SETELAH MENJALANI TAHANAN RUMAH DARI POLDA DAN KEJATI, BOS TIMAH INI KEMBALI MERINGKUK DI RUTAN

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Sidang perkara kasus ilegal mining dengan terdakwa Diko Oktaviano bin H. Mansur  kembali digelar di PN Sungailiat, Kamis (15/6/2017).

Bacaan Lainnya

Pada sidang agenda pemeriksaan saksi ini, ketua Mejelis Hakim, Jonson Parancis, SH MH mengeluarkan penetapan baru terhadap terdakwa Diko yakni pengalihan penahanan dari tahanan rumah ke penahanan rutan dan selanjutnya memerintahkan kepada jaksa untuk melakukan eksekusi penahanan terhadap terdakwa Diko.

“Menetapkan status penahanan dari tahanan rumah ke tahanan rutan kepada terdakwa Diko dan memerintahkan kepada Jaksa untuk melakukan eksekusi setelah penetapan ini dibacakan,” kata Jonson saat membacakan surat penetapan Majelis Hakim pada sidang perkara kasus ilegal mining dengan  terdakwa Diko.

Tidak hanya Diko, hal serupa juga dialami terdakwa Hery bin Sadi warga Tempilang pada perkara kasus yang sama.Majelis Hakim menetapkan pengalihan status penahanan rumah ke tahan rutan terhadap terdakwa Hery.

Keduanya, Diko dan Hery sebelumnya, sempat mendapat status tahanan rumah oleh penyidik Polda Kepulauan Babel dan status tahanan rumah ini berlanjut ketika keduanya  ditangani  Kejati Babel.

Diketahui sebelumnya, Diko dan Hery diamankan oleh Tim Subdit IV Tipidter Direktorat Kriminal Khusus Polda Babel, Selasa (31/01/2017).

Sebanyak 36 kampil pasir timah basah seberat 1.413 Kg, diamankan dari gudang milik Hery yang berlokasi di Desa Benteng Kota, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.

” Modus operandi yang dilakukan pelaku ( Diko, red) adalah dengan mengumpulkan dan mengirim pasir timah basah ke gudang milik Hery di Desa Benteng Kota, Kecamatan Tempilang, yang mana asal usul pasir timah tersebut diketahui berasal dari para penambang ilegal di Lokasi DAM 3, juga dari lokasi Desa Tegak Raya, serta dari penambang TI Apung di Pantai Pasir Kuning, atau pasir timah yang didapatkan bukan dari lokasi L. Kelanci (IUP PT Timah) sesuai SPK yang dimiliki pelaku,” kata kabag humas Polda Kepulauan Babel,  Abdul Mun’im beberapa waktu lalu.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan berupa pasir timah seberat 1.413 Kg, 1 unit mobil Toyota Hilux BN 9220 LD, 2 lembar surat tanda terima dari PT Timah warna Pink tanggal 30 dan 31 Januari 2017, dua lembar surat angkut dari PT Timah warna Pink tanggal 30 dan 31 Januari 2017, 1 buah buku catatan penjualan pasir timah hijau, 1 buah buku catatan penjualan pasir timah warna orange dan 1 buah buku catatan penjualan pasir timah warna coklat.

Ditambahkannya, para pelaku tersebut disangkakan melanggar Pasal 161 Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara (MINERBA), dengan ancaman hukuman penjara paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 milyar Juncto Pasal 55 56 KUHP. (Rml)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan