PENAMBANG DAN KOLEKTOR WAJIB MILIKI BENDERA ATAU NOMOR

  • Whatsapp

img-20161203-wa0003

KABARBANGKA.COM — Aktivitas penambangan TI apung di Perairan Muara Air Kantung Sungailiat, sepertinya makin menyeruak. Hal ini disebabkan harga timah semakin membaik. Tidak sedikit dari Nelayan pencari ikan yang rela beralih profesi menjadi penambang, meskipun kegiatan tersebut mengandung resiko, yaitu sewaktu-waktu bisa saja tertangkap aparat penegak hukum lantaran kegiatan itu ilegal.

Bacaan Lainnya

Terpantau wartawan media ini, Kamis (01/12/2016) sore, diperkirakan sekitar ratusan unit kapal nelayan pencari ikan telah berubah menjadi kapal penambang yang disebut Perahu TI Apung.

Salah satu penambang yang minta identitasnya dirahasiakan, mengaku kalau kegiatan TI apung yang digelutinya itu sudah dilakukan sejak lama, bahkan sudah tahunan.

“Kita sudah hampir 6 tahun menggeluti pekerjaan ini. Yah..aman aman saja yang penting kordinasnya tetap terjalin, ikut aturan maka akan lancar. Tapi kalau tidak mau diatur, ya, akan susah sendiri nantinya,” akunya.

Diungkapkan oleh sumber, dikegiatan tersebut ada namanya pungutan cantingan untuk biaya kordinasi, sehingga bisa tetap bekerja tanpa kendala.

“Kalau dulu, setiap kapal penambang harus nyetor 4 hingga 5 canting timah dari hasil yang didapat. Kalau dikata berat, ya, memang berat. Tapi mau apalagi, soalnya kalau tak setor 4 hingga 5 canteng timah, maka kapal penambang akan menemui berbagai kendala baik dari pengurus TI, oknum aparat maupun dari jaga malam,” ungkapnya.

Sumber itu juga menjelaskan, kalau setoran 4 atau 5 cantingan itu sudah ada posnya masing – masing.

“Praktek penarikan cantingan ini ada yang dilakukan ketika kapal penambang masih di tengah laut, pengurus TI apung yang dipanggil AN dengan menggunakan speed boat akan merapat ke kapal penambang guna melakukan pengumpulan jatah cantingan sebanyak 2 canteng timah untuk setiap kapal penambang. Katanya, satu canteng buat jatah oknum aparat dari Polair dan satu lagi buat oknum Pol PP. Selain itu, ada speed boot lain yang ditumpangi Sn yang juga akan merapat ke kapal penambang, guna mengambil jatah cantingan timah mengaku katanya buat jatah oknum dari aparat lainnya,” ungkapnya.

Jatah cantengan itu, lanjut dia, tidak berhenti disitu, tapi sesampainya dipenambatan kapal, yakni di Kawasan Pelabuhan Perkasa akan ada lagi jatah cantingan timah yang harus disetorkan para penambang sebagai ‘Jatah Preman’ ke pihak jaga malam.

“Sesampai dipenambatan perkasa (kawasan yang terletak di belakang bengkel timah air kantung), penambang juga dimintai setoran cantingan timah buat jaga malam. Kalau tidak disetor bisa saja besok pagi kapalnya akan tenggelam, atau alatalat tambangnya akan hilang ataupun dirusak. Jadi total cantengan yang harus disetor tiap kapal penambang dalam sehari berkisar 4 sampai 5 canting,” bebernya.

Namun untuk sekarang lanjut sumber, sistemnya berubah sudah pakai bendera/nomor.

“Sistem sekarang sudah pakai nomor, setiap kapal penambang harus daftar untuk ambil nomor begitu juga dengan kolektor. Bila penambang atau kolektor tidak bernomor maka mereka akan diusir oleh pengurus bernama AN yang dibantu oleh beberapa oknum anggota Polair dan Pol PP,” terangnya.

Sumber memaparkan, kalau sistem pakai bendera atau nomor itu intinya tetap sama dengan cantingan, yakni penambang tetap harus mengeluarkan jatah buat biaya kordinasi tapi melalui satu pintu.

“Ya sama, penambang tetap mengeluarkan iuran cantingan kalau diatas 20 kiloan. Bedanya kalau sekarang ini semua penambang dan kolektor harus terdaftar di pengurus TI Apung berinisial AN itu dengan memiliki bendera/nomor yang dikeluarkan oleh AN tadi. Kalau tidak punya, maka penambang dan kolektor akan diusir oleh AN bersama oknum Polair atau Pol PP. Ini sudah terbukti, beberapa penambang dan kolektor MD kemarin diusir, sebab tidak memiliki bendera/ nomor,” pungkasnya.

Terpisah, Kapolres Bangka AKBP Sekar Maulana SIK berjanji untuk menindak lanjuti informasi dari wartawan media ini.

“Ok mantapss infonya segera kita tindak lanjuti,” jawabnya melalui Pesan Singkat (SMS), saat dikonfirmasi terkait kegiatan TI Apung Sungailiat yang diduga dibeckengi oleh oknum aparat, Kamis (1/12/2016) sore.

Namun dari pantauan, Sabtu(3/12/2016) sore TI Apung di Kawasan Air Kantung Sungailiat, masih terlihat beraktivitas dan para penambang dan kolektor timah juga masih tetap dikoordinir dengan cara pakai nomor yang dikeluarkan oleh AN yang kabarnya dibekingi oleh oknum aparat. (Rml)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan