RADEN ISJUNIANTO : “TOLONG JANGAN KRIMINALISASI SAYA”

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Pangkalpinang, Raden Isjunianto, Selasa (6/6/2017) siang melakukan upaya klarifikasi terkait pemberitaan media ini berjudul ‘Kejati Belum Jatuhkan Sanksi Terkait Kaburnya Terdakwa Susandi alias Pohin’ beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Raden Isjunianto kepada wartawan media ini diruang kerjanya, mengungkapkan keberatannya terhadap pemberitaan tersebut, pasalnya menurut dia, pemberitaan itu seakan akan dirinya selaku kasi pidum yang paling bertanggung jawab terhadap kasus kaburnya terdakwa Susandi alias Pohin.

“Padahal berdasarkan Standart Operating Procedure (SOP) yang ditanda tangani Jaksa Agung, Basri Arif dan diketahui Menteri Hukum dan HAM , Emir Samsudin menyatakan pengamanan tahanan ketika akan maupun selesai menjalani persidangan merupakan tanggung jawab petugas pengawal tahanan,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut dia, dalam hal ini dirinya selaku kasi pidum meskipun SOP secara mekanismenya seperti itu namun dirinya tetap berusaha mengupayakan terdakwa Pohin bisa dilacak keberadaannya.

“Saya secara moral tetap merasa bertanggung jawab untuk mengetahui keberadaan terdakwa Pohin untuk dapat kita tangkap. Usaha yang kita lakukan menyebarkan foto Pohin sebagai DPO di kantor-kantor lurah di Pangkalpinang. Bahkan data-data keluarganya pun sudah kita minta di kantor Ducapil Pangkalpinang, dan pernah satu waktu, kita sudah melacak keberadaannya, namun sayangnya begitu kita ke lokasi tempat persembunyiannya, DPO Pohin sudah bergeser,” akunya.

Diakhir klarifikasinya, dia meminta kepada wartawan untuk membaca SOP yang ditanda tangani Jaksa Agung, Basri Arief dan Menteri Hukum dan Ham, Emir Samsudin sehingga dirinya selaku kasi pidum tidak dikriminalisasi oleh penggiringan opini.

” Tolong rekan rekan wartawan untuk membaca secara teliti tentang SOP Pengamanan tahanan terdakwa sehingga tidak lagi mendzolimi saya akibat pemberitaan kawan kawan wartawan yang saya rasa sekarang ini saya dikriminalisasi oleh penggiringan opini,” tutupnya.

Diwartakan sebelumnys Susandi alias Pohin (35 tahun) yang merupakan tahanan sekaligus terdakwa kasus narkoba di Kejaksaan Negeri Pangkalpinang yang pada Selasa sore (18/4/2017) lalu berhasil kabur dan hingga kini tak kunjung berhasil ditangkap.

Anehnya pihak Kejaksaan Negeri yang nota bene sebagai pihak yang paling bertanggung jawab justeru terkesan terus menerus menutup diri. Bahkan sampai saat ini tidak ada pernyataan resmi apapun yang dikeluarkan oleh plt. Kajari Pangkalpinang, Meiza Khoirawan.

Padahal wartawan sendiri sudah beberapa kali mendatangi kejari kota Pangkalpinang untuk dapat menemui plt.Kajari tersebut guna melakukan wawancara langsung yang sekaligus merupakan asisten pengawasan (Aswas) Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung.

Pasalnya wartawan sangat berharap adanya pernyataan langsung dari Meiza terutama dalam kapasitasnya selaku asisten pengawasan di Kejaksaan Tinggi. Terutama terkait dengan sanksi yang akan dijatuhkan kepada pejabat jaksa di pidana umum sekaligus bawahannya.

Apalagi kasus narkoba merupakan kasus yang mendapat perhatian serius dari pemerintah selama ini.
Selain itu tentunya wartawan media ini juga sedang berusaha memperoleh konfirmasi dan klarifikasi dari kepala Kejaksaan Tinggi Happy Hadiastuty terkait sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada pejabat yang merupakan bawahanya yang langsung bertanggung jawab. Yakni plt. Meiza Khoirawan dan kasi pidum Raden Is Juniyanto itu.

Seperti diketahui sebelumnya, Pohin sendiri telah berhasil melarikan diri setelah tiba di lapas Narkoba Selindung usai persidangan di Pengadilan Negeri Pangkalpinang. Pohin kabur memang sangat dramatis sekali dimana saat keluar dari mobil tahanan.

Saat mengantarkan terdakwa ke Lapas, hanya sendiri Pohin yang berada di dalam mobil tersebut. Sehingga sewaktu hendak masuk ke pintu Lapas, Pohin langsung kabur. Sayangnya petugas Lapas dan petugas Kejari tidak berhasil menangkap terdakwa sehingga Pohin kabur ke hutan arah belakang Lapas Narkoba di Selindung.

Penulis: Romli Muhtar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan