Normalisasi Harga Pasca Idul Fitri Dorong Turunnya Inflasi di Bulan Agustus 2016

  • Whatsapp

IMG-20160906-WA0003

KABARBANGKA.COM — Sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Bangka Belitung pada Agustus 2016 mencatat inflasi sebesar 0,39% (mtm).

Bacaan Lainnya

“Inflasi tersebut lebih rendah dari rata-rata perkembangan harga pada periode pasca Idul Fitri dalam dua tahun terakhir yang tercatat sebesar 1,01% (mtm),”ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bayu Martanto, Selasa (6/9/2016) siang tadi di restoran Menumbing Heritage Pangkalpinang kepada sejumlah awak media.

Dengan perkembangan tersebut,menurutnya ,inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 4,39% (ytd) dan 5,10% (yoy).

“Inflasi pada bulan ini terutama bersumber dari Kota Pangkalpinang yang mengalami inflasi sebesar 0,93% (mtm) yang tercatat sebagai inflasi tertinggi di pulau Sumatera. Secara tahunan Kota Pangkalpinang mengalami inflasi sebesar 6,03% (yoy) atau 4,82% (ytd).Sementara Kota Tanjungpandan mengalami deflasi sebesar 0,58% (mtm), atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 3,46% (yoy) atau 3,64% (ytd),”terangnya.

Bayu menambahkan,berdasarkan kelompok komponen, inflasi pada bulan ini bersumber dari kelompok volatile foods dan kelompok inti. Kelompok volatile foods mengalami inflasi sebesar 0,89% (mtm) atau secara tahunan mencapai 6,19% (yoy) yang bersumber dari kenaikan harga ikan selar, sawi hijau, bawang merah, tempe, ikan tongkol, dencis, dan cabai rawit. Sementara kelompok inti mengalami inflasi sebesar 0,41% (mtm) atau 3,92% (yoy).

“Kelompok penyumbang inflasi inti antara lain kenaikan tarif sekolah dasar dan tarif sekolah menengah pertama. Sedangkan kelompok administered prices mengalami deflasi sebesar 0,54% (mtm) atau 6,30% yang didorong koreksi pada tarif listrik dan rokok kretek/filter,”ulasnya.

Tekanan inflasi di bulan September 2016 diperkirakan mereda, namun masih perlu mendapatkan perhatian. Beberapa risiko inflasi di bulan September 2016 diperkirakan dipicu oleh (1) meningkatnya uang pangkal dan iuran pendidikan tingkat Universitas, (2) perayaan Idul Adha yang kemungkinan dapat mendorong kenaikan harga daging sapi dan tarif angkutan udara, (3) kemungkinan terjadinya gagal panen beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai akibat tingginya curah hujan dan adanya fenomena La Nina yang akan menguat di pertengahan tahun 2016, khususnya di daerah pemasok.

Namun demikian, dampak lanjutan penurunan harga BBM dan masih lemahnya aktivitas ekonomi masih akan membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

“Ke depan, inflasi diperkirakan akan tetap terkendali dan berada pada sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1% (yoy). Koordinasi kebijakan Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, khususnya dalam mengendalikan tekanan inflasi jelang Idul Adha. Koordinasi akan difokuskan pada upaya menjamin ketersediaan pasokan, menjaga kelancaran distribusi, monitor stok distributor untuk meminimalisir risiko penimbunan barang, serta meningkatkan diseminasi informasi harga komoditas strategis penyumbang inflasi melalui www.hargababel.com,“ pungkas Bayu Martanto.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan