oleh

Bahas Draft Raperda Kepariwisataan, Pansus Libatkan Stakeholder

PANGKALPINANG — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bersama eksekutif, akademisi dari UII, Masyarakat Sadar Wisata, BP Geopark, Himpunan Pemandu Wisata, Gabungan Industri Pariwisata, dan masyarakat yang tergabung dalam Pansus Raperda Kepariwisataan, melakukan pembahasan terhadap draft Ranperda yang sedang digodok oleh Pansus DPRD diruang Badan Musyarah DPRD Babel.

Banyak ide dan saran yang konstruktif disampaikan kepada Pansus DPRD Babel, guna menyempurnakan Draft Ranperda ini. Diantaranya unsur muatan lokal/kearifan lokal yang harus lebih spesifik, pengembangan industri kreatif sebagai penunjang destinasi wisata, pengembangan kepariwistaan daerah dan banyak lainnya yang harus diatur dalam ranperda itu sendiri.

Aksan Visyawan, selaku Ketua Pansus, mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh stakeholder dan komponen masyarakat atas sumbang ide, saran dan masukkannya, guna membangun pariwisata Babel kedepannya lebih baik.

“Raperda Kepariwisataan ini sangat diperlukan oleh dunia pariwisata di Babel. Di sini kita mengedepankan pariwisata berbasis kewirausahaan, kearifan lokal, dan pelestarian lingkungan. Kita ingin membangun kepariwisataan yang ada di Kepulauan Bangka Belitung ini secara sistematis,” ungkap legislator asal Kecamatan Belinyu tersebut.

“Dengan disahkannya Raperda Kepariwisataan ini kata Aksan, diharapkan perekonomian masyarakat Babel dapat meningkat, terutama di sektor pariwisata. Aturan/regulasi menjadi semakin lebih baik, serta destinasi wisata semakin berkembang.

Adet Mastur, salah satu anggota Pansus Kepariwisataan, juga sepakat bahwa Provinsi Babel harus lebih fokus pada kepariwisataan, pertanian, perikanan dan peternakan, sedangkan pertambangan sebagai penunjang. Pengembangan pariwisata juga jangan hanya terfokus pada objek wisata alam, tetapi juga pada industri kreatif, UMKM, wisata sejarah, minat khusus dan lain lain.

“Bagaimana kita menciptakan suatu cerita lokal tentang suatu situs kepariwisataan yang Babel? Miliki yang dapat memberikan kesan dan daya tarik sendiri bagi wisatawan. Bukan hanya menjual keindahan alam saja. Kearifan lokal yang harus kita angkat, baik objek, budaya, sejarah, kuliner dan seni,” kata Adet. (*)

News Feed