oleh

Dua Jurnalis Televisi Diduga Diintimidasi

PANGKALPINANG — Dua jurnalis televisi di Bangka Belitung, dikabarkan mengalami tindakan intimidasi dari terduga pemilik daging beku impor asal Australia, Mo, pada Jum’at (20/12/2019) kemarin.

Hariyanto, jurnalis MNC Group mengungkapkan, kejadian bermula pada hari Jumat tanggal 20 Desember 2019, ketika dia dan Merry (Antara TV), mendatangi Kantor Balai Karantina Kelas II Pangkalpinang, karena diundang untuk meliput adanya sitaan 235 kilo daging sapi tanpa dokumen ekspor impor asal Australia.

Tiba dilokasi, lanjut Hariyanto, seperti biasa dirinya dan Merry mengambil vidio terduga pemilik daging, Mo, yang sedang diperiksa petugas Balai Karantina.

Setelah Mo, selesai memberikan keterangan, Mo sempat keluar dari Kantor Balai Karantina Kelas II Pangkalpinang. Namun Mo kembali lagi dan menemui Merry.

“Pada saat itu Mo meminta Video dia, seorang laki-laki mirip bule yang diakui Mo suaminya, dan seorang laki-laki lainnya yang diakui Mo adiknya dihapus, dengan cara sedikit memaksa ataupun tidak ditayangkan di media. Bahkan Mo sempat menyebutkan akan menuntut kami, jika sampai video yang menampilkan mereka ditayangkan, dengan alasan mengambil visual mereka tanpa seizin mereka,” ungkap Hariyanto, Sabtu (21/12/2019).

Hariyanto melanjutkan, tak hanya meminta Video yang ada pada Merry dihapus. Mo juga meminta video yang ada di kamera miliknya, yang menampilkan wajah mereka dan seorang laki-laki mirip bule untuk juga dihapus.

Mo bahkan meminta Hariyanto dan Merry untuk menunjukan surat tugas, dan sempat mengambil foto ID Card dan wajah mereka.

“Sepulang dari Balai Karantina, dan ketika saya sedang menulis untuk bahan publikasi, mendapat kabar jika foto ID Card saya dan Merry sudah ditangan beberapa pihak. Selain itu, saya mendapat info yang pada prinsipnya meneruskan pesan, bahwa pemilik daging beku tersebut juga dekat dengan sejumlah media di Babel, dan sempat menanyakan kronologis kejadian. Dan saya jelaskan sesuai yang tertulis diatas,” bebernya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Bangka Belitung, Muhammad Faturrakhman, mengecam keras tindakan intimidasi terhadap dua jurnalis tersebut.

“Sikap kita dari PWI Babel, mengecam keras kejadian intimidasi yang terjadi saat peliputan daging, yang diduga ilegal tersebut. Apalagi salah satu jurnalis yang bernama Haryanto adalah salah satu anggota dari PWI Babel, saat ini kita dari PWI juga sedang mendalami kasus intimidasi ini untuk menjadi bahan laporan ke pihak berwajib. Kejadian ini sedang ditangani oleh bidang Pembelaan wartawan di PWI Babel, kita kawal,” kata pria yang akrab disapa Boy ini.

Senada dengan Boy, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Pengurus Daerah Bangka Belitung, Joko Setyawanto, juga mengecam tindakan intimidasi dan persekusi tersebut.

“IJTI Babel prihatin dengan intimidasi dan persekusi yang dialami dua jurnalis, yang tengah menjalankan kerja jurnalistik ini. Kami berharap persoalan ini menjadi atensi seluruh pihak, karena ini merupakan bentuk ancaman nyata bagi kebebasan pers. IJTI Babel sudah melaporkan kasus ini ke Dewan Pers dan Pengurus Pusat IJTI, sambil tetap memonitor perkembangan kasus serta melakukan pendampingan dan advokasi bagi kedua korban,” demikian Joko. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed