SHABU & SUAMIKU MENJERATKU KE LEMBAH NISTA

  • Whatsapp

# KISAH PILU SEORANG KUPU KUPU MALAM DI BANGKA #

Bacaan Lainnya

“Tak terasa pekerjaan ini sudah kujalani Empat (4) tahun ”

“Aku pun tak menyangka jika harus terperosok ke dunia yang bergelimang nikmat dan dosa”

“Aku terjerat demi Melunasi Hutang Keluarga”

“Sebut saja namaku Bunga, usia ku baru 25 tahun , aku berasal dari kota P. Pekerjaanku melayani kepuasan pria hidung belang,” demikian sekelumit kata jujur yang keluar dari mulut wanita berulit putih dengan senyum manis penuh makna kepada KABARBANGKA.COM saat dia bersedia meluangkan waktunya untuk menuturkan kisah kelam yang terpaksa dia jalani. Dirinya pun tak menyangka, jika akhirnya akan terjerumus dalam dunia yang sama sekali tak pernah hadir dalam mimpi dan cita-citanya.

Ketika ditanya awal mula dia bisa terjun ke dunia malam di pulau penuh dengan impian dan sebuah surga bagi pebisni timah, Bunga terbata – bata menceritakan ikhwal dari penderitaannya.

  “Awalnya waktu masih tinggal di Kota P, saya dikenalkan oleh teman saya pada seorang Pria,katanya dia seorang bos timah. Pada mulanya saya tidak tertarik, karena perbedaan usia antara kami cukup jauh, pada saat berkenalan usia saya baru 18 tahun, dan suami saya sudah berumur 40an tahun,” Awal Bunga sambil mewanti – wanti penulis agar menyembunyikan identitasnya.

“Ajakan demi ajakan dari si cowok untuk mengajak jalan melalui teman akhirnya saya iya kan juga,kami pun pergi ke sebuah mall di kota P. Disana,apa pun yang saya inginkan pasti dibelikan oleh sang Pria tersebut,senang sekali rasanya dimanja,apa lagi saya bukan anak orang orang yang berada,” Bunga menerawang sejenak.

“Setelah sekian hari kami berkenalan,sang Pria mengajak saya menikah,dengan pertimbangan ingin membantu orang tua, dan ditambah rasa ingin hidup mewah, saya pun menerima pinanga tersebut,”kenangnya.

Pesta pernikahan pun kemudian dihelat dengan sangat meriah, mewah dengan hiburan musik untuk para tamu dilangsungkan siang dan malam. Tak lama setelah menikah, sang Pria yang telah menjadi suaminya, memboyong Bunga untuk tinggal di kota di Pulay B.

Pada awal pernikahan, hidup Bunga bergelimang harta karena usaha tambang yang dijalani suaminya berhasil.
Suaminya pun selalu memberi uang dengan nominal yang cukup besar  pada saat itu. Sehingga, dia  bisa membeli emas,mengirimi orang tua ,serta menyekolahkan adik-adik.

Karena begitu mudahnya mendapatkan uang, suami Bunga mulai kenal dengan Shabu. Dari sinilah penderitaan Bunga dimulai. “Awalnya aku tak ambil pusing,karena uang yang dia berikan tak pernah berkurang dan aku pun hanya diam dan memperhatikan,namun rupanya itu tak bertahahan lama,” kisahnya lagi.

Tak puas memakainya sendiri, suami Bunga mulai mencekoki Bunga juga dengan kristal putih ini. Rasa penasaran, sehingga Bunga mencoba rasa kristal dengan harga yang lumayan mahal.  “Ternyata sensasi yang kudapat dari mencoba,akhirnya membuatku ketagihan. Disinilah awal semua malapetaka, usaha yang kami miliki sudah tidak terlalu kami perdulikan lagi. Apalagi saat itu hasil sudah mulai berkurang, ditambah harga timah yang murah,membuat kami menjual satu persatu TI yang kami miliki, demi memenuhi kebutuhan kami akan narkoba,” tutur Bunga lesu.

“Karena pemasukan sudah tidak ada,akhirnya satu persatu barang-barang yang kami miliki terpaksa kami jual, sayangnya kecintaan kami pada barang laknat tersebut tidak juga berkurang, malah bertambah. Hingga suatu hari kami tersadar,bahwa kami sekarang benar-benar sudah tidak memiliki apa-apa lagi,sementara para penagih hutang datang silih berganti,dan perut yang kami miliki harus tetap diisi,”seketika Bunga tercekat.

Ternyata, disinilah awal mula Bunga memulai debutnya di dunia hitam. Dia ditawari temannya yang sudah lebih dulu terjun ke lembah penuh kepalsuan ini.  Saat temannya kemarin sedang berjalan bersama benerapa pelaut dari Thailand, mereka melihat Bunga. Rupanya salah seorang naksir pada Bunga.

Temannya pun menawarkam bunga untuk menjalani profesi yang telah ia jalani terlebih dahulu,Bunga tersentak mendengar ajakan kawannya tersebut.

Setibanya di rumah, Bunga merenung, di satu sisi hutang harus dibayar, serta kebutuhan sehari-hari yang harus terpenuhi.  “Akhirnya dicoba untuk membicarakan hal tersebut pada suaminya,diluar dugaannya,ternyata sang suami menyetujui usul tersebut,Tuhan ini kah akhir dari kisah ku,” kenang Bunga pahit. (bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan