TERDAKWA ATEN DITUNTUT 5 BULAN PENJARA?

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Sidang dengan agenda pembacaan vonis (putusan) majelis hakim, atas perkara kecelakaan kerja dilokasi tambang ilegal milik terdakwa Marjadi alias Aten, dikabarkan ditunda karena terdakwa sakit. Kabar penundaan sidang terdakwa Marjadi alias Aten itu, dibenarkan Kasi Pidum Kejari Bangka, Retni Natalia Bya SH.

Bacaan Lainnya

“Kata jaksanya Sri Delyanti, terdakwa sakit, mungkin tidak sidang” kata Retni seizin Kajari Bangka Supardi SH, menjawa konfirmasi Tim Redaksi media ini, Selasa (24/03/2017) tadi siang.

Menurut informasi yang beredar dikalangan wartawan, bahwa pada sidang sebelumnya terdakwa Marjadi alias Aten hanya dituntut dengan hukuman 5 bulan pidana penjara.

“Aten itu cuma dituntut 5 bulan penjara, kasus tambang ilegal di Kawasan nHutan Lindung tidak dimasukkan dalam surat tuntutan jaksa” ungkap sumber media ini.

Benarkan terdakwa Marjadi alias Aten hanya dituntut hukuman 5 bulan penjara? Lalu, kemana dugaan pelanggaran Pasal 89 Ayat 1 Jo Pasal 17 Ayat 1 huruf (a) dan huruf (b) Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan? Pada ketentuan Pasal 89 tersebut, barang siapa yang menambang secara ilegal didalam kawasan hutan, diancam hukuman penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 1,5 milyar dan paling banyak Rp 10 milyar.

Entah karena alasan apa? JPU Yoga Pamungkas SH yang menjabat Kasi Intel Kejari Bangka, hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan dan penjelasan secara resmi, terkait kabar yang beredar tersebut.

Diwartakan sebelumnya, bahwa Tim Penyidik Sat Reskrim Polres Bangka telah menetapkan Marjadi alias Aten (43), warga Perumahan Graha Loka Pangkalpinang, sebagai tersangka dalam kasus Laka Tambang di Dusun Bedukang, Desa Deniang, Kecamatan Riau Silip, yang terjadi pada hari Sabtu (01/10/2016) lalu.

Korbannya adalah Ahoi (38), warga Jalan Semujur, Desa Air Ruay, Kecamatan Sungailiat, dikabarkan tewas tertimbun longsoran tanah dilokasi tambang milik Aten, pada Sabtu (01/10/2016) sekira pukul 12.10 WIB siang. Jasad Ahoi (korban) baru ditemukan sekira pukul 16.45 WIB petang, dalam kondisi sudah tak bernyawa.

“Tersangkanya Marjadi, selaku pemilik tambang, dikenakan Pasal 158 UURI Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, atau Pasal 89 UURI Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas UURI Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, Juncto Pasal 359 KUHP” urai AKP Andi Purwanto, didampingi Kabag Ops KOMPOL Ridwan M. Raja Dewa.

Ditambahkan AKP Andi Purwanto, pihaknya juga sudah mengamankan mesin dan peralatan tambang milik Marjadi, sebagai barang bukti dalam perkara tersebut.

“BB yang diamankan, ada mesin dan peralatan tambang milik tersangka” imbuhnya.

AKP Andi Purwanto membenarkan, bahwa tambang milik Marjadi alias Aten tersebut diduga ilegal, lantaran menambang tanpa ijin dari pejabat yang berwenang, dilokasi yang diduga termasuk dalam Kawasan Hutan. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan