Usai Diperiksa Sebagai Tersangka, Selpiana Langsung Ditahan

  • Whatsapp

KABARBANGKA.COM — Penyidik Pidsus Kejari Bangka langsung melakukan penahanan Rutan terhadap Selpiana Prihartini, mantan Bendahara Pengeluaran DPPKAD Kabupaten Bangka, yang diduga telah menilep Dana Bantuan Sosial Santunan Kematian sebesar Rp 1,2 milyar lebih.

Bacaan Lainnya

Kajari Bangka Supardi SH, melalui Kasi Pidsus Budy Marselius Nainggolan SH menuturkan, penahanan Selpi, panggilan akrab tersangka, dilakukan penyidik setelah dia diperiksa sebagai tersangka selama lima jam. Sebelumnya, tersangka Selpi sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi Dana Bansos Kematian tersebut.

“Iya, Selpi sudah ditetapkan tersangka dan langsung kami lakukan penahanan Rutan” ungkap Budy Marselius diruang kerjanya, Senin (07/08/2017) siang.

Dijelaskannya, kasus dugaan korupsi itu berawal dari temuan BPK RI, yang menemukan adanya indikasi penggunaan Dana Bansos Kematian secara tidak wajar, yang bersumber dari Dana APBD Kabupaten Bangka Tahun Anggaran 2015 lalu. Jumlahnya pun cukup besar, yakni sekitar Rp 1,9 milyar. Atas temuan tersebut, BPK RI telah memberikan rekomendasi agar yang bersangkutan segera mengembalikan kerugian keuangan daerah dalam waktu 60 hari kerja. Namun hingga batas waktu yang ditetapkan, Selpi yang kala itu menjabat Bendahara Dinas Pendapatan Dan Pengelolaan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Bangka tidak dapat mengembalikan seluruh dari jumlah tersebut.

Setelah melalui rangkaian proses penyelidikan, pada tanggal 16 Januari 2017 lalu Kajari Bangka mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (SP-Dik) kasus dugaan korupsi Dana Bansos Kematian tersebut. Sebanyak 90-an orang saksi dan saksi ahli dimintai keterangan oleh Tim Penyidik Pidsus Kejari Bangka, dalam kurun waktu Januari – Maret 2017.

Pada akhir bulan Maret 2017, penyidik Pidsus melayangkan Surat Permohonan Audit Investigasi kepada BPK RI, untuk mengetahui jumlah ril kerugian keuangan negara pada kasus dugaan korupsi Dana Bansos Kematian Pemkab Bangka tersebut. Dari hasil Audit Investigasi BPK RI yang diterima penyidik tanggal 20 Juli 2017, ditemukan dugaan kerugian negara sebesar Rp 1.201.500.000;.

“Masyarakat bisa menilai sendiri lah, penyidikan dimulai bulan Januari 2017, bulan Maret kami sudah mengajukan Permohonan Audit Investigasi ke BPK RI. Dari bulan Januari sampai bulan Maret itu, lebih 90-an orang saksi dan saksi ahli kami periksa, hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, loh! Hasil Audit dari BPK RI kami terima tanggal 20 Juli, tanggal 3 Agustus Selpi kami panggil dan diperiksa sebagai tersangka. Setelah diperiksa selama sekitar 5 jam, dia langsung kami tahan” terang Budy Marselius panjang lebar.

Lanjutnya, pihaknya tidak sembarangan menetapkan seseorang sebagai tersangka, apalagi langsung melakukan penahanan, karena semua tahapan prosesnya perlu waktu.

“Kerja kami sudah kayak KPK, toh? Setelah ditemukan cukup bukti, langsung ditetapkan tersangka, dan langsung ditahan pula!” selorohnya diakhir wawancara. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan