TUDUNG SAJI JADI ICON BANGKA

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Keberadaan tudung saji merupakan makna dari motto Kabupaten Bangka yakni Sepintu Sedulang yang memiliki filosofih yakni gotong royong, menyangkut masalah keagamaan, sosial, kemasyarakatan di Kabupaten Bangka.

Bacaan Lainnya

Dan sejak dulu masyarakat di Kabupaten Bangka sudah melaksanakan adatistiadat Sepintu Sedulang yang biasa disebut ngangung, masyarakat dengan membawa dulang berisikan makanan serta lauk pauk ke masjid. Dan juga apabila ada warga yang meninggal dunia, warga sekitar membantu membawa makanan dengan mengunakan dulang untuk membantu tetangganya yang sedang tertimpa musibah.

Filosofih kegotong-royongan yakni masyarakat melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungannya, dan saling membantu satu dengan yang lain apabila ada musibah.

” Saya melihat slogan sepintu sedulang sangat baik, dan hal ini memang belum diatur dalam perda dan peraturan bupati, dan untuk tahap awal, tiga tahun pemerintahan Tarmizi – Rustamsyah (Tentram), saya mewajibkan setiap bangunan baik itu, kantor, fasilitas umum yang di bangun pemda harus di pasang tugu tudung saji sebagai lambang daerah ini,” ujar Bupati Bangka Ir H Tarmizi Saat MM kepada wartawan usai mengelar Jumat Bersih di seputaran Jalur Dua Parit Padang Sungailiat Jumat (16/12).

Tarmizi mengatakan untuk menindak lanjuti Tudung Saji menjadi icon Bangka, nantinya pada tahun 2017 akan dikaji untuk dibuatkan Perda dan peraturan bupati yang mengaturnya hal tersebut.

Sedang hal lainnya, yakni melaksanakan kembali semangat dari slogan Sepintu Sedulang tersebut di tengah masyarakat dijadikan budaya sehari-hari di masyarakat disegala bidang dalam kehidupan, jangan hanya menjadi slogan dan icon saja.

Dan untuk itu harus di masyarakatan, mulai dari bangunan kantor, pasar, fasilitas pemerintahan di kecamatan dan juga bangunan swasta di Kabupaten Bangka, diwajibkan di depan bangunan dipasang simbul tudung saji sebagai simbul icon Kabupaten Bangka.

Ketika ditanya wartawan, kecenderungan sekarang masyarakat di Kabupaten Bangka sudah mulai meninggalkan tradisi ngangung sepintu sedulang, tidak membawa dulang, cenderung mengunakan rantang dan kotak, Tarmizi membenarkan hal tersebut.

” Sejak dulu tradisi ngangung di daerah ini, mengunakan dulang sehingga disebut sepintu sedulang, dan kalau ngangung pakai kotak namanya sepintu sekotak, kalau pakai rantang, namanya sepintu serantang, maknanya akan berbeda, dulu para pejuang, para alim ulama dengan susah payah memperjuangkan kemerdekaan negara kita, dan sekarang di suruh bawa dulang ke masjid saja tidak mau, hal tersebut untuk mewarisi dan melestarikan tradisi di daerah ini.

“Untuk itu, kedepan saya mewajibkan apabila kegiatan ngangung di masjid, musholah harus mengunakan dulang, untuk itu akan kita fasilitasi, saya juga di rumah sudah menyiapkan sekitar 200 dulang dan 200 tudung saji, setiap acara misalkan memperingati HUT Kota Sungailiat dan acara lainya seperti acara keagamaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, kita adakan acara ngangung sepintu sedulang, sehingga tradisi itu tidak hilang dan kita lestarikan,” himbau Tarmizi. (Red / Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan