oleh

Jaga Jarak!

Oleh: Fakhruddin Halim
Sabtu, 11-04-2020

Saya pernah memprotes keras salah satu bank. Mengapa? Pelayanan lambat, yang mengantri cukup banyak. Tempat duduk pun berdempetan. Padahal Covid-19 sedang mewabah.

Saya tiba di salah satu bank pukul 11.15 Wib. Dapat kertas antrian tertulis nomor 29. Begitu saya duduk yang dipanggil nonor antrian 17.

Ruang tunggu bank tersebut tidak begitu besar. Seluruh kursi terisi dengan tempat duduk menyatu sehingga antara satu orang dan lainnya saling bersentuhan.

Yang tak kebagian tempat duduk harus rela mencari posisi yang pas untuk berdiri, termasuk saya.

Hingga pukul 14.00 Wib. Nomor urut antrian saya tidak kunjung dipanggil.

Saya semakin gelisah. Pengunjung terus berdatangan dan berdiri.

Saya protes beberapa kali ke petugas tentang lambannya pelayanan. Petugas hanya minta saya bersabar.

Ada dua posisi teller. Hanya satu orang teller yang tampak. Satunya kemana? Dari keterangan petugas izin karena sakit.

Jadi saya hanya diminta bersabar. Virus corona
Lagi mewabah, bagaimana saya bisa tenang, orang berjubel. Pelayanan lambat.

Saya minta dipertemukan dengan manajer. Tapi petugas tersebut tidak mengizinkan. Kamipun berdebat.

Saya kasihan kepada petugas tersebut. Tampaknya dia merasa barangkali tidak enak kalau mengizinkan saya bertemu dengan manajernya.

Saya pun bisa memakluminya. Saya diminta menulis surat saja dan dimasukkan ke kotak saran yang memang tersedia.

Meski masih merasa kesal, saya menuliskannya di atas selembar kertas.

Dan menuliskan surat yang isinya menjelaskan tentang situasi wabah Covid-19 dan SOP bahaimana lembaga publik dalam memberikan pelayanan dengan memperhatikan Protokol Covid-19.

Karena itu pelayanan kepada nasabah harus lebih cepat atau prima dari biasanya. Jika ada petugas yang berhalangan hadir maka tugas dalam melayani publik harus digantikan petugas lainnya.

Bahkan jika perlu ditambah jumlah petugas yang berhubungan langsung dengan nasabah.

Selain itu, terkait tempat duduk harus dibuat jarak antar satu dan lainnya sesuai dengan SOP yang berlaku.

Dua hal inilah yang menjadi inti dari surat saya.
Setelah melipat kertas dan memasukkannya dalam kota saran, saya keluar dari ruangan tersebut.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 14.20 Wib. Di depan pintu keluar saya masih sempat mendengar nomor urut 24 dipanggil.

Kertas nomor urut 29 yang tadi diambil saya kembalikan kepada petugas yang berjaga di pintu keluar.

Petugas tersebut berkali-kali memohon maaf seraya meletakkan kedua tangannya di dada. Suaranya samar karena terhalang masker yang dikenakannya.

Keesokan harinya saya datang lagi. Sebab, urusan saya memang belum kelar.

Saya melihat suasana baru. Kursi yang berdempetan dikasih lakban warna merah menyilang disetiap salah satu kursi.

Sehingga satu kursi boleh diduduki, satu kursi dilarang duduk, satu kursi berikutnya boleh diduduki.

Jadi antar satu kursi yang satu dengan lainnya berjarak satu kursi.

Di depan teller pun sudah disusun rapi kursi tambahan dengan jarak setiap satu kursi dengan kursi lainnya sekitar satu meter baik ke depan, belakang dan samping kiri kanan.

Petugas pun menyambut saya dengan sangat ramah. Yang antri pun tidak banyak, jumlah petugas yang melayani langsung nasabah sudah bertambah.

Saya dapat kertas nomor urut 7. Ketika saya duduk petugas memanggil nomor urut 5. Sekitar 15 menit kemudian nomor urut 7 dipanggil. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan