oleh

Carut Marut Kurikulum Dan PJJ Bagi Seorang Guru

Oleh: Mela Safitri
Mahasiswi PGMI Semester V STAINU TEMANGGUNG


Mengguncang…ya, itulah ungkapan untuk si mungil tak kasat mata, namun jangan ditanya keganasannya, virus Corona ( covid-19 ). Sesuatu yang belum pernah diprediksi sebelumnya menyebabkan perubahan di seluruh sendi kehidupan umat manusia. Perubahan yang cepat di hampir seluruh kehidupan ini telah membuat negara maupun masyarakat menjadi “gamang”, tak terkecuali menyentuh dunia pendidikan kita di Indonesia. Dalam masa pandemi ini juga tugas guru bukan menuntaskan kurikulum, tetapi membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang menyenangkan, seakan menyiratkan bahwa dunia pendidikan kita “tergoncang dan ngambang” menghadapi perubahan yang cepat dan tiba-tiba.

Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya siswa dapat aktif mengembangkan pola pikir dirinya untuk memiliki kekuatan nilai religius, mengontrol diri, jati diri, etika, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Secara umum memang tidak ada yang salah dari definisi yang ada dalam undang-undang di atas, tapi pada pelaksanaannya ada sesuatu yang seperti hilang dan terlepas dari ruh dan semangat undang-undang tersebut. Kurikulum 2013 sudah mengacu pada definisi pendidikan menurut undang-undang, di mana nilai-nilai spiritual dan karakter mendapat penekanan yang sangat besar dan bagus.

Kebijaksanaan Merdeka Belajar juga sesungguhnya mengarah kepada kemerdekaan guru untuk lebih leluasa mengembangkam kreativitas guru, atau pembuatan materi ajar dalam situasi pandemi sekarang, tapi sayang perubahan-perubahan kurikulum, termasuk kurikulum 2013, kurang menyentuh pada taraf pengajaran di akar rumput (guru dan murid).

Secara umum pengajaran kita di kelas masih melakukan cara-cara lama. Siswa hanya mengerjakan apa yang diperintah guru dalam waktu yang sudah ditentukan.Siswa tidak mempunyai otonomi untuk menentukan apa yang ingin dikerjakan, dan dalam waktu yang diinginkan. Siswa harus mengetahui semua pelajaran, bukan kompetensinya yang diukur. Potensi-potensi/bakat/passion siswa kurang bisa dikembangkan secara maksimal, serta sistem pengajaran di kelas yang kurang interaktif.

Masa pandemi ini diharapkan bisa mereposisi kembali pegajaran kita agar kembali kepada jati diri bangsa, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan cara mendekatkan diri kepada kehidupan, dimana karakter dan spiritualitas menjadi kunci dari kesuksesan dalam setiap perubahan. Lalu , apakah mungkin pembelajaran karakter dan spiritual bisa dilangsungkan dalam suasana pembelajaran jarak jauh (PJJ)?

Pertama, orientasi hasil kerja dan kekuatan disiplin diri. Kemandirian dalam pembelajaran, pendekatan analitis dan pembelajaran yang lebih dalam, imajinasi dan kreativitas, apresiasi sastra, motivasi untuk melanjutkan pendidikan.

Kedua, karakter relasional dan kekuatan pikiran terbuka, berbagi pembelajaran dengan orang lain, meningkatkan komunikasi dengan orang lain, dan meningkatkan hubungan. Ketiga, karakter spiritual dan kekuatan kerendahan hati, iman, harapan, dan cinta kasih dalam beramal.

Pembelajaran itu harus berangkat dari meng-illah-kan Allah dan kembali kepada meng-illa-hkan Allah. Metodenya adalah dengan cara mengenal dan sadar apa-apa yang kita tidak tahu dan apa yang kita ketahui (‘aalimul ghaibi wasy-syahadah) baru kemudian dilanjutkan dengan beberapa asmaul husna yang ujungnya adalah al-Mushowwir. Untuk menggali “ketidaktahuannya” dan ‘ketahuannya” maka harus dilakukan dengan saling memberi dan menggali dengan kasih dan sayang.

Ajaran orang-orang tua dulu mengingatkan kita agar Sadar Diri. Sadar Waktu, dan Sadar Ruang.Maka dalam masa pandemi ini peran komunikasi antara orang tua, guru, murid dan lingkungan akan sangat besar artinya dalam pembentuk karakter seorang siswa melalui latihan Sadar Diri, Sadar Waktu, dan Sadar Ruang yang harus dipraktikkan setiap hari dalam rangka pembentukan seorang siswa yang mempunyai karakter dan spiritual yang bagus.Ajaran tiga sadar ini juga banyak dilakukan dalam latihan-latihan berkesenian di Indonesa.Sadar diri adalah latihan kesadaran akan keberadaan seorang murid terhadap status dan keberadaan yang disandangnya.

Ada kewajiban yang harus dilaksanakan sehubungan dengan statusnya. Status sebagai makhluk Tuhan YME, status seorang anak di rumah, status seorang pelajar, status seorang anggota masyarakat dan lain sebagainya. Maka latihan kewajiban melaksanakan semua status harus diberikan kesadaran dan penilaian yang baik dan adil oleh guru, orang tua dan masyarakatnya.Sadar waktu, adalah pelatihan kesadaran untuk mengelola waktu agar mempunyai efek tepat guna. Kesadaran bahwa waktu itu adalah sangat sakti, dan bisa membuktikan kerja seseorang harus tanpa rekayasa.Kesadaran akan waktu harus diisi dengan kreativitas dan hal-hal yang bermanfaat untuk mengembangkan potensi “ketahuan” dan “ketidaktahuannya” agar berubah menjadi “tahu” yang bermanfaat untuk diri dan orang sekitarnya.

Sementara sadar ruang adalah proses latihan seorang murid agar seorang murid dapat melihat alam lingkungan sekitarnya dengan nilai-nilai yang positif, dari ruang yang terkecil, tempat tidur, ke kamar tidur, ke rumah, ke halaman, ke masyarakat sekelilingnya dan terus berkembang ke dunia luar.

Latihan sadar ruang ini harus cepat tahu dan tanggap dengan apa yang harus dilakukan terhadap ruang sekelilingnya.Biasanya pengenalan sadar diri, sadar waktu dan sadar ruang itu dimulai dari bangun pagi, kemudian shalat/beribadah, menyapu ruang kamar, rumah, dan sekitarnya. Tujuan dari pelatihan sadar ruang adalah agar siswa bisa responsif terhadap keadaan sekelilingnya.

Sadar diri, sadar waktu dan sadar ruang inilah yang harus digali dalam “aalimul ghaibi wasy syahadah” dengan metode ‘Arrohman-Arrohiim”, sehingga para guru dan murid dengan cepat sadar beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan