Puluhan Benda Bersejarah Turut Di Pamerkan

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, merupakan desa yang kaya akan wisata sejarah, budaya, dan peradaban.

Bacaan Lainnya

Untuk mengenalkan sejarah Kota Kapur kepada khalayak ramai, masyarakat setempat yang di inisiasi oleh Ikatan Pemuda Kota Kapur (IP2K) menggelar Festival Kota Kapur, dalam rangka merayakan hari jadinya desa tersebut yang usianya sudah mencapai 1331 tahun.

Puluhan jenis benda bersejarah yang ditemukan masyarakat di sekitar lokasi Situs, di pamerkan pada acara Festival Kota Kapur ini. Tak mau ketinggalan, grup Dambus Prasasti Kota Kapur juga turut meramaikan kegiatan tersebut.

Festival Kota Kapur diawali dengan Napak Tilas Situs Kota Kapur, yang di ikuti peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan ormas.

Kepala Desa Kota Kapur, Edi Candra, yang diwakili Ketua BPD, H. Abdul Hamid menuturkan, usia Desa Kota Kapur sudah 1331 tahun.

“Menurut cerita para orang tua kami dulu, desa sekarang ini adalah desa baru, yaitu sekitar 100 tahun lalu. Sebelumnya, kampung ini diarah pangkalan perahu dipinggir sungai sana, yang disebut Kota Lama” ungkapnya.

Kisah tersebut dibenarkan H. Mahadil, selaku Penjaga Situs Kota Kapur. Mantan Kades Kota Kapur yang pertama ini menerangkan, area Situs Kota Kapur seluas 132 hektar.

“Luas area Situs Kota Kapur ini 132 hektar. Berdirinya Kerajaan Sriwijaya disini pada 28 April tahun 686. Penelitian terhadap Situs Kota Kapur ini, baru dimulai pada tahun 1992, oleh pak Mangin dari Prancis. Awalnya, ditemukan Tiang Pancang yang diperkirakan dibangun pada abad Ketiga. Sementara menurut sejarah, Kerajaan Sriwijaya berada disini sekira abad Ketujuh. Jadi selisih waktunya cukup lama juga” paparnya.

H. Mahadil menambahkan, Desa Kota Kapur adalah desa yang kaya akan wisata sejarah dan budaya. Oleh karena itu, dirinya berharap benda-benda peninggalan sejarah yang saat ini berada diluar negeri, bisa dibawa kembali ke Kota Kapur sebagai tempat asalnya.

“Kami berharap benda-benda peninggalan sejarah yang saat ini berada diluar negeri, bisa dibawa kembali ke Kota Kapur sebagai tempat asalnya, supaya masyarakat disini bisa melihat secara langsung” tutupnya.

Peserta dilepas secara simbolis oleh H. Abdul Hamid dan H. Mahadil, ditandai dengan pemberian 2 botol air minum Bolesa. Air diyakini sebagai simbol kehidupan. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan