TERUNGKAP, TERNYATA TUNTUTAN JPU SESUAI FAKTA PERSIDANGAN

  • Whatsapp

ilustras terdakwa

KABARBANGKA.COM — Ungkapan kekecewaan Rani Pola, ibunda almarhum Kevin Wijaya (13), warga Lingkungan Jelutung, Kelurahan Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, langsung ditanggapi  oleh JPU Maharani Cahyani SH, dari Kejari Bangka.

Bacaan Lainnya

Almarhun Kevin Wijaya, dikabarkan tewas karena ditabrak oleh Mobil Honda Jazz B 51 BRO, yang dikemudikan oleh Elli, warga Air Ruay, pada awal bulan Mei 2016 lalu. Karena kelalaiannya, Elli kini harus duduk dikursi terdakwa Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat.

Kepada sejumlah wartawan, Maharani Cahyani didampingi Kasi Datun, Bagus Nur Jakfar Adi Saputro SH.MH, seizin Kajari Bangka Supardi SH, membantah jika tuntutan selama 1 tahun 7 bulan penjara yang dituntut oleh kepada terdakwa Elli ada indikasi permainan dengan menguntungkan terdakwa.

“Untuk tuntutan yang dianggap terlalu rendah, kami sudah sesuai petunjuk di pedoman dan melakukan penuntutan berdasarkan fakta fakta di persidangan serta proses penuntutan terhadap terdakwa itu sudah kami lakukan sesuai prosedur dengan pertimbangan secara matang sehingga ancaman hukumannya itu benar benar adil, baik untuk korban maupun terdakwa,” ungkap Maharani Cahyani SH, Kamis (08/09/2016) siang.

Maharani juga mengatakan, pada persidangan sebelumnya, terdakwa juga sudah memiliki i’tikad baik kepada keluarga korban, dengan menyantuni keluarga korban berupa uang tunai serta sembako.

“Difakta persidangan juga terungkap, dari pihak terdakwa itu sudah memberikan santunan berupa uang tunai sebesar Rp 10 juta dan beras sebanyak 30 kilogram. Dan itu diakui ibu korban dalam persidangan. Dan itu juga jadi bahan pertimbangan kami dalam menyusun Rencana Penuntutan terhadap terdakwa” jelasnya.

Diungkapkan oleh Rani, panggilan akrab Maharani Cahyani SH, bahwa sebelumnya keluarga korban yang meminta untuk dijembatani berdamai dengan pihak terdakwa memasang harga Rp 500 juta. Besarnya Uang Perdamaian yang diminta, membuat pihak terdakwa tidak menyanggupinya.

“Berapa kali upaya dilakukan sampai mentok di 100 juta. Setelah itu saya tawarkan kalau seandainya dari pihak terdakwa mintanya 50 juta, kita tuangkan dalam berita acara, point point dari keluarga korban minta apa sampek ibunya bilang, nanti kalau kurban, mereka minta kambing sampek proses semen kubur,itu mereka minta bantuan dan saya iyakan. Namun pada saat persidangan pemeriksaan terdakwa, ternyata berubah lagi omongan ibunya dan mintanya mentok di 100 juta,” papar Maharani.

Ditambahkan Kasi Datun Kejari Bangka, Bagus Adi Saputro SH, bahwa untuk perkara 310 ayat 4 UURI Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, Penuntut Umum selalu mengupayakan kedua belah pihak untuk berdamai karena upaya yang dilakukan sesuai dengan amanat undang-undang tersebut.

“Jadi setiap orang yang mengakibatkan baik itu luka ringan, luka berat maupun matinya seseorang sesuai dengan pasal 310 ini, maka wajib dilakukan perdamaian terlebih dahulu karena laka lantas itu tidak sepenuhnya kesalahan dari pengendara, tapi itu ada campur tangan dari yang maha kuasa,” terang Bagus Adi Saputro.

Katanya, terhadap perkara lalu lintas ini yang menyebabkan matinya seseorang, orang itu tetap diminta pertanggungjawaban pidana walaupun ada perdamaian.

“Jadi tidak serta merta hilang pidananya,” katanya lagi.

Oleh karena itu, pihaknya berprinsip sesuai dengan Surat Edaran Jaksa Agung Nomor 013 Tanggal 29 Desember 2011, yang menjadi panduan jaksa dalam menuntut pidana.

“Jadi kami tidak bisa lepas dari buku ini dan jika kami lepas dari ini, kami yang akan diperiksa. Dan buku ini adalah spesifikasi dari undang-undang,” urai Bagus Adi Saputro.

Masih menurut penjelasan Kasi Datun Kejari Bangka tersebut, bahwa dalam melakukan penuntutan, pihaknya tidak bisa melakukan penuntutan diluar koridor yang ada sehingga dengan ketentuan yang ada membuat jaksa yang menuntut menjadi kaku.

“Kami ini sebetulnya pelaksana undang undang, makanya kami kaku karena tuntutan yang ada dikami ini sudah ada di tulis dibuku pedoman ini. Jadi kami tidak boleh melanggar dari sini karena jika kami melanggar, maka resiko jabatan yang kami terima,” terangnya.

Bagus menganggap hal yang wajar, jika keluarga korban kecewa terhadap tuntutan yang dibacakan tidak sesuai dengan keinginan dari keluarga korban, agar terdakwanya di tuntut setinggi-tingginya.

“Cuma kami ini bekerja dengan aturan, bekerja dengan protap dan bekerja dengan keadilan yang timbul dimasyarakat, maka atas mekanisme yang ada, itulah yang menjadi pertimbangan kami,” imbuhnya lagi.

Dikonfirmasi terpisah, Kajati Babel Happy Widia Astuti mengaku belum mengetahui kabar adanya kekecewaan keluarga korban atas tuntutan ringan oleh Penuntut Umum yang menyidangkan perkara tersebut.

“Saya baru tahu masalah ini dari wartawan dan keluarga korban,” katanya.

Untuk mengkroscek kebenarannya, Happy berjanji akan memanggil Jaksa Penuntut Umum, Maharani Cahyani untuk mengetahui duduk permasalahannya.

“Nanti saya akan panggil JPU nya lebih dulu untuk mengetahui permasalahannya ya,” katanya. (Red/Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan