BANGKA BARATHEADLINE

Jembatan Beton Diganti Kayu

×

Jembatan Beton Diganti Kayu

Sebarkan artikel ini

BANGKA BARAT — Tahun ini Pemda Bangka Barat berencana membangun dua jembatan, masing – masing di Kecamatan Jebus dan Kelapa.

Sayangnya, karena terbentur keterbatasan anggaran, salah satu jembatan yang semula akan dibangun permanen diganti dengan struktur bahan dari kayu.

Kabid Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bangka Barat, Heriyandi mengatakan, jembatan berbahan kayu tersebut akan dibangun di Kecamatan Jebus, tepatnya di belakang Gereja Hilarius, panjangnya kurang lebih 12 meter.

“Jembatan itu untuk akses pendekat saja, untuk anggarannya cuma Rp. 1,2 miliar saja jadi nggak mungkin dibangun secara permanen. Kalau menganggarkan jembatan beton Rp. 1,2 miliar nggak cukup, jadi mending diganti dengan jembatan kayu,” ujar Heriyandi, Selasa (12/4 ).

Menurut dia, jembatan berbahan kayu tentunya tidak akan menelan biaya besar dan jauh lebih murah dibandingkan jembatan beton. Dengan demikian anggarannya bisa ditekan. Sebab bila jembatan permanen sepanjang 12 meter, perkiraan biaya yang akan dikucurkan berkisar kurang lebih Rp. 3 miliar.

” Kalau jembatan permanen minimal Rp. 250 – 300 juta per meter, jadi kalau 12 meter paling tidak Rp. 3 miliar,” tukasnya.

Dia mengatakan lokasi yang akan dibangun jembatan tersebut merupakan kawasan bekas Tambang Inkonvensional. Setelah dibangun, jembatan tersebut membutuhkan perawatan. Disamping itu jalan yang ada di area tersebut juga harus ditimbun karena bekas galian TI.

Menurut Heriyandi kondisi tersebut sangat berat sehingga dengan dana Rp. 1, 2 miliar tentu tidak cukup bila harus digunakan untuk membangun jembatan permanen.

” Akses jalan membantu, jadi orang – orang dari parit empat gak muter jauh, terus anak-anak mau pergi sekolah juga jadinya tembus ke arah Air Kuang,” imbuhhya.

Namun untuk satu jembatan lainnya di Desa Dendang, Kecamatan Kelapa, dia memastikan akan dibangun jembatan beton atau permanen.

” Ini dilakukan karena keterbatasan anggaran, beton yang di Kelapa kalau panjangnya sekitar 7 meter. Itu akses ke pertanian pangan, jadi memang dibuka untuk akses produksi pertanian masyarakat,” pungkas dia. ( SK )