Surat Terbuka Untuk Walikota Pangkalpinang

  • Whatsapp

IMG-20160823-WA0002 IMG-20160823-WA0003

KABARBANGKA.COM – Pangkalpinang

Bacaan Lainnya

Nursubah, warga Kelurahan Ampui, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, mengeluarkan uneg-uneg dan jeritan hatinya, melihat kondisi Hutan Mangrove dan tanah warisan keluarganya, kini sudah hancur dan luluh lantah, akibat adanya aktifitas penambangan pasir timah menggunakan TI Apung, yang diduga dilakukan secara ilegal oleh oknum tak bertanggungjawab.

Aktifitas TI Apung dialiran Sungai Rangkui, yang melintasi wilayah Kelurahan Ampui, sudah berlangsung cukup lama. Namun, aparat penegak hukum dan pejabat yang berwenang lainnya, seakan tak punya ‘NYALI’, untuk menindak tegas dan sekaligus memberantas aktifitas penambangan timah secara ilegal tersebut. Padahal, aktifitas TI Apung ilegal tersebut dilakukan hampir dihadapan ‘Batang Hidung’ mereka (aparat penegak hukum).

Sementara fakta dilapangan, banyak masyarakat yang dirugikan, karena terkena dampak langsung maupun tidak langsung, dari adanya aktifitas TI Apung tersebut.

Apabila aparat penegak hukum dan pejabat yang berwenang sudah tidak bisa diharapkan, lalu kemana masyarakat yang dirugikan harus mengadu nasibnya? Silahkan dikaji dan direnungkan!!!

Berikut ini isi SURAT TERBUKA TO WALIKOTA PANGKALPINANG, dari Nursubah, selaku masyarakat yang dirugikan akibat adanya TI Apung ilegal. Surat Terbuka tersebut diposting di Laman Facebook Komunitas Peduli Babel, Senin (22/08/2016) kemarin.

Salam hormat, Pak Irwansyah yg baik hati.

Izinkan saya menumpahkan uneg-uneg saya sebagai salah satu warga Bapak yg saat ini resah krn tidak tahu lagi mesti mengadu ke mana.
Soal tambang ilegal di Kelurahan Ampui dan sekitarnya, Pak.
Saya sangat yakin, Bapak sudah tahu perihal ini dan beberapa kali berupaya menindak tegas aktivitas tambang ini.

TI di Ampui ini sudah beroperasi selama 2 tahun. Dan anehnya, sampai saat ini masih saja membandel. Dengar2, katanya ada aparat yg membekingi karena jika hanya rakyat biasa, mana mungkin bisa senekat itu?

Kami ini orang awam, Pak. Buta soal peraturan perundang2an tentang tambang mineral. Tapi, kami tidak buta soal akibatnya. Hati nurani kami terusik dengan akibat buruk tambang ilegal ini. Sungai dan laut kami rusak parah. Ekosistemnya luluh lantak. Lihat saja fakta sekian banyak hutan yg hilang dari bumi serumpun sebalai sejak tahun 2000an yg sebagian besar karena aktivitas tambang. Mari merunut sejenak pada banjir besar awal Februari kemarin. Bukankah air yg membludak itu juga adalah akibat hutan kita kehilangan kekuatan utk mencegah air bah? Hijau pepohonan telah diganti danau buatan/kolong yang menakutkan dan mengancam setiap saat. Laut dan terumbu karang rusak, populasi fauna dan floranya semakin mengkhawatirkan. Siapa pun yang mata dan hatinya telah ditutupi oleh uang, jelas akan abai terhadap ini. Mereka buta, menutup mata. Sebab, kesenangan dan kemapanan hari inilah yang mereka perjuangkan. Bagaimana dengan nasib generasi lebih dari 1 dekade ke depan? Bagaimana wajah bumi Melayu ini nantinya?

Bapak sebagai pemangku jabatan tertinggi di ibukota provinsi kebanggaan ini, anggaplah sebagai satu2nya tumpuan kami untuk membawa tangis kami agar didengar oleh seluruh pihak terkait dalam merumuskan solusi terbaik soal pertimahan di negeri ini. Pendapatan daerah yg luar biasa dari timah, kita kaya raya karena timah, bahkan ketika kita akhirnya tidur di atas tumpukan uang dan emas, tidak akan sebanding dengan ketenangan hidup tanpa harus merusak alam. Alam masih menjadi unsur utama dalam hidup kita, Pak. Kita perlu tanah untuk berpijak, perlu ikan segar untuk dimasak, perlu hasil hutan yang kaya, perlu pemandangan yg menyegarkan jiwa raga. Uang bukanlah segalanya. Sebab, jika alam kita rusak, sungai kita merana, hutan kita musnah, kita baru tahu bahwa kita tak dapat hanya hidup di atas tumpukan uang.

Mohon pikirkan nasib kami, Pak Irwansyah. Datanglah, dan lihatlah daerah sepanjang sungai Ampui hingga Pangkalarang. Manusia2 serakah itu dengan jumawanya menyayat bumi dengan pipa2 besarnya, mengambil timahnya, merusak unsur haranya, lalu meninggalkannya begitu saja. Mereka bahkan lebih berani daripada penduduk setempat. Warga ketakutan karena diancam. Kalau sudah begitu, di mana letak wewenang Bapak sebagai pemegang tampuk tertinggi di wilayah kekuasaan kota Pangkalpinang ini?

Kami butuh realisasi tegas. Aturan yang jelas, sanksi yang benar2 lugas.
Bukan yang sekadar gertak sambal. Hilang efeknya, kambuh lagi.
Pangkalpinang perlu bebas dari tambang ilegal. Ketegasan Bapak menyikapi hal ini juga sebagai bukti kewibawaan dan kebijaksanaan Bapak sebagai Pemimpin kami. Kepemimpinan Bapak sedang diuji lewat masalah ini, Pak. Mohon tidak diam. Mohon pertimbangkan nasib kami. Jika Bapak tak sudi, artinya kami kehilangan tempat untuk mengadu, kehilangan pemimpin yang peduli pada jeritan rakyat kecil.

Jika Bapak peduli dan melakukan upaya luar biasa bagi masalah ini, Demi Allah, akan kami hujamkan doa kami agar Bapak dan keluarga serta jajaran yg telah berjasa diberikan keberkahan umur, istiqomah di jalan Allah, terlindung dari marabahaya, serta dijauhkan dari fitnah dunia dan kubur. Aamiin.

Saya sebagai seorang guru, Pak. Akan saya ceritakan kepada anak2 saya bahwa Pangkalpinang memiliki pemimpin yg berjiwa ksatria, peduli dan cinta kepada rakyatnya, tegas, adil, serta bijaksana. Akan saya tanamkan pada diri mereka bahwa Bapak adalah contoh pemimpin yang pantas diteladani. Semoga harapan saya tidak sia-sia.

Akhir kata, semoga Bapak maafkan kelancangan saya menulis surat ini.

Salam,
Dari seorang warga yang menaruh khidmat penuh kepada Bapak,
Nursubah

“Mengirim surat singkat ini ke Pak Walikota Pangkalpinang. Entah dibacanya atau tidak. Biarlah. Nanti akan dilanjutkan dgn ikhtiar lain. Melakukan lobi kepada pihak yg pro terhadap isu ini. Menulis ke media massa. Semoga tak putus upaya. Dengan cara apa pun, kami yakin, jika manusia tak sudi membuka mata, mencerna harap kami, ada Allah yg tak pernah tidur. Dengan cara-Nya, Ia akan tunjukkan Kuasa. Perjuangan ini takkan pernah berhenti. Tanah warisan peninggalan almarhum Nenek untuk almarhum Ayah memang tak seberapa. Sangat tak seberapa. Perjuangan ini bukan lagi soal itu. Sungai Ampui yg berhulu di Kuala, membaur ke laut Pasirpadi hingga laut lepas sana, perlu diperhatikan nasibnya. Begitu pula hutan mangrove di sepanjang bibirnya. Negeri kita negeri tuah. Melayu kebanggaan. Tempat dilahirkan hingga menutup mata. Ya Allah, permudahkanlah kesulitan kami, makbulkanlah harapan kami. Tumpaskanlah sesiapa yg berniat zalim, luluh-lantakkanlah. Kami lebih senang negeri kami kembali seperti dulu, permai, meneduhkan, menyejukkan”, tambah Nursubah, yang mengaku berprofessi sebagai seorang guru disebuah sekolah yang ada di Kota Pangkalpinang.

Colek: Suwoko Woko, Giyanto Yanto, Suparman Suparman, Nurmalena, Nurhaidah, Nurhaidah Rida, Rokhmah Nurhidayah, Nurul Kodri, Pupun Eka Elina, Maemunah Binti Nadi, Adrian Alfarisi, Adrian Alfarisi, Zikri MauLana, Farhan Mursalin, Farhan Mursalin, Farhan Mursalin, Fauzan Al Qodari, Zilian. Mari perketat doa kita, semoga dimudahkan ikhtiar kita.

Sayangnya, hingga berita ini dirilis, Selasa (23/08/2016) malam, belum ada tanggapan dan keterangan resmi dari Wali Kota Pangkalpinang, M. Irwansyah. (Red / Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan