Melihat Dari Dekat Pelatihan Kerja Warga Binaan Lapas Narkotika Pangkalpinang

  • Whatsapp
Suasana Pelatihan Keterampilan Kerja Warga Binaan Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang. (Foto: Romlan)

Cuaca pagi ini sangat cerah, ketika tim redaksi kabarbangka.com tiba di Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang. Sempat menunggu beberapa saat, akhirnya Kalapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang datang menemui tim redaksi yang menunggu di luar pintu masuk.

“Mari, silakan masuk, kebetulan kita sedang ada kegiatan,” ujar Yuliantino, Kalapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang dengan senyum ramahnya.

Yuliantino mengungkapkan, warga binaan di Lapas yang dipimpinnya dibekali dengan berbagai macam atau jenis pelatihan keterampilan. Sejak Januari 2020 hingga saat ini, Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang sudah mengadakan 35 kali pelatihan keterampilan yang diterapkan kepada 934 warga binaan.

“ Total warga binaan 934 orang. Sejak Januari 2020 hingga saat ini, kita sudah mengadakan 35 pelatihan keterampilan kerja yang diikuti para warga binaan. ,” ungkap Yuliantino, Jum’at (4/9) pagi.

Tujuan pelatihan keterampilan kerja ini, lanjut Yuliantino, agar ketika nanti warga binaan itu bebas setelah menjalani masa hukuman, mereka bisa kembali ke tengah masyarakat dengan memiliki keterampilan yang cukup.

Dengan dibekali keterampilan yang cukup, mereka bisa bekerja dan bisa mendapatkan penghasilan yang layak, sehingga tidak lagi mengulangi perbuatannya terdahulu, yang mengantarkan mereka menjalani hukuman di Lapas Narkotika tersebut.

“Ini bengkel kita, kondisinya masih begini adanya. Di sini ada pembuatan meja dan kursi dari bahan besi, perakitan dan modifikasi motor, ada juga deco dan cucian mobil. Tapi memang kondisinya masih begini, masih serba kekurangan dan keterbatasan,” kata Yuliantino, seraya memperkenalkan Adi Saputra, Kasi Kegiatan Kerja di Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang.

“Nanti dilanjutkan sama Pak Adi, ya? Saya ada kegiatan dengan BNN,” tukasnya.

Adi Saputra yang menemani tim redaksi mengungkapkan, bengkel las ini sudah beroperasi sejak tahun 2017 silam. Ada beberapa jenis pekerjaan yang dilakukan para warga binaan di bengkel itu. Ada sablon mobil, modifikasi motor, cucian mobil, sampai pembuatan meja dan kursi dengan bahan dari rangka besi dan multipleks.

“Kalau bengkel ini sudah lumayan lama juga sih, kalau tidak salah mulai 2017 sudah ada,” ungkap Adi seizin Kalapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang, seraya menunjukkan hasil pekerjaan warga binaan di bengkel tersebut.

“Ini meja Bar, kalau itu meja kantor atau meja kerja minimalis, di sebelahnya salon mobil, dan di sana ada modifikasi motor. Kita juga sedang ada pelatihan menjahit di ruangan lain, itu kerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja),” imbuhnya.

Untuk satu unit meja kerja minimalis, modal yang dibutuhkan berkisar Rp 1 juta – Rp 1,5 juta. Waktu pengerjaannya paling cepat 2 hari, dan paling lama satu minggu. Bila dijual, harga termurah sekitar Rp 1,5 juta dan paling mahal Rp 2 juta, tergantung bahan dan bentuk yang diinginkan pemesan.

“Kita belum pasarkan secara terbuka, masih diinternal pegawai atau keluarga pegawai saja. Untuk contoh modelnya kita ambil dari internet, baru kemudian kita ubah atau kita modifikasi sesuai pesanan,” bebernya.

Berbeda dengan bengkel las yang membuat aneka kerajinan seperti meja dan kursi tadi, modal modifikasi aneka motor lebih mahal, bahkan bisa lebih dari Rp 8 juta per satu unitnya.

“Kalau modif motor ini, modalnya paling murah Rp 4 juta, bahkan bisa lebih dari Rp 8 juta, tergantung sparepart apa yang mau dipakai oleh pemesan? Sparepartnya kita beli dari luar, tapi untuk perakitannya di sini semua. Hasilnya lumayan bagus juga,” tutur Adi, seraya menunjukkan motor hasil modifikasi warga binaan di bengkel Lapas itu.

Lulusan SMA Dan SMP

Pendidikan terakhir Tri Mukti hanya SMA. Pekerjaan aslinya seorang sopir, sebelum masuk menjadi warga binaan di Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang.

Di bengkel pelatihan Lapas tersebut, Tri Mukti bersama rekannya mengerjakan pembuatan meja dan kursi dari bahan besi dan multipleks.

“Saya pendidikan terkahir SMA, kalau pekerjaan sebelumnya sopir,” ujarnya.

Berbeda dengan Tri Mustika, Ardi alias Gundul hanya lulusan SMP. Tetapi sebelumnya memang pernah kerja di bengkel.

“Saya (pendidikan terakhir) SMP, sebelumnya pernah kerja di bengkel,” ujarnya Gundul.

Melihat Pelatihan Menjahit

Hari sudah menjelang siang, ketika Adi Saputra mengajak tim redaksi media ini meninjau kegiatan pelatihan menjahit di ruangan lainnya. Kami melewati beberapa pintu dan gerbang, yang dijaga ketat sejumlah petugas keamanan Lapas dengan seragam khasnya.

Tiba di ruangan yang dituju, Nampak puluhan warga binaan dengan fokusnya mengikuti petunjuk dan arahan dari instruktur, Darmawati, dari BLK Provinsi Babel. Pelihan menjahit itu sudah dimulai sejak Senin lalu, sampai hari Sabtu besok.

“Mulai Senin, sampai Sabtu besok,” ujarnya Darmawati, didampingi Adi Saputra, Kasi Kegiatan Kerja Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang.

Di ruangan pelatihan menjahit ini, nampak sejumlah produk sudah selesai dikerjakan, seperti aneka tas dan sarung bantal sofa.

“Ini ada yang sudah selesai, baru tadi dikerjakan, baru sekitar 2 jam,” kata Darmawati.

Untuk upah dan belanja modal, satu tas kosmetik itu dibutuhkan sekitar Rp 25.000. Bila dijual, harganya sekitar Rp 40.000- Rp 50.000 per satu tasnya.

“Upah sama bahannya sekitar Rp 25.000. Kalau dijual mungkin sekitar Rp 40.000 – Rp 50.000,” kata dia.

Masih menurut Darmawati, karena masih pemula, motif produk tas yang dihasilkan tergolong masih standar umum.

“Ini kan masih pemula, baru kenal mesin jahit, mulai dari nol semua,” tuturnya.

Walaupun masih pemula, warga binaan yang mengikuti pelatihan menjahit itu ternyata sudah menghasilkan ribuan lembar masker.

Baru Kenal Mesin Jahit

Yahyu Yusuf, salah satu warga binaan Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang, yang mengikuti pelatihan menjahit. Dan baru di Lapas ini dia kenal mesin jahit.

“Baru tahu (menjahit), rasanya lumayanlah, kita jadi bisa tahu,” tutur Yahyu Yusuf.

Sebelum menjadi warga binaan di Lapas Narkotika Klas IIA Pangkalpinang, Yahyu Yusuf yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar itu bekerja sebagai penambang timah.

“Kerja (nambang) timah, pendikan SD,” kata dia.

Yahyu mengaku awalnya bingung, karena baru mengenal mesin jahit. Namun setelah fokus mengikuti pelatihan, dia mengaku sudah cukup lancar mengoperasikan mesih jahit di depannya.

“Kalau awal-awalnya bingung. Kalau sekarang sih lumayan, cuma tidak selancar orang lain. Yang penting semangat belajar, pasti bisa,” tutur Yahyu. (Romlan)

Pos terkait