HANKAMTIBMASHEADLINE

Gesekan Membuat Tambang di Mengkubung Tidak Kondusif

×

Gesekan Membuat Tambang di Mengkubung Tidak Kondusif

Sebarkan artikel ini

BANGKA — Masalah penambangan timah di perairan Pulau Mengkubung, Kecamatan Belinyu, tidak akan ada habisnya.

Pasca permintaan uang bendera sebesar Rp 3 juta dan fee 17 persen oleh oknum Ketua RT, beragam tanggapan muncul dari berbagai kalangan terkait kegiatan itu.setempat.

Kondisi situasinya saat ini pun, perairan itu sudah tidak ada kegiatan tambang yang beroperasi. Hanya ada beberapa unit ponton saja yang parkir di tepian pantai Mengkubung.

Kerapnya razia dari pihak berwenang, hingga aturan-aturan yang ditetapkan oleh panitia yang mengelola, termasuk pungutan-pungutan yang mengatasnamakan kegiatan yang saat ini masih dikatakan ilegal, hingga terjadinya monopoli antar kelompok.

Kasrin Hasan, selaku perwakilan dari LSM Laskar Merah Putih mengatakan, pihaknya mendukung jika itu kembali kepada kepentingan masyarakat, walaupun dikatakan ilegal.

Adanya gesekan dari para pengaku kepentingan membuat kegiatan ini tidak berjalan lancar. Ditambah lagi, adanya monopoli antar kelompok yang berkepentingan.

” Pada intinya, kami dari Laskar Merah Putih ini, selalu mendukung apa yang dilakukan untuk masyarakat. Jangan sampai masyarakat dirugikan. Jangan adalah monopoli-monopoli per kelompok, kalau begitu bergejolak terus. Terus terjadi gesekan-gesekan antar yang berkepentingan itu nggak akan selesai. Sebenarnya masalah ilegal, ilegal nggak ilegal tetap dikerjakan lah kalau itu. Menurut saya, apa yang sudah dilakukan Pak Kapolres kemarin yang ngumpulin penambang, itu sudah cukup bagus. Beliau tahu situasi itu, dan kondusifitaslah yang utama,” ungkapnya, Rabu (02/03) siang, di Belinyu.

Joni, selaku Sekjen Pemuda Pancasila PAC Belinyu mengungkapkan, permasalahan ini semua pihak berwenang dan masyarakat harus duduk bersama dalam membahas hal ini. Dia tak menampik hasil timah saat ini masih menjadi primadona di Bangka Belitung. Sebab, pemerintah pun belum bisa menciptakan lapangan kerja berskala besar.

” Terkait masalah penambangan Teluk Kelabat, semua stakeholder baik itu penambang, pengumpul timah ,masyarakat dan nelayan, harus duduk bersama guna mencari solusi bagi kisruh yang kerap kali terjadi berulang – ulang. Kita tidak pungkiri, bahwa tambang masih jadi primadona bagi peningkatan kualitas kesejahteraan hidup masyarakat, tanpa mengkesampingkan dampak yang timbul dari kegiatannya seperti dampak lingkungan, sosial, ekonomi, juga masyarakat. Artinya semua harus diupayakan diminimalisir. Sebab, secara jujur kita katakan, sampai saat ini pemrintah daerah baik Gubernur atau Bupati belum mampu menciptakan langan pekerjaan skala besar, yang mampu menjamin kebutuhan hdup bagi masyarakat,” ungkap Joni, Rabu siang di Belinyu.

Dari pihak penambang, sebut saja Mt mengaku, tergiur dengan hasil timah yang ada di perairan Pulau Mengkubung. Namun, besarnya potongan dan pungutan membuat dia menarik diri dari lingkup itu, dan memilih bekerja ditempat yang aman saja.

” Niat lah kalau nambang disitu, apalagi dengar hasilnya cukup lumayan. Tapi kalau banyak pungutan-pungutan, keberatan kami. Kalau masalah uang bendera, ya, namanya bayar, mau nggak mau lah. Tapi tambah potongan lain, tambah keberatan. Iya, kalau ada hasil, kalau nggak, ya amsiong. Mana sebentar razia, mending cari tempat amanlah,” kata dia.

Senada Mt, Hen, selaku warga dan mengetahui seluk beluk tambang di laut, mengaku perairan Mengkubung memang kerap kali menimbulkan permasalahan.

Kata dia, sesama masyarakat pun saling berebutan kepentingan, bahkan mengatasnamakan kepentingan masyarakat, dalam hal ini penambang menjadi korban, karena kerap kali razia. Apalagi setiap kali menarik ponton selalu mengeluarkan biaya.

” Dalam konteks ini, daerah Mengkubung terlalu banyak problemanya. Yang mana, sesama masyarakat Belinyu juga saling berebut posisi disana. Disini mereka mengatasnamakan masyarakat, padahal masyarakat sekitar belum tentu merasakannya. Dalam hal ini para penambang yang terombang ambing. Keluar masuk Mengkubung, setiap kali keluar masuk ongkos tariknya Rp. 500 Ribu,” terangnya.

Salah satu warga yang enggan menyebutkan namanya mengaku, kerap memancing ikan di sekitar Pulau Mengkubung mengungkapkan, pada hari ini juga masih ada terdapat beberapa ponton di perairan Pulau Mengkubung, dan terparkir di tepi pantai tersebut.

” Masih adalah ponton, itu sana deket bibir pantai ada yang parkir. Tapi nggak bekerja, soalnya stiknya keatas,” ujar dia. (Randhu)