada umumnya perayaan maulid nabi bertitik tumpu pada aspek “romantisme historitas” saja,yaitu mengenang sejarah kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAWsecara global seperti sejarah perjalanan hidupnya ( sirah nabawiyyah )yang dapat kita lihat dan pelajari dari mulai sejarah lahirnya,masa remaja sampai pengangkatannya sebagai nabi di tengah –tengah masyarakat arab (mekah khususnya )yang dikenal jahiliyyah hingga konteks sosial masyarakatnya serta tantangan dakwahnya,serta sejarah tentang bagaimana Baginda Nabi Muhammad SAW menciptakan suatu masyarakat kota (madani)sehingga dinamakan kota Madinah ,dan menjadikan peradapan dengan mengalami transformasi yang luarbiasa,dimana sejarah mengamsumsikan masyarakat arab dahulunya sebagai masyarakat yang tidak berperadapan menjadi masyarakat yang beradab. Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW itu memiliki tendensi dan urgensi akan konstruksi mentalitas serta kemauan untuk menegaskan dan menyematkan kesadaran spritualitas transdental ( sense of sprituality )ditengah transformasi dunia yang semakin sekularistik-kapitalistik dan konsumeritik-hedonistik.

Namun disamping itu maulid nabi jika di kaji dan dihayati serta direnungi secara batin atau rohaniah, bahwasanya kehadiran dan kecintaan kepada Baginda nabi Muhammad SAW tersebut akan mampu melahirkan kesucian hati dan terangnya jiwa.Mampu menghapus segala kegelapan hati yang selama ini dikotori oleh nafsu – nafsu ,sikap egoisme diri,ketamakan dan segala hal- hal negatif lainya , sehingga hati,jiwa dan rohani kembali bersih suci , karena kehadiran baginda nabi Muhammad bertujuan untuk membawa segenap umat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang dan diliputi cahaya Illahi,dan jalan tersebut tidak akan dapat dilalui apabila masih terdapat kegelapan dari nafsu-nafsu yang mengotori hati dan jiwa kita.

Dalam perspektif batiniah, maulid Nabi merupakan momentum yang tepat untuk melahirkan pribadi yang suci dan bersih agar hati dan jiwa mendapatkan limpahan cahaya rahmat dari ALLAH SWT dan senantiasa merasakan kehadiran Nur Baginda nabi muhammad SAW dalam dirinya,serta dapat melahirkan pribadi yang bijaksana dalam menebarkan kasih sayang bagi sesama manusia dan alam.

Di sebagian kalangan umat muslim di indonesia,khususnya para penganut faham tasawuf sufisme ,peringatan maulid nabi mempunyai makna khusus secara batiniahnya,yaitu sebagai momentum untuk ber”uzlah” atau kembali pada kesucian hati seperti bayi yang baru dilahirkan,tujuan nya untuk menjadi “Insan kamil” atau manusia yang sempurna, yaitu manusia tahu akan dirinya yaitu dari mana ia berasal,untuk apa ia dilahirkan dan apa tujuan ia dilahirkan kedunia serta kemana ia akan kembali setelah meninggal dunia. Tahu akan Rasul nya sebagai panutan dalam tingkah laku dan memahami risalah-risalah yang disampaikannya serta mengikuti segala sunnahnya, dan tahu akan Tuhannya sebagai “Khaliq “ dengan segala sifat kuasanya serta sifat rahman dan rahimNYA sebagai perwujudan dari pada tujuan manusia tersebut dijadikan yaitu sebagai penebar kasih sayang dimuka bumi.

Sebab tidak mungkin bisa menjalankan atau mengikuti Segala sunnah –sunnah dari Baginda Nabi Muhammad SAW tanpa merasakan kecintaaan dan kehadiran Beliau dalam diri kita.

Mengutip arti sebuah syair indah dalam Qasidah al-burdah.
“ Terbit purnama ditengah kita
Maka silamlah semua purnama
Bagai cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah kegembiraan
Engkau mentari engkau purnama
Engkaulah cahaya diatas cahaya
Engkaulah iksir tidak berperi
Engkaulah pelita di tiap dada
Duhai kekasih, duhai Muhammad
Duhai mempelai pendebar kesumat
Duhai muayyad duhai mumajjad
Duhai sang imam kedua kiblat.”

Dengan meneladani dan mencintai Baginda Nabi muhammad SAW, ALLAH berkenan memberikan hidayah serta melimpahkan setitik cahaya agar kita dapat bermakrifat kepadaNYA dan RasulNYA, semoga. (*)

Pos terkait