RESIDIVIS ITU TAK KUNJUNG ‘JERA’!

  • Whatsapp
ROMLAN PIMPINAN REDAKSI KABARBANGKA.COM
ROMLAN
PIMPINAN REDAKSI KABARBANGKA.COM

Seorang pengusaha timah yang tinggal di Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat, seakan tak pernah ‘JERA’ membeli dan menampung pasir timah dari hasil tambang ilegal. Padahal, kasus serupa jualah, yang telah mengantarnya ‘menginap’ dibalik jeruji besi Ruang Tahanan (RUTAN) Polda Babel, pada bulan November 2016 lalu.

Residivis perkara ilegal mining itu kembali menjadi Sorotan Redaksi, lantaran disebut-sebut sebagai kolektor sekaligus penampung timah dari TI Apung ilegal yang beroperasi di perairan laut Jungku, Desa Air Putih, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

Bacaan Lainnya

Media harian lokal memberitakan, bahwa nama Ag sempat diungkap oleh rekan dan kerabat Sola, pekerja TI Apung yang hilang diperairan Jungku, Rabu (27/04/2017) lalu.

” Kami dari Muntok sinilah, masih keluarganya Sola. Kalau TI disini mitra PT Timah, paling baru seminggu beroperasi. Kalau yang ngambil dan nampungnya Ag,” cetus satu dari pria yang mengaku masih kerabat korban, saat berpapasan dengan wartawan, Kamis (27/04/2017) siang.

Sementara Ag saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan jika dirinya yang menampung hasil tambang dari ponton-ponton yang beroperasi di perairan Jungku tersebut.

Dengan penuh percaya diri (PD), Ag mengakui kebenaran kabar tersebut. Hal itu diungkapkan Ag, saat menjawab konfirmasi wartawan via Aplikasi WhatsApps (WA) Massenger. Namun Agat tidak begitu ingat, sejak kapan awal dirinya mulai membeli dan menampung timah dari penambang di Jungku?

” Ya, benar. Tapi saya kurang ingat sudah berapa lama mulainya. Mungkin masuk sebulan,” katanya via WA Massenger yang diterima wartawan, Kamis (27/04/2017) sekira pukul 19.31 WIB.

Sekedar mengingatkan, pada akhir November 2016 lalu, Ag bersama rekannya Ah sempat tersandung kasus ilegal mining. Dari gudang kedua bos timah di Kecamatan Parit Tiga ini, jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Babel, berhasil menyita barang bukti (BB) berupa sekitar 20 ton pasir timah.

Kedua bos timah itu sempat duduk di kursi terdakwa, ketika perkaranya di periksa dan diadili oleh majelis hakimĀ  Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat. Keduanya divonis bersalah, lantaran terbukti melanggar ketentuan Pasal 161 Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara (Minerba).

Ringannya hukuman yang diputuskan majelis hakim, sama sekali tidak memberikan ‘Efek Jera’ kepada Ag, atas pelanggaran hukum yang sudah dilakukannnya. Faktanya, residivis itu kembali melakukan perbuatan serupa, yaitu membeli dan menampung pasir timah dari hasil penambangan ilegal.

Tapi, memang begitulah fenomena penegakan hukum di negeri ini. Hukum hanya keras dan tajam kepada orang yang miskin dan tidak mampu. Tapi akan selalu lemah dan tumpul, ketika berhadapan dengan orang yang punya uang atau jabatan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan