“Pasar Malam Terapung” Itu Kembali Di Razia

  • Whatsapp

  • Petugas gabungan bongkar paksa Ponton TI Rajuk

KABARBANGKA.COM, BANGKA — Jika malam hari, penampakan di Sungai Baturusa, Kecamatan Merawang, sudah seperti “Pasar Malam” saja. Hal itu lantaran banyaknya lampu penerangan yang dipakai para penambang, ketika bekerja menambang pasir timah secara ilegal di sempadan dan aliran sungai tersebut. Kondisi itu membuktikan bahwa para penambang masih membandel meski sudah sering kali di tertibkan, bahkan sudah ada yang di proses secara hukum.

Bacaan Lainnya

Namun Sabtu (14/07/2018) tadi siang, Waka Polres Bangka Kompol Ridwan Raja Dewa memimpin personil gabungan yang terdiri dari Polres Bangka, Satpol PP Kabupaten Bangka, Polsek Merawang, Subdenpom II/4-2 Bangka dan Laskar Sekaban, kembali menindak tegas aktivitas penambang timah secara ilegal di sekitar lokasi alur dan sempadan Sungai Baturusa.

Kapolres Bangka AKBP M. Budi Ariyanto, melalui Kabag Ops KOMPOL Syarif Sophian menuturkan, razia gabungan ini merupakan tindak lanjut informasi dari masyarakat, tentang adanya aktivitas penambangan timah menggunakan TI Rajuk yang beroperasi pada malam hari di Daerah Aliran Sungai Baturusa, yang terlihat jelas dari jembatan Baturusa.

Dengan menggunakan Rubber Boat, tim gabungan langsung turun ke sungai dan melakukan penyisiran dari jembatan Baturusa. Sekitar 1 kilometer dari jembatan, di sisi kiri dan kanan Sungai Baturusa ditemukan sekitar 25 Unit Ponton TI Rajuk Tower, 3 Unit TI Apung biasa dan 1 Unit TI Robin Mini, yang disembunyikan di balik semak dan pohon bakau, juga di aliran sungai kecil yang merupakan anak Sungai Baturusa. Jika pada siang hari, keberadaan  Ponton TI tersebut tidak terlihat dari Jembatan Baturusa.

Saat ditemukan, ponton – ponton TI Rajuk itu sedang tidak bekerja dan ditinggalkan pemiliknya, namun mesin dan peralatan tambang yang berada di ponton TI Rajuk tersebut dalam keadaan lengkap, dan terlihat habis beroperasi pada malam hari.

Tim berupaya untuk menarik ponton dan atau mengamankan mesin/ peralatan tambang yang ada, namun karena terbatasnya sarana dan prasarana yang ada dan kondisi dilapangan yang tidak memungkinkan, petugas gabungan akhirnya melakukan diskresi dengan melakukan pembongkaran terhadap mesin – mesin, peralatan tambang, dan ponton – ponton TI Rajuk tersebut, agar tidak dapat difungsikan kembali untuk melakukan penambangan timah ilegal di sekitar lokasi tersebut, yang dapat menimbulkan kerusakan alam dan ekosistem yang ada di sepanjang aliran sungai.

“Tidak ada penambang yang diamankan, karena ketika petugas datang, kondisi penambang tidak ada yang bekerja. Informasi dari masyarakat para penambang itu bekerja pada waktu malam hari, sehingga lampu – lampu yang dipakai nampak seperti pasar malam, terang benderang,” jelas Sophian via ponselnya. (Red)

Sumber : Humas Polres Bangka

Pos terkait

Tinggalkan Balasan